Literasi Media Untuk Kesetaraan Gender Melalui Eksistensi Wanita Karier

Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekontruksi pencitraan media. Secara bahasa, literasi media artinya “melek media” atau “cerdas bermedia”, yaitu kemampuan memahami dunia media massa sehingga kritis dan selektif dalam menerima informasi dari media dan tidak mudah terpengaruh pesan terang-terangan dan terselubung pemberitaan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses. Pada sisi lain, tidak banyak yang tahu bahwa media memiliki kekuasaan secara intelektual di tengah publik dan menjadi medium untuk pihak yang berkepentingan untuk memonopoli makna yang akan dilempar ke publik.

Konsep gender adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan, yang dapat dipertukarkan antara sifat laki-laki dan sifat perempuan yang bisa berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, dan budaya yang berbeda (Eko Handoyo dkk., 2015: 165). Seperti perempuan yang digambarkan lemah lembut, emosional. sementara laki-laki digambarkan sebagai sosok yang kuat, tegas. Tetapi dalam kenyataannya, ada perempuan yang kuat dan tegas. Sementara laki-laki juga ada yang lemah lembut dan emosional.

Kesenjangan gender adalah ketidakadilan peran antara laki-laki dan perempuan dalam mengakses dan melakukan kontrol di setiap aspek kehidupan (Marhaeni, 2011: 2). Dengan adanya kesenjangan gender yang mengakibatkan adanya pandangan rendah terhadap perempuan, maka banyak para aktivis perempuan menuntut adanya kesetaraan gender. Kesenjangan gender ini juga di perparah dengan peran media massa yang tidak mendukung kaum perempuan. Artikel atau berita-berita yang terkait dengan perempuan hanya dimuat pada bulan-bulan tertentu oleh media massa, sehingga ada sebutan “bulan perempuan” (Marhaeni, 2011: 1).

Kesetaraan gender dalam aspek kehidupan, termasuk kehidupan keluarga didasarkan pada adanya perbedaan biologis, aspirasi, kebutuhan masing-masing individu sehingga peran yang dilakukan memiliki perbedaan. “Disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai suatu unit karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya” (Soekanto, 2006: 324). Keseimbangan pembagian peran dalam keluarga dapat mengakibatkan kesetaraan gender.

Wanita karier adalah wanita yang bekerja di luar rumah menghabiskan waktu setengah hari di luar rumah dan bahkan ada yang sampai seharian di luar rumah. Masalah gender yang timbul pada sektor formal adalah bahwa kebanyakan jabatan perempuan berada dilapisan bawah atau lebih rendah dibanding jabatan laki-laki. Hal ini terkait dengan stereotip atau pandangan yang terjadi di tempat kerja yang menganggap bahwa perempuan lebih memiliki tingkat emosional yang tinggi sehingga tidak cocok bila dipekerjakan sebagai pimpinan.

Dengan adanya literasi media dapat dijadikan solusi untuk kesetaraan gender melalui eksistensi wanita karier. Seperti dalam media sosial para wanita melihat reputasi wanita karier yang begitu menarik dapat menjadikan para wanita tertarik untuk menjadi wanita karier. Setelah seorang perempuan menjadi wanita karier, kedudukannya akan setara dengan laki-laki yaitu: sama-sama bekerja, yang kemudian terjadi keseteraan gender.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.komunikasipraktis.com/2017/01/pengertian-literasi-media-latar.html?m=1, 29 Mei 2017.

Eko Handoyo, dkk.2015. Studi Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Marhaeni, Tri Pudji Astuti.2011. Konstruksi Gender dalam Realitas Sosial. Semarang: Unnes Pres.

Soekanto, Soerjono.2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

 

Tulisan ini dipublikasikan di Artikel Kuliah SosAnt. Tandai permalink.

2 Balasan pada Literasi Media Untuk Kesetaraan Gender Melalui Eksistensi Wanita Karier

  1. dari postingan ini dapat memberi sedikit pengetahuan tentang kesetaraan gender

  2. Lya berkata:

    tulisan yang bagus, selain argumen pribadi juga di tampilkan sumber lain untuk mnguatkan tulisan dengan tetap mencantumkan daftar pustaka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: