Silabus Sosiologi SMA Kelas XII Kurikulum 2013

kurikulum 2013

Kompetensi Inti             :

KI 1      : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2   : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

KI 3   : Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Continue reading

Silabus Sosiologi Kelas XI Kurikulum 2013

kurikulum 2013

Kompetensi Inti          :

KI 1        : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2     : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

KI 3       : Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

Continue reading

Silabus Sosiologi SMA Kelas X Kurikulum 2013

kurikulum 2013

Kompetensi Inti            :

KI 1      : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2    : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

KI 3     : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah

Continue reading

Tradisi Memperingati Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa di Pudak Payung Kecamatan Banyumanik Kota Semarang

  1. Sejarah Awal Mula Malam Satu Syuro

Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar bin Khathab, seorang khalifah Islam di zaman setelah Nabi Muhammad wafat. Awal dari afiliasi ini, konon untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa. Maka tahun 931 H atau 1443 tahun Jawa baru, yaitu pada zaman pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hirjiyah dengan sistem kalender Jawa pada waktu itu.

Waktu itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menggempur Belanda di Batavia, termasuk ingin “menyatukan Pulau Jawa.” Oleh karena itu, dia ingin rakyatnya tidak terbelah, apalagi disebabkan keyakinan agama. Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan. Pada setiap hari Jumat legi, dilakukan laporan pemerintahan setempat sambil dilakukan pengajian yang dilakukan oleh para penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul ke makam Ngampel dan Giri. Akibatnya, 1 Muharram (1 Suro Jawa) yang dimulai pada hari Jumat legi ikut-ikut dikeramatkan pula, bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut diluar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul.

Continue reading

Kota Semarang

159575_620

Gambaran Umum Kota Semarang

Kota Semarang merupakan kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia. Secara administratif Kota Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan. Dari 16 Kecamatan yang ada, terdapat 2 Kecamatan yang mempunyai wilayah terluas yaitu Kecamatan Mijen dan Kecamatan Gunungpati. Kedua Kecamatan tersebut terletak di bagian selatan yang merupakan wilayah perbukitan yang sebagian besar wilayahnya masih memiliki potensi pertanian dan perkebunan. Sedangkan kecamatan yang mempunyai luas terkecil adalah Kecamatan Semarang Selatan, diikuti oleh Kecamatan Semarang Tengah. Kota Semarang terbagi menjadi berbagai wilayah. Daerah dataran rendah atau biasa dikenal sebagai kota bawah, serta daerah dataran tinggi atau biasa disebut kota atas. Kota atas ini meliputi Kecamatan Candi, Mijen, Gunungpati, Tembalang dan Banyumanik. Sedangkan untuk kota bawah, yaitu berada di daerah sekitar Semarang Utara. Pada bidang demografi, sebagian besar dipengaruhi oleh besarnya penduduk yang datang ke Kota Semarang yang memiliki daya tarik sebagai kota perdagangan, pendidikan, industri, dan jasa.

Sejarah Kota Semarang Continue reading

Fenomena Ahmadiyah ditinjau dari Sosiologi Agama dengan Penjelasan Filosofis

Indonesia lahir dari keragaman budaya, agama, suku, ras, dan golongan. Agama merupakan modal dasar yang dimiliki oleh rakyat dan bangsa Indonesia. Agama sebagai modal rohaniah dan mental, yaitu kepercayaan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan tenaga penggerak yang tidak ternilai harganya bagi pengisian aspirasi-aspirasi bangsa.
Membangun kerukunan antar dan intern umat beragama tentu tidak semudah membalik tangan. Membangun kerukunan umat beragama tentu sangat rumit sebab menyangkut persoalan yang paling berat, yakni mengenai keyakinan agama yang memang meniscayakan perbedaan. Perbedaan keyakinan itulah yang kemudian bisa memicu berbagai konflik yang tidak dapat diredam dengan mudah karena menyangkut persoalan Tuhan yang Maha Suci, sehingga ketika ada orang lain yang berupaya untuk menodainya, maka dapat dipastikan akan terjadi kekerasan sosial, seperti pada fenomena penyerangan sekelompok orang terhadap penganut Ahmadiyah.

Continue reading

Dampak Reklamasi terhadap Perubahan Sosial Budaya dan Ekonomi Masyarakat sekitar Pantai Marina

PENDAHULUAN

Kota Semarang merupakan kota yang berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi di Jawa Tengah, terletak di kawasan pesisir utara Jawa. Seiring dengan perkembangan peradaban, masyarakat membutuhkan lahan-lahan baru dalam kegiatan sosial ekonominya, sedangkan lahan yang ada di daratan makin terbatas. Akibatnya, beban yang harus ditanggung oleh kota Semarang menjadi semakin berat. Sarana dan prasarana serta infrastruktur kota, seperti pemukiman, kawasan industri, ruang publik, perkantoran, maupun pusat-pusat bisnis, mau tidak mau menjadi tuntutan yang harus dipenuhi oleh pemerintah setempat. Laju pertumbuhan memunculkan masalah keterbatasan lahan di kota Semarang. Hal ini memberikan dampak terhadap kepadatan penduduk, yang akhirnya muncul perebutan penguasaan lahan. Oleh karena itu, usaha-usaha dilakukan untuk memperoleh lahan baru, misalnya dengan pemekaran kota yang dilakukan ke arah lahan kosong dan berair dengan cara melakukan pengurukanan atau yang dikenal dengan reklamasi yang dilakukan di Pantai Marina.

Continue reading

Manusia dan Kebudayaan

images (3)

Koentjaraningrat

Review By Frieda Nur Hapsari

2.1 Keanekaragaman Makhluk Manusia dan Kebudayaan

Ada beberapa dasar pandangan di kalangan orang Eropa dalam melihat masyarakat dan kebudayaan makhluk manusia. Pertama, ada yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia memang diciptakan bermacam-macam (polygenesis), dan menganggap orang-orang Eropa berkulit putih merupakan makhluk manusia yang paling baik, sehingga kebudayaan yang dimilikinya juga paling sempurna dan paling tinggi. Kedua, meyakini bahwa sebenarnya manusia itu pernah diciptakan sekali saja (monogenesis), yaitu dari satu makhluk induk, dan bahwa semua manusia di bumi merupakan keturunan Nabi Adam.

Selanjutnya, pemikiran penting yang muncul adalah pandangan Secondat, Montesquieu yang mengatakan bahwa keanekaragaman masyarakat manusia disamping lebih disebabkan sejarah mereka masing-masing, juga akibat dari pengaruh lingkungan alam dan struktur internnya. Oleh karenanya sesuatu unsur atau adat dalam suatu kebudayaan, tidak dapat dinilai dari pandangan kebudayaan lain, melainkan harus dari system nilai yang ada dalam kebudayaan itu sendiri (relativisme kebudayaan).

Manusia dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan, sekalipun manusia akan mati namun kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada keturunannya, demikian seterusnya. Pewarisan kebudayaan tidak hanya terjadi secara vertical kepada anak-cucu mereka, melainkan dapat terjadi secara horizontal yaitu manusia satu dapat belajar kebudayaan dari manusia lainnya. Continue reading