1. SOS XII BAB 3KETIMPANGAN SOSIAL

Ketimpangan sosial dapat diartikan sebagai adanya ketidakseimbangan atau jarak yang terjadi ditengah-tengah masyarakat yang disebabkan adanya perbedaan status sosial, ekonomi, ataupun budaya. Ketimpangan sosial dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor penghambat, sehingga mencegah dan menghalangi seseorang untuk memanfaatkan akses atau kesempatan-kesempatan yang tersedia.

Menurut Andrinof A. Chaniago ketimpangan adalah buah dari pembangunan yang hanya berfokus pada aspek ekonomi dan   melupakan aspek sosial. Menurut Budi Winarno, ketimpangan merupakan akibat dari kegagalan   pembangunan di era globalisasi untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikis warga masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa ketimpangan sosial merupakan suatu ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat  dalam status dan kedudukan .

Faktor – faktor Penyebab Ketimpangan Sosial

  1. Kondisi Demografis
  • Demografi : ilmu yang mempelajari tentang      masalah kependudukan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
  • Kondisi demografis antara masyarakat satu     dengan yang lain memiliki perbedaan.
  • Perbedaan antara masyarakat satu dengan yang lain tersebut berkaitan dengan yaitu Jumlah penduduk, Komposisi penduduk, Persebaran penduduk.
  1. Kondisi Pendidikan
  • Pendidikan merupakan kebutuhan untuk semua orang
  • Pendidikan: merupakan sosial elevator, yaitu saluran mobilitas sosial vertikal yang efektif.
  1. Kondisi Kesehatan

Ketimpangan sosial dapat disebabkan oleh fasilitas kesehatan yang tidak merata di setiap daerah, jangkauan kesehatan kurang luas, pelayanan kesehatan yang kurang memadai, dsb.

  1. Kondisi Ekonomi

Faktor ekonomi sering dianggap sebagai penyebab utama munculnya ketimpangan sosial. Ketimpangan ini timbul karena pembangunan ekonomi yang tidak merata Ketidakmerataan pembangunan ini disebabkan karena perbedaan antara wilayah yang satu dengan yang lainnya.

  1. KETIMPANGAN SOSIAL DI MASYARAKAT
  2. Penyebab Ketimpangan Sosial di Masyarakat;

Terjadi karena adanya perbedaan sosial dan stratifikasi sosial yang sangat mencolok.

  1. Ancaman Ketimpangan Sosial di Masyarakat;

Ketimpangan sosial ini akan berakumulasi dan bersinergi dengan berbagai persoalan masyarakat yang kompleks, yang pada akhirnya akan mengganggu proses pembangunan ekonomi.

  1. KETIMPANGAN SOSIAL DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Randall Collins dalam The Credential Society: An Historical Sociology of Education and Stratification, mengemukakan bahwa justru pendidikan formal merupakan awal dari proses stratifikasi sosial itu sendiri. Di Indonesia hal ini didukung oleh adanya pola perjalanan sekolah anak yang berbeda dari kalangan keluarga mampu dan miskin.

  1. Lingkungan Sekolah yang Tidak Berkualitas, lingkungan pendidikan yang bisa didapat oleh orang miskin dan kaya atau kota dan desa.
  2. Kurangnya Kesempatan Memperoleh Pendidikan yang Berkualitas, wujud input yakni kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas akan berakibat pada input yakni kualitas hasil pendidikan.
  3. Kualitas Lulusan yang Kurang Memadai, baik dalam nilai akhir ujian ataupun kualitas kemampuan lulusan.
  4. Fasilitas Pendidikan yang Tidak Sama, Ketimpangan output sebenarnya dapat dijelaskan lewat ketimpangan input berupa ketersediaan fasilitas pendidikan, rasio guru-siswa, dan kualitas guru.
  5. Macam-macam Ketimpangan Sosial dalam Pendidikan, berdasarkan dua dimensi tersebut ketimpangan kelompok dapat dikelompokkan dalam empat varian. Pertama, ketimpangan input dalam ukuran individual. Kedua, ketimpangan input dalam ukuran kelompok. Ketiga, ketimpangan output dalam ukuran individual. Keempat, ketimpangan output dalam ukuran kelompok.
  6. Upaya Mengatasi Ketimpangan dan Peningkatan Mutu Pendidikan, upaya untuk mengurangi ketimpangan sosial harus dimulai dari lembaga pendidikan, salah satunya dengan penggunaan metode cooperative learning.
  7. KETIMPANGAN SOSIAL AKIBAT DARI PERUBAHAN SOSIAL DI TENGAH-TENGAH GLOBALISASI

Dalam kehidupan ekonomi global, berlaku hukum the survival of the fittest sehingga siapa yang memiliki modal yang besar akan semakin kuat dan yang lemah akan tersingkir. Pemerintah hanya sebagai regulator dalam pengaturan ekonomi yang mekanismenya akan ditentukan oleh pasar. Sektor-sektor ekonomi rakyat yang diberikan subsidi semakin berkurang (dalam pandangan ekonomi kapitalis, subsidi adalah inefisiensi), koperasi semakin sulit berkembang, penyerapan tenaga kerja dengan pola padat karya sudah semakin ditinggalkan.

Sebagai sebuah sistem yang berlaku dan berjalan tanpa batas teritorial negara yang implementasinya dapat berupa ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain sebagainya. Permasalahan di sebuah negara, misalnya pengangguran, bukanlah sekedar merupakan dampak dari minimnya keterampilan seorang individu, melainkan dampak sistemik dari perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan akibat globalisasi, seperti

  1. Perubahan teknologi (mesin-mesin baru). Perubahan teknologi atau digunakannya mesin-mesin baru dalam proses produksi, mengakibatkan hanya orang-orang yang memikiki pengetahuan atau keterampilan yang memadai yang dapat terlibat dalam proses produksi.
  2. Perubahan cara kerja (efisiensi). Perubahan cara kerja dapat dilakukan dengan perampingan birokrasi atau struktur organisasi perusahaan.
  3. Pekerjaan dilakukan di tempat/negara lain (globalisasi). Apabila sebuah perusahaan merasakan ancaman atau ketidaknyamanan, maka dapat jadi pengusaha akan memindahkan perusahaannya di negara lain.
  4. Perubahan politik (kebijakan pemerintah), misalnya dihilangkannnya proteksi dan subsidi. Sesuai dengan perjanjian WTO, negara-negara tidak boleh melakukan proteksi terhadap produksi dalam negerinya, misalnya dengan melakukan larangan import produk tertentu yang mengancam produksi dalam negeri.
  5. Perubahan budaya (dibutuhkan produk yang berbeda). Perkembangan Teknologi Informasi yang sangat cepat memudahkan orang-orang dari negara atau bangsa manapun dapat mengakses informasi dengan mudah dan bebas. Kemudahan akses informasi menjadikan orang-orang mengetahui produk lain yang mungkin saja lebih menarik, lebih bermutu, dan sebagainya, sehingga produk itulah yang dikonsumsi. Perusahaan yang tidak dapat menyesuaikan hasil produksinya dengan berubahnya kebutuhan masyarakat akan mengalami kebangkrutan. Akibatnya adalah pengangguran dan kemiskinan di sebagian masyarakat.

Mudahnya nilai-nilai barat yang masuk melalui media komunikasi dan informasi publik yang berupa antena parabola, televisi, media cetak, dan internet mendorong terjadinya homogenisasi kebudayaan. Simbol-simbol kebudayaan cenderung seragam ditentukan oleh kebudayaan dominan, yaitu Barat. Mengapa Barat? Karena pendukung budaya inilah yang menguasai teknologi komunikasi dan informasi. Maka dalam hal ini globalisasi juga menimbulkan ketimpangan kebudayaan.

Daftar Pustaka :

Mulyadi, Yad dkk. 2014. Sosiologi SMA Kelas XII. Yudhistira. Jakarta.

Santoso, Agus.2015. Perubahan Sosial, Globalisasi dan Pemberdayaan Komunitas Lokal, Ketimpangan Sosial Akibat Perubahan Sosial dan Globalisasi, Keraifan Lokal dan Pemberdayaan Masyarakat.https://agsasman3yk.wordpress.com/2015/08/04/perubahan-sosial-globalisasi-dan-pemberdayaan-komunitas-lokal-ketimpangan-sosial-akibat-perubahan-sosial-dan-globalisasi-kearifan-lokal-dan-pemberdayaan-masyarakat/

 (Diunduh pada tanggal 19 Desember 2015 pukul 14:32).

http://blog.unnes.ac.id/maulida27/