Aku Wong Ndeso

Banyak orang mengartikan Wong Ndeso adalah orang yang norak, kudet, atau ketinggalan zaman. Di televisi sering digambarkan ketika Wong Ndeso pergi ke kota, akan Gumun (heran) dengan keadaan kota. Gedung-gedung tinggi, tembok berkaca, pintu otomatis, kemacetan, dan lampu-lampu sepeti bintang yang jatuh. Namun benarkah Wong Ndeso seNdeso yang kalian pikirkan?

{]?Secara harfiah Wong Ndeso adalah sebutan bagi orang yang berasal dari desa. Mempunyai aktivitas dan bertempat tinggal di desa. Sebagian besar waktu Wong Ndeso dihabiskan untuk merawat lingkungan alam. Namun Wong Ndeso jaman now bisa kita temukan dengan mudah di kota-kota. Tak jarang pula asal muasal orang kota juga berasal dari Wong Ndeso. Hal ini terbukti ketika hari raya Idul Fitri. Orang kota berbondong-bondong mudik ke kampung halaman.
Wong Ndeso identik dengan pakaian yang dianggap kuno dan tidak mengikuti tren masa kini. Lengan baju panjang dan menggunakan rok panjang serta rambut di kepang yang jika berwisata membawa rantang. Yang dibawa pun rebusan pisang atau gorengan pohung.

Perlu di perhatikan Wong Ndeso mempunyai kehidupan yang sangat simple dan unik. Wong Ndeso tidak membutuhkan penghasilan 10 juta untuk bisa bertahan hidup. Dengan satu karung gabah saja Wong Ndeso bisa hidup dengan empat orang keluarganya selama satu bulan. Mengapa? Karna alam memberikan kehidupan bagi Wong Ndeso. Sisa lahan di samping rumah akan tumbuh bayam, Lombok, bawang, Kunir, jahe, dan rempah-rempah lainnya.

Sistem keamanan Wong Ndeso sangatlah ketat, padahal tidak ada pagar besi menjulang tinggi atau satpam apalagi CCTV. Ada yang mengatakan pagar besinya Wong Ndeso adalah tetangga. Satpamnya Wong Ndeso adalah peronda. CCTV nya Wong Ndeso juga tetangga. Bagaimana sistem kerjanya? Tetanggga Wong Ndeso akan mengamati sepanjang hari keadaan rumah dengan berkumpul (nggosip) di teras rumah. Setiap manusia yang lewat akan dikomentari seperti penyiar sepak bola. Informasi mengalir dengan lancar tanpa koneksi internet. Bahkan hingga hot isue yang terjadi. Malam harinya, kaum lelaki akan ronda hingga pagi. Walaupun sering terdengar teriakan kemenangan bermain gaple atau ejekan kekalahan.

Apakah Wong Ndeso orang kaya? Tidak. Hampir seluruh Wong Ndeso mempunyai penghasilan minim. Januari 2017 Bappenas menyebutkan kemiskinan banyak terjadi pada Wong Ndeso, terlebih lagi petani. Namun Wong Ndeso selalu bahagia. Bukan bahagia dengan kemiskinan tapi karena rasa syukur yang panjatkan kelada Sang Gusti.

Yang paling diutamakan adalah kerukunan warga. Tentrem lan ayem. “Aku makan tetanggaku makan”. Seringkali berbagi makanan adalah hal yang biasa dan dianjurkan. Karena aroma nya tercium hingga ke rumah tetangga. Di desa kelaparan jarang terjadi. Derajat Wong Ndeso akan naik ketika senang berbagi.


Apakah Wong Ndeso mengenal internet? Jaman now, hampir semua Wong Ndeso mempunyai Smartphone. Pak tani saja sudah bisa membeli pupuk secara online. Ibu buruh menggunakan Facebook untuk curhat. Dan banyak anak muda yang menggunakan media sosial untuk stalking mantan. Masih belum yakin? Di balai desa kampungku sudah ada wifi. Hingga jadi tongkrongan hits anak desa.
Menjadi Wong Ndeso adalah suatu kebanggaan. Mempunyai harapan hidup lebih tinggi, aman 24 jam, dan selalu bahagia. Jika ada yang menanyakan apakah Aku Wong Ndeso maka dengan lantang aku mengatakan YA.

Pasar Papringan: Dari Pembuangan Sampah menjadi Pasar Berkah


Jika Anda ke kabupaten Temanggung pada hari minggu Wage atau Pon Anda bisa mengunjungi tempat unik yang satu ini. Terletak di Desa Ngadiprono Kabupaten Temanggung. Letaknya tak jauh dari kota temanggung, hanya membutuhkan waktu 25 menit Anda sudah sampai di desa ini. Lalu apa yang unik di desa ini? Desa ini mempunyai sebuah pasar alam beratapkan tanaman bambu. Seperti pasar pada umumnya terdapat banyak penjual dan pembeli. Barang dagangan yang ditawarkan pun beragam ada sayuran, makanan tradisional, kain batik, dan hasil olahan masyarakat lokal lainnya bahkan terdapat perpustakaan dan taman bermain.
Di dirikan oleh orang-orang yang peduli terhadap eksistensi desa, pasar papringan ini bertujuan untuk mengembalikan desa pada asalanya. Seringkali kita temui desa terasa kota, secara administrasi masuk dalam kota namun secara aktivitas warga menggunakan gaya hidup orang kota. Kolaborasi antara komunitas spedagi dan komunitas lokal mata air ini pasar papringan berdiri. Awalnya memang terasa sulit meyakinkan warga untuk gotong-royong mendirikan sebuah pasar, terlebih jaraknya yang berada di ujung desa membuat nyali warga tidak percaya diri akan berhasil. Namun kedua komunitas tersebut terus berupaya meyakinkan warga dengan melakukan pendampingan-pendampingan. Dengan membagi ke dalam divisi-divisi, masyarakat dengan kemampuan yang dimiliki.
Mulanya, lahan papringan ini adalah tempat pembuangan sampah. Seperti kebanyakan orang, tanaman yang sering dijumpai di belakang rumah ini adakah tempat sampah yang strategis. Padahal bambu ada tanaman penghasil oksigen terbesar. Sangat disayangkan jika bambu hanya menjadi tempat pembuangan akhir. Tidak dapat di sangkal eksistensi tanaman bambu ini setiap tahunya akan mengalami penurunan. Tanaman seribu manfaat ini bisa jadi tidak akan dikenal lagi oleh anak cucu kita. Oleh sebab itu lah, pasar papringan ini berdiri agar pengunjung mendapatakan edukasi dengan cara yang berbeda. Jika kita cermati, ketika berada disana tidak ada nyamuk yang berkeliaran mengganggu pembeli dan pengunjung. Itu dikarenakan cara pemotongan bambu yang benar. Anda bisa melihatnya secara langsung jika datang kesana.