Viewers

website hit counter

MATERI SOSIOLOGI KELAS XI BAB 3: PERBEDAAN, KESETARAAN DAN HARMONI SOSIAL

Manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu berkaitan dengan konsep kesetaraan dan keragaman. Konsep kesetaraan (equity) bisa dikaji dengan pendekatan formal dan pendekatan substantif. Pada pendekatan formal kita mengkaji kesetaraan berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku, baik berupa undang-undang, maupuin norma, sedangkan pendekatan substantif mengkaji konsep kesetaraan berdasarkan keluaran / output, maupun proses terjadinya kesetaraan.

Konsep kesetaraan biasanya dihubungkan dengan gender, status, hirarki sosial, dan berbagai hal lainnya yang mencirikan perbedaan-perbedaan serta persamaan-persamaan. Sedangkan konsep keragaman merupakan hal yang wajar terjadi pada kehidupan dan kebudayaan umat manusia. Kalau kita perhatikan lebih cermat, kebudayaan Barat dan Timur mempunyai landasan dasar yang bertolak belakang. Kalau di Barat budayanya bersifat antroposentris (berpusat pada manusia) sedangkan Timur, yang diwakili oleh budaya India, Cina dan Islam, menunjukkan ciri teosentris (berpusat pada Tuhan.
Dengan demikian konsep-konsep yang lahir dari Barat seperti demokrasi, mengandung elemen dasar serba manusia, manusia-lah yang menjadi pusat perhatiannya. Sedangkan Timur mendasarkan segala aturan hidup, seperti juga konsep kesetaraan dan keberagaman, berdasarkan apa yang diatur oleh Tuhan melalui ajaran-ajarannya.
Penilaian atas realisasi kesetaraan dan keragaman pada umat manusia, khususnya pada suatu masyarakat, dapat dikaji dari unsur-unsur universal kebudayaan pada berbagai periodisasi kehidupan masyarakat.
1. Pengertian keragaman
Terkait dengan perubahan, pekerjaan pun mulai banyak yang berubah. Disini, penulis akan melihat keragaman baik dari sisi manusia/pekerja maupun dari sisi pekerjaan itu sendiri. Keragaman mempunyai sudut pandang yang sangat berbeda bila dilihat dari sisi manusia. Keragaman manusia bisa diartikan sebagai banyaknya perbedaan yan terjadi diantara orang-orang/pekerja. Ini menyangkut jenis kelamin, warna kulit, suku, bahkan sampai pada bentuk fisik.
Dari sisi pekerjaan, dilihat bahwa arti keragaman hanya akan menyangkut banyaknya perbedaan pekerjaan yang ada. Baik dari berapa banyak pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang atau berapa banyak pekerjaan yang ada untuk seseorang.
Disini penulis akan membahas pengertian keragaman dalam pekerjaan dari sisi manusia/pekerja.
2. Mengelola Keragaman
Manajemen melihat keragaman dari banyak sisi – keragaman manusia/pekerja. Banyak pakar yang berkata bahwa keragaman dibagi menjadi : keragaman usia, cacar tubuh, jenis kelamin, status, ras, sampai pada operasi seksual.
Keragaman yang disebut diatas merupakan keragaman yang terjadi dalam lingkungan pekerjaan. Manajemen melihat ini sebagai pertimbangan strategis SDM.
Keragaman pun memunculkan masalahnya sendiri, dua masalah umum tentang keragaman adalah budaya organisasional bermusuhan dengan yang dirasakan pekerja dan masalah stereotip.
Banyak masalah mengenai budaya organisasi yang dirasa bermusuhan datang dari sebagian orang yang dilindungi oleh undang-undang. Masalah ini bisa diatasi dengan melakukan usaha untuk menciptakan budaya yang bersifat memihak dan tidak merugikan orang/kelompok lain.
Masalah lain timbul karena streotip – penyebarann berita yang negatif – didasarkan pengalaman masa lalu sekelompok orang dan berusaha mempengaruhi orang lain.
3. Kesetaraan dalam kehidupan masyrakat
Tentukan kesetaraan mungkin belum beberapa abad terkhir ini dimulai oleh manusia. Tentunya seruan dengan suara kecil malah hampir tidak terdengar, pada ribuan tahun yang lalu sudah ada. Tingkatannya rakyat jelata, tetapi bekeinginan untuk sepadan dengan para bangsawan, dengan para orang kaya serta berkuasa bahkan menjadi anggota kalangan Sang Baginda kaum yang sedang atau beruntug.
Sudah adakah yang sebaliknya ? Mungkin saja prnah ada dan contohnya bias kita ambil misalnya saja seorang raja yang hidup seperti rakyat biasa, seorang pemimpin atau kalifah yang amat merakyat. Mungkin yang dijalani oleh Siddaharta Gautama budha adalah seperti iit, seorang yang dilahirkan sebagai anak orang raja suddhodana yang memimpin shkya. Daerah kekuasaan raja suddhodana, terletak didaerah yang pada zaman sekarang dikenal dengan nama Negara Nepal. Presiden Iran Achmad Dinejad adalah contoh yang paling mengena. Seorang penguasa seperti dia, masih hidup dirumahnya yang kecil sejak dia masih Dosen, tidur bukan di atas tempat tidur, tetapi diatas kasur yang digelar dilanta, kalau bersembayang didalam masjid, dia duduk dimana saja, ditengah jemah lain, tidaka menuju kesaf paling depan seperti presiden Indonesia yang selalu begitu.
Kalau sekrang ini ada yang meneraikan kesetaraan munkin sekali adalah mungkin karena jurang yang memisahkan kaum yang merasa dirinya tidak setara dengan kaum yang ingin disertai, semakin curam dan semakin lebar saja. Kesetaraan ini tidak akan muncul dan berkembang dalam susunan masyarakat yang didirikan di atas paham domonasi dan kekuasaan satu kelompok terhadap kelompok lain. Republic kita yang sudah berumur tua untuk ukuran manusia, 65 tahun saja tidak ada keadilan dalam kehidupan bangsa. Keadaan adil dan makmur yang menjadi idaman seluruh rakayat Indonesia tidak pernah dating sampai sekarang dan kemungkinan besar juga dimasa yang akan dating depan nanti.
Untuk mencapai kesetaraan itu sebaiknya dengan cara menaikan derajat, peringkat, kondisi serta kemampuan, serta kondisi setiap perorangan ketingkat yang diingininya, dengan upya sendri-sendri untuk tahap awal. Ini adalah satu-satunya jalan. Jangan mengajak teman sejwak terlebih dahulu hanya untuk membenruk mass-mass forming. Mass forming seprti ini akan solid utuh kalau para pembentuknya memang mempunyai peringkat yang setara dan sepadan. Kalau isi para pembentuknya tidak sama kemampuannya, visinya dan tugasnya, maka masa yang terbentuk akan tidak utuh serta mudah tercerai-berai. Yang mmiluhkan adalah bahwa setiap orang yang mempunyai ambisi untuk menggerakan massa untuk mencapai kesetaraan, kurang mengamati sekelilingnya sendiri.
Dengan identitas pluralis dan multkulturalis bangunan interaksi dan relasi antara manusia Indonesia antara manusia akan berifat setara. Paham kesetaraan akan menandai cara berpikir dan berperilaku bangsa Indonesia, apabila setiap orang Indonesia berdidri atas realitas bangsanya yang plural dan multicultural itu. Identitas kesetaraan ini tidak akan muncul dan berkembang dalam susunan masyrakat yang didirikan atas paham dominasi dan kkuasaan satu kelompok terhadap kelompok yang lain. Kesetaraan merupakan identitas nasional Indonesia.
SOAL PENGAYAAN:
1. Dari materi yang telah diperoleh, apa saja upaya yang dilakukan agar tercipta harmoni sosial?
2. Carilah contoh harmoni sosial yang ada disekitar tempat tinggal kalian!

Sumber :
Herimanto Drs. M Pd Msi – Winarno S pd Msi .2010 . Ilmu Sosial & Budaya dasar Bumi Aksara. Jakarta
Internet. http id.wikipedia.org/wiki /manusia
———-.http://.id.wikipedia.org/wiki /Bineka_Tunggal_Ika
Supartono W,Drs.2004. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Ghalia Indoneesia

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: