Viewers

website hit counter

SOSIOLOGI PEMBANGUNAN: PEMBANGUNAN DI SEKARAN, GUNUNG PATI

Secara administratif, Sekaran merupakan sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Sekaran terletak di bagian selatan Kota Semarang yang didominasi oleh kawasan pertanian karena terletak di kawasan Semarang atas yang dekat dengan Kabupaten Semarang. Sekaran pada saat ini merupakan kelurahan yang tengah berkembang dengan pesat.

Keberadaan Sekaran pada saat ini menjadi sangat penting karena Sekaran merupakan pusat pengembangan pendidikan dengan dibangunnya Universitas Negeri Semarang di kawasan Sekaran. Kelurahan Sekaran memiliki luas wilayah 490.718 ha. yang terbagi atas 26 Rukun Tetangga (RT) dan tujuh Rukun Warga (RW). Berdasarkan data pada tahun 2008, jumlah penduduk Sekaran adalah 6.057 jiwa. Jumlah penduduk ini merupakan jumlah yang paling banyak di Kecamatan Gunungpati. Sekaran terbagi atas empat dukuh, yakni Dukuh Sekaran, Dukuh Banaran, Dukuh Bantar Dowo, dan Dukuh Persen. Kelurahan Sekaran berbatasan dengan Kelurahan Sukorejo di sebelah utara. Di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Srondol Kulon. Disebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Patemon, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Kalisegoro. Perkembangan yang pesat ini telah menunjukkan tanda-tanda perkembangan menjadi kawasan kota dengan penduduk yang heterogen, dihuni secara padat oleh penduduk yang beraneka ragam dari segi pekerjaan, pendidikan, dan gaya hidup, ketersediaan berbagai fasilitas yang memudahkan masyarkat dalam memenuhi kebutuhan, dan sebagainya. Perkembangan Sekaran menuju sifat-sifat kota disebabkan adanya Universitas Negeri Semarang yang didirikan di kawasan tersebutpada sekitar tahun 1990-an. Namun demikian, pada dasarnya sebelum berdirinya Universitas Negeri Semarang yang banyak memberikan perubahan sosial ekonomi dalam kehidupan masyarakat Sekaran, dahulu masyarakat bermata ppencaharian sebagai petani. Setelah adanya Universitas Negeri Semarang sedikit demi sedikit mata pencaharian masyarakat Sekaran menjadi berubah. Hal ini tentu saja berdampak besar pada perubahan sosial ekonomi di dalam masyarakat Sekaran.
BAGIAN II (TEORI)
Teori Ketergantungan atau dikenal teori depedensi adalah salah satu teori yang melihat permasaalahan pembangunan dari sudut Negara Dunia Ketiga. Menurut Theotonio Dos Santos, Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan di mana kehidupan ekonomi negara–negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara–negara lain, di mana negara–negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Aspek penting dalam kajian sosiologi adalah adanya pola ketergantungan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya dalam kehidupan berbangsa di dunia. Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara pinggiran. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensi mewakili ”suara negara-negara pinggiran” untuk menentang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju.
Awal mula teori ketergantungan (Dependency Theory) dikembangkan pada akhir tahun 1950-an oleh Raul Presibich (Direktur Economic Commission for Latin America, ECLA). Dalam hal ini Raul Presbich dan rekannya bimbang terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju yang tumbuh pesat, namun tidak serta merta memberikan perkembangan yang sama kepada pertumbuhan ekonomi di negara-negara miskin. Bahkan dalam kajiannya mereka mendapati aktivitas ekonomi di negara-negara yang lebih kaya sering kali membawa kepada masalah-masalah ekonomi di negara-negara miskin.
Lahirnya teori dependensi juga merupakan merupakan jawaban atas krisis teori Marx ortodoks di Amerika Latin. Menurut Marxsis ortodoks, Amerika Latin harus melihat tahap revolusi industri “borjuis” sebelum melampaui revolusi sosialisasi proletar. Namum demikian revolusi Republik Rakyat Tiongkok tahun 1949 dan Revolusi Kuba pada akhir tahun1950-an mengajak pada kaum cedikiawan bahwa negara dunia ketiga tidak harus selalu mengikuti tahap-tahap perkembangan tersebut. Tertarik pada model pembangunan RRC dan Kuba, banyak intelktual radikal di Amerika latin berpendapat bahwa negara-negara di Amerika Latin dapat saja berlangsung menuju dan berada pada tahapan revolusi sosialis.
Teori dependensi ini segera menyebar dengan cepat dibelahan Amerika Utara pada akhir tahun 1960-an oleh Andre Gunder Frank, yang kebetulan berada di Amerika Utara pada tahun 1960-an. Di Amerika Serikat teori ini memperoleh sambutan hangat, karena kedatangannya hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya kelompok intelektual muda radikal, yang tumbuh dan berkembang subur pada massa revolusi kampus di Amerika Serikat, akibat pengaruh kegiatan protes antiperang, gerakan kebebasan wanita, dan menyebarnya kerusuhan rasial pada pertengan tahun 1960 yang diikuti oleh inflasi kronis, develuasi mata uang dollar Amerika dan perasaan kehilangan kepercayaan diri pada masa awal tahun 1970-an, menyebab hilangnya kenyakinan landasan moral Teori modernisasi.
Prebisch mengkritik keusangan konsep pembagian kerja secara internasional yaitu Internasional Division of Labor (IDL). IDL lah menurut Presbich yang menjadi sebab utama munculnya masalah pembangunan di Amerika Latin. Adanya teori pembagian kerja secara internasional (IDL), yang didasarkan pada teori keunggulan komparatif, membuat negara-negara di dunia melakukan spesialisasi produksinya. Oleh karena itu, negara-negara di dunia terbagi menjadi dua kelompok, yaitu negara-negara center/pusat yang menghasilkan barang industri dan negara-negara pheriphery/pinggiran yang memproduksi hasil-hasil pertanian. Keduanya saling melakukan perdagangan, dan menurut teori ini, seharusnya menunjukan hal yang sebaliknya. Negara-negara center yang melakukan spesilisasi pada industri menjadi kaya, sedangkan negara pengirian (pheriphery) tetap saja miskin. Padahal seharusnya kedua negara sama kaya karena perdagangannya saling menguntungkan.
Analisis Raul Prebisch terhadap kemiskinan negara pingiran
Terjadi penurunan nilai tukar komoditi pertanian terhadap komoditi barang industri. Barang industri semakin mahal dibanding hasil pertanian, akibatnya terjadi defisit pada neraca perdagangan negara pertanian bila berdagang dengan negara industri.
Negara-negara industri sering melakukan proteksi terhadap hasil pertanian mereka sendiri, sehingga sulit bagi negara pertanian untuk mengekspor ke sana (memperkecil jumlah ekspor negara pinggiran ke pusat).
Kebutuhan akan bahan mentah dapat dikurangi dengan penemuan teknologi lama yang bisa membuat bahan mentah sintetis, akibatnya memperkecil jumlah ekspor negara pinggiran ke negara pusat.
Kemakmuran meningkat di negara industri menyebabkan kuatnya politik kaum buruh. Sehingga upah buruh meningkat dan akan menaikan harga jual barang industri, sementara harga barang hasil pertanian relatif tetap.
Solusi yang ditawarkan Raul Prebisch
Presbich berpendapat negara-negara yang terbelakang harus melakukan industrialisasi, bila mau membangun dirinya, industrialisasi ini dimulai dengan Industri Substitusi Impor (ISI). ISI dilakukan dengan cara memproduksi sendiri kebutuhan barang-barang industri yang tadinya di impor untuk mengurangi bahkan menghilangkan penyedian devisa negara untuk membayar impor barang tersebut. Pemerintah berperan untuk memberikan proteksi terhadap industri baru. Ekspor bahan mentah tetap dilakukan untuk membeli barang-barang modal (mesin-mesin industri), yang diharapkan dapat mempercepat indrustrialisasi dan pertumbuhan ekonomi. Bagi Presbich campur tangan pemerintah merupakan sesuatu yang sangat penting untuk membebaskan negara-negara pinggiran dari rantai keterbelakangannya.
SUMBER:
BERDIRINYA DESA SEKARAN ABAD 17
https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_ketergantungan

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: