• Saturday, January 01st, 2022

 

Salat Jumat

Oleh Agung Kuswantoro

 

Melakukan salat Jumat bagi anak laki-laki berusia 7 tahun hingga 10 tahun, bukanlah hal yang mudah. Misal: dilakukan pada siang hari jam 12.00 WIB dimana fisik untuk jalan kaki agar bisa pergi ke masjid, membutuhkan kesabaran untuk mendengarkan khutbah Jumat, dan kondisi anak dimana jam 12.00 WIB adalah jam istirahat dan makan.

 

Dari alasan-alasan tersebut, saya sebagai orang tua – perlu strategi agar anak mau dan tertarik untuk berlatih salat Jumatan.

 

Saya sendiri pun, harus menyiapkan fisik dan waktu agar bisa menemani kedua anak saya – Mubin dan Syafa’ – Jumatan. Saya usahakan pulang rumah agar bisa mengajak Mubin dan Syafa’ Jumatan.

 

Biasanya saya pulang istirahat lebih gasik – sebelum jam 11.00 WIB—agar bisa mempersiapkan salat Jumat. Maksimal berangkat dari rumah jam 11.30 WIB. Setelah itu, kami berangkat ke masjid.

 

Saya pun tidak asal memilih masjid untuk Jumatan. Prinsipnya, masjid yang ramah anak untuk Jumatan. Misal: protokol kesehatan diperhatikan, ada saf/barisan anak, kebersihan masjid terjamin, khutbah tidak terlalu lama, dan nyaman untuk salat Jumat.

 

Mungkin indikator-indikator masjid yang berkriteria sempurna itu, tidak banyak. Minimal: terkelola, masjidnya. Mengapa saya “ketat” dalam “pemilihan masjid”? karena, salat Jumat “membawa”/mengajak anak itu repot. Jadi, saya harus mengambil resiko terkecil, saat saya di masjid bersama Mubin dan Syafa’. Berjuang, simpelnya, saat “membawa”/mengajak Mubin dan Syafa’ untuk Jumatan.

 

Dulu, saya juga merasakan sendiri sebagai anak yang ingin Jumatan. Saya dulu ingin sekali Jumatan. Sampai-sampai ikut orang dewasa – yang notabene tetangga rumah – agar bisa Jumatan. Beliau bernama Bapak Syarif.

 

Tiap jam 11.00 WIB, saya datang ke rumahnya agar saya bisa salat Jumat. Saya selalu dengan beliau, ketika Jumatan. Karena, Bapak saya sudah meninggal dunia sejak saya di kandungan. Jadi, saya harus ikut orang dewasa saat Jumatan.

 

 

Pengalaman kecil saya saat Jumatan menjadikan pengalaman hidup yang sangat berharga untuk anak saya, sehingga saya berusaha menemani  Mubin dan Syafa’ agar bisa salat Jumatan.

 

Yuk latih dan dampingin anak-anak kita agar kelak mereka menjadi anak saleh. Amin. []

 

Semarang, 31 Desember 2021

Ditulis Di Rumah jam 14.30 – 14.45 WIB

 

 

• Wednesday, December 29th, 2021

Salat “Gempa”
Oleh Agung Kuswantoro

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (apabila mereka menolak) pada saat mereka berumur sepuluh tahun”(HR. Abu Dawud).

Dalam pemahaman saya: hadis di atas, bukanlah hadist yang berasal dari Abu Hurairah dan Imam Muslim. Artinya, jika hadist tersebut diriwayatkan oleh kedua Imam Hadist (Abu Hurairah dan Imam Muslim), maka taraf “kevaliditasnya” sangat tinggi. Namun, dari beberapa keterangan, bahwa urutan Imam Hadist setelah Abu Hurairah dan Imam Muslim adalah Imam Abu Dawud. Bisa diartikan hadist pada paragraf di atas memiliki “kevaliditas” yang baik. Sehingga, sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita disunahkan untuk mengikutinya.

Adalah Mubin yang ingin belajar mengikuti Sunah Nabi Muhammad SAW dari hadist tersebut. Tidak hanya Mubin, saya pun ingin mengikuti ajaran tersebut. Jika Mubin sebagai anak – sekaligus orang yang berusia tujuh tahun (lebih) – sedangkan saya—selaku orang tua – yang berusia tiga puluh sembilan tujuh tahun. Jadi, saya sebagai orang tua, sedangkan Mubin sebagai anak. Mubin berposisi sebagai yang “diperintah”, sedangkan saya berposisi sebagai yang “memerintah”.

Melihat konteks hadist di atas, ada perintah yang secara tidak langsung/tersembunyi yaitu: orang tua. Kalimat “pukullah” itu, muncul pertanyaan: “Siapa yang memukul?” Dalam pandangan saya adalah orang tua. Bukan, orang lain (baca: orang tua dari selain anak tersebut) dan (bukan) sesama anak yang memukul. Penekanannya anak yang memukul. Penekanannya berarti bukan orang tua dari anak tersebut dan teman anak tersebut. Lalu siapa? “Orang tua anak tersebut!”, jawabnya.

Saya sebagai orang tua yang sedang belajar: untuk mempraktikkan hadist di atas, bukanlah hal yang mudah. Artinya: sebelum “memerintahkan” untuk salat, maka secara “otomatis” salat saya, itu sudah benar dan terpenuhi/terlaksana lima waktunya. Tidak cukup lima waktunya saja yang saya lakukan, tetapi salat sunah penyerta salat wajib (sunah kobliyah/bakdiyah dan salat sunah lainnya.

Bisa dikatakan: “Aku wis ngelakoni” (baca: aku sudah melakukan) dari apa yang saya perintahkan. Menjadi tidak tepat dan “lucu”, jika orang memerintahkan salat, tetapi yang orang memerintah salat, belum pernah salat. Ibarat ada guru renang. Seharusnya, guru renang tersebut sudah bisa berenang dan sudah praktik berenang di kolam renang. Baru, menyuruh siswanya berenang di kolam renang tersebut.

Kembali ke judul di atas: salat “gempa”. Salat “gempa”, hanya istilah saya yang digunakan kepada Mubin, saat salat. Salat sejatinya dilakukan dengan berdiri, rukuk, sujud, duduk diantara dua sujud, duduk tahyatul awal dan akhir, dan salam.

Alhamdulillah gerakan tersebut untuk salat tertentu bisa dilakukan. Salat yang biasa, Mubin lakukan dengan gerakan sempurna yaitu: Subuh, Dhuhur, Asar, dan Maghrib. Yang sering—menjadi tantangan untuk salat dengan gerakan belum sempurna—adalah salat Isya. Dimana, (mungkin) sudah malas, ia “menawar” kepada saya dengan salat gempa, salat 1 rakaat, atau salat sambil tidur.

Saya kenalkan dulu salat “gempa”. Salat “gempa” dilakukan dengan sedikit melompat ke bumi saat sujud. Sehingga, lantai yang dibuat sujud terasa bergetar dan berbunyi “drup”. Salat 1 rokaat adalah salat yang dilakukan 1 rokaat dengan gerakan dan bacaan sempurna. Total rokaat yang seharusnya dari salat 1 rokaat adalah 4 rokaat. Bisa dikatakan diringkas menjadi 1 rokaat dari 4 rokaat. Terakhir, salat sambil “tidur”. Mubin jika kondisi sudah (mungkin) capek/malas, biasanya juga salat sambil tidur dengan jumlah rokaat sempurna.

Bagi saya, Mubin sudah melakukan salat “gempa”, 1 rokaat dan salat sambil “tidur” itu, sudah alhamdulillah. Itulah pembelajaran bagi dia dan saya. Saya “memerintahkan” salat, disampingnya saya melakukan salat.

Ketika dia melakukan salat sambal “tidur”, salat “gempa”, dan 1 rokaat – saya pun melakukan sholat secara sempurna—dengan jumlah rokaat dan gerakan disampingnya. Bisa dikatakan: ia “makmum” saya.

Memang, belajar salat itu bukanlah hal mudah. Mumpung anak-anak, harus dilatih. Coba bayangkan latihan salat saat sudah dewasa atau berumur tua. Bisa jadi, yang “memerintah” salat itu, dibentak. Mengapa? Karena tidak terima dan yang bersangkutan mililki tenaga yang kuat.

Bandingkan saat anak-anak, ketika diperintahkan salat. Bisa jadi, langsung melakukannya. Saat menolak perintah salat, tenaga anak belum sebesar anak dewasa untuk melawannya. Jadi, penolakan dari perintah salat itu, resikonya lebih kecil.

Nah, itulah cara saya dalam belajar salat dengan anak saya. Semoga Allah mengampuni dosa saya karena saya telah memberikan izin/membolehkan Mubin untuk salat sambil “tidur”, salat “gempa”, dan 1 rokaat.

Yuk, mari belajar salat yang baik dimulai dari diri pribadi. Janganlah untuk “memerintah” salat ke orang lain, tetapi memerintah ke diri sendiri dulu. []

Semarang, 27 Desember 2021
Ditulis Dirumah jam 04.30 – 05.00 WIB.

• Tuesday, December 21st, 2021

Menata Diri (7): Membiasakan Sikap Tawadhu
Oleh Agung Kuswantoro

Saat kita berjalan kaki, lalu melihat sekumpulan orang yang sedang naik mobil mewah, lantas apa yang kita lakukan? Jika kita diam saja, maka bisa jadi kita sudah menempatkan diri sesuai dengan keadaan secara wajar. Artinya: kita tidak merendahkan dan melebihkan diri. Meminjam istilah Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA (2021), bahwa menempatkan diri pada tempat sewajarnya bernama tawadhu.

Kata tawadhu dalam bahasa Indonesia itu tidak ada padanannya. Tawadhu berasal dari kata wadho’a yang artinya: meletakkan/menempatkan. Lawan kata dari tawadhu adalah sombong, angkuh, dan congkak.

Contoh sederhana tawadhu seorang anak yaitu: ketika bercerita dengan teman sebayanya adalah bercerita tentang mainan atau bermain fisik. Anak tidak bercerita kepada teman sebayanya tentang pergi ke mall atau bercerita film TV/game HP yang ia lihat sendiri, tanpa sepengetahuan/perhatian orang tua.

Anak yang menceritakan pengalaman pergi ke mall itu ranah orang tua/dewasa. Cerita TV/game HP itu “identik” dengan cerita orang dewasa. Artinya: cerita anak tersebut, bukan pada kedua ranah/tentang itu (mall dan TV/game HP). Cerita anak adalah bermain. Artinya: anak yang bercerita ke mall dan TV/game HP itu, tidak menempatkan diri anak pada tempat sewajarnya. Dunia anak adalah bermain.

Jika anak menceritakan pergi ke mall dan TV/game HP itu, berarti anak tersebut sombong, angkuh, dan congkak. Mengapa? Karena, anak tersebut sudah melebihi diri anak dalam wajarnya, anak. Seharusnya, yang bercerita pergi ke mall dan TV/game HP adalah orang tua/orang dewasa.

Tawadhu dalam pandangan ilmu tasawuf ditujukan kepada orang yang tunduk, patuh, dan khusyuk semata-mata hanya karena Allah. Allah diatas segala-galanya. Orang yang dalam posisi ini, “keakuan” dirinya sudah hilang, diganti dengan keridhaan Allah (Nasaruddin, 2021:32).

Orang yang menempatkan diri paling bawah, tidak pernah jatuh. Sebaliknya, orang yang selalu menempatkan diri di tempat lebih di atas orang lain, pasti sering jatuh. Semakin tinggi tempatnya, maka jatuhnya semakin menyakitkan.

Jika seseorang mendambakan ketenangan hati/batin, sebaiknya memilih untuk menempatkan diri lebih dibawah/tawadhu. Nabi Muhammad SAW mencontohkan sifat tawadhunya, meskipun ia seorang Rasul, Nabi, Kepala Negara, panglima angkatan perang, dan jabatan lain yang diperolehnya, tetapi tetap menunjukkan ketawadhuannya.

Contoh ketawadhuan Nabi Muhammad SAW yaitu menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendatangi/menghadiri undangan tanpa membeda-bedakan kelasnya, mengendarai keledai yang hidungnya sudah diikat dengan tali yang dibuat dari sabut, memberi makan unta dan kambing, menyapu lantai, memperbaiki sandal, makan bersama pembantu, berjabat tangan dengan orang kaya-miskin, mendahulukan memberi salam kepada orang kaya-miskin, tidak pernah mencela makanan yang dihidangkan kepadanya walaupun hanya kurma kering yang disajikan, tersenyum tanpa tertawa, sedih tanpa cemberut, berhati lembut terhadap sesama manusia, tidak pernah menunjukkan telah makan kenyang, dan tidak pernah mengulurkan tangan dengan rakus, dan berbagai perilaku ketawadhuan Nabi Muhammad SAW lainnya.

Dari sifat di atas, menunjukkan bahwa gaya hidup Nabi Muhammad SAW lebih menekankan pada sifat tawadhu. Gaya hidup Nabi Muhammad SAW lebih menekankan kepada ketenangan batin. Bisa dimaknai: menempatkan “dunia” sesuai kondisi sewajarnya. Nabi Muhammad SAW menempatkan dunia dengan sewajarnya yaitu: tidak merendahkan dan meninggikan “keduniaannya”.

Tawadhu tidak boleh berlebihan, sehingga mengumbar kekurangan diri yang melampaui batas kewajaran. Al-Khawash mengatakan: “Jangan sekali-kali menyebut terlalu banyak kekurangan dirimu (pada orang lain), karena dengan begitu bisa berkurang rasa syukurmu”. Jadi, sewajarnya saja kita dalam bersikap atas kekurangan kita.

Semoga pesan di atas, kita bisa melakukan sifat tawadhu. Tawadhu harus ditempatkan sesuai keadaan yang wajar. Jangan terlalu berlebihan dan mengumbar kekurangan. Tirulah sifat tawadhu Nabi Muhammad SAW dalam segala aspek kehidupan. Semoga kita bisa melakukannya. Amin. [].

Semarang, 21 Desember 2021
Ditulis Di Rumah jam 04.15 – 05.00 WIB.

• Friday, December 17th, 2021

Ada “Tangan” Allah

Oleh Agung Kuswantoro

 

Melihat pemberitaan sesi akhir F1 2021 (Ahad, 12 Desember 2021) di Abu Dhabi, saya menjadi berfikir bahwa dalam setiap apa pun hidup di dunia, pasti ada yang “menang” dan “kalah”. Di luar konteks “menang” dan “kalah” itu, ada “tangan” Allah (baca: kuasa Allah). Allah memiliki kekuasaan Yang Maha Luar Biasa. Sehebat dan serapi-rapi rencana dan strategi apa pun, belum tentu manusia yang “menang”.

 

Kembali ke balapan tadi. Seharusnya secara logika akal: yang menang adalah Hamilton. Tetapi, Max Verstappen–lah yang menang. Malahan, Hamilton yang kalah dalam balapan jet darat tersebut.

 

Siapa sangka ada kecelakaan dilakukan oleh Nicolas Latifi yang menghantam dinding pembatas, dimana safety car melaju yang mengakibatkan jarak antara Hamilton dan Max Verstappen sangat tipis. Disinilah, mulai muncul strategi ganti ban dan pit stop.

 

Diluar balapan ini, yang pasti ada “tangan Allah”. Kesemua kejadian balapan tersebut, ada kehendak Allah. Mengutip berita Kompas (Senin, 13 Desember 2021) memberi judul “Mukjizat Verstappen”. Menurut saya, berita tersebut, ada benarnya. Dimana memang Hamilton-lah yang menang, jika tidak ada kecelakaan.

 

Hal ini memberikan pelajaran kepada kita, sesempurnanya apa pun yang dilakukan oleh kita, belum tentu Allah berkehendak, sehingga kita diharuskan untuk tetap “merundukkan hati” dan perbanyak doa, karena pada hakikatnya, dalam kehidupan di dunia, pasti Allah tetap ikut “campur” untuk kebaikan diri kita sebagai hamba Allah yang patuh kepada-Nya. []

 

Semarang, 16 Desember 2021

Ditulis di Rumah, jam 12.00 – 12.15 WIB.

• Tuesday, December 07th, 2021

Terus Bersyukur: Alhamdulillah Sistem Arsip Digital UNNES Diluncurkan

Oleh Agung Kuswantoro

 

Alhamdulillah saya sebagai warga UNNES ikut bangga dengan diluncurkan Sistem Arsip Digital (https://unnes.ac.id/berita/upt-kearsipan-unnes-luncurkan-sistem-digital-arsip.html) yang sudah masuk dalam https://apps.unnes.ac.id/;

 

Saya menjadi saksi bahwa perjuangan untuk mewujudkan system tersebut, bukanlah hal mudah. Tercatat dari beberapa kegiatan sejak tahun 2018 hingga 2020 yang saya ikut didalamnya dalam merancang Sistem Arsip Digital yaitu:

 

(1) Bimtem system informasi arsip dinamis (https://unnes.ac.id/berita/upt-kearsipan-unnes-lakukan-bimtek-sistem-informasi-arsip-dinamis.html);

 

(2) FGD dengan menghadirkan  Tasdik Eko Pramono S.Kom, MT CHFI dari ANRI terkait sinkronisasi Siradi dan SIKD (https://agungbae123.wordpress.com/2018/04/19/sinkronisasi-siradi-dan-sikd/)

 

(3) Bimbingan teknis model manajemen arsip dinamis (https://unnes.ac.id/berita/mengetahui-tata-kelola-arsip-di-unnes-melalui-pelatihan-upt-kearsipan.html);

 

(4) Workshop system kearsipan dinamis terintegrasi (https://unnes.ac.id/berita/peran-arsip-jangan-dianggap-remeh.html);

 

(5) Evaluasi system persuratan dan kearsipan (https://unnes.ac.id/berita/buhk-unnes-lakukan-evaluasi-persuratan-dan-kearsipan.html)

 

Terkait hal itu pula, saya pernah mendapatkan tugas ke ANRI, Jakarta untuk konsultasi secara langsung dari system kearsipan UNNES yang sedang dikembangkan. Saya bertugas bersama Mas Mas’ul Fauzi, sekitar tahun 2019-2020.

 

Dari pula saya menuliskan penelitian mengenai sinkronisasi Siradi, Siradi, dan SIKD agar lebih mudah dalam pengelolaan arsip digital yang dikembangkan oleh UNNES.

 

Sebagai wujud bersyukur kepada UNNES, muncullah Sistem Arsip Digital yang sudah dikembangkan selama 3 tahun. Selama 3 tahun ini, 1 tahunnya dilakukan uji coba system tersebut. Alhamdulillah bisa terlaksana dengan baik.

 

Terima kasih saya ucapkan kepada pimpinan UNNES, pimpinan ANRI, arsiparis-penata arsip dan tenaga kependidikan di lingkungan UNNES yang telah berpartisipasi dalam menciptakan dan mengembangkan sistem arsip digital. Semoga amal baik Bapak Ibu diterima oleh Allah Swt.

 

Pastinya dengan segala keterbatasan, sistem arsip digital memiliki keterbatasan. Insya Allah akan selalu dilakukan pengembangan dan evaluasi terkait sistem tersebut. Mohon doa dan dukungannya. []

 

Ditulis di Jakarta, 7 Desember 2021, jam 05.00- 05.20 WIB.

• Sunday, December 05th, 2021

 

Tulisan lama, semoga bermanfaat untuk kita. Berikut tulisannya.

Bahagia
Oleh Agung Kuswantoro

Berbicara bahagia itu relatif. Tiap orang memaknainya, berbeda-beda. Ada yang sudah naik mobil, hidupnya sudah bahagia. Ada yang sudah memiliki rumah, hidupnya sudah bahagia. Ada yang sudah memiliki anak, hidupnya sudah bahagia. Dan, contoh yang lainnya.

Lalu, dimanakah letak bahagia itu? Menurut saya, letak bahagia itu di hati. Jika letak bahagia di hati, maka indikator kebahagiaan, tidak lagi seperti contoh di atas. Contoh kebahagiaan di atas lebih cenderung terletak di badan. Contoh di atas menunjukkan bahagia yang bersifat keduniaan.

Sedangkan indikator kebahagiaan yang terletak di hati adalah bersifat ukhrawi. Indikator kebahagiaan bersifat ukhrawi adalah ketenangan. Tepatnya, ketenangan batin.

Ketenangan batin, hanya hati yang bisa merasakan. Bisa jadi “badan” memiliki tanah, wajah cakap/cantik, harta banyak, rumah mewah dan mobil keren. Namun, itu semua tidak menjadikan kebahagiaan.

Ada orang kaya, namun cerai hidupnya. Ada orang punya tanah luas, namun hutangnya banyak. Ada orang punya anak ganteng/cantik, namun selalu minta uang ke orang tuanya. Contoh kalimat-kalimat di atas mengindikasikan tidak tenang dalam hati. Artinya, tidak bahagia. Kebahagiaan dia, tidak bersumber dari hati. Namun, bersumber dari badan.

Lalu, bagaimana cara menggapai bahagia yang bersumber dari hati? Raihlah dan temuilah sang pemilik hati, yaitu Tuhan. Tuhanlah pemilik hati kita. Tuhan itu pasti kaya, dan Maha segala-galanya. Ia tidak meminta kepada ciptaan-Nya. Ia bisa mewujudkan/mengabulkan segala permintaan manusia yang bersifat “badan”.

Cara menemukan Tuhan itu sederhana yaitu lakukanlah kebaikan dan temui di tempat mulia (seperti rumah ibadah). Terus tebar kebaikan dengan bersedekah, sholat, puasa, zakat, naik haji, membagi makanan yang membutuhkan, saling menolong, dan perbuatan lainnya. Sedangkan tempat yang terbaik menemui Tuhan adalah Masjid/Musholla. Mari luruskan kebahagiaan kita dari kebahagiaan “badan” menuju kebahagiaan hati dengan berbuat kebajikan dan termuilah Tuhan di masjid agar kita menemukan kebahagiaan yang hakiki.

Semarang, 30 November 2021
Ditulis di Rumah jam 03.00 – 03.30 WIB.

 

• Saturday, November 27th, 2021

Mempopulerkan Hasil Karya Ulama Melalui Menulis

Oleh Agung Kuswantoro

 

Tahun 2014—tepatnya bulan Juni 2014—ada lomba esai menulis mengenai pemikiran Gus Dur yang diselenggarakan oleh PMII Rayon Abdurrahman Wahid, Semarang. Saya sebagai orang awam tertarik untuk mengikuti lomba tersebut.

 

Mengapa, saya tertarik mengikuti lomba tersebut? Karena sosok Gur Dur itu unik, menurut saya. Saya mengumpulkan bahan untuk menuliskan pemikiran Gur Dur dari sisi pendidikan. Ketemulah, judul: “Pesantren: Minoritas Masuk Formal”.

 

Dalam esai yang sudah dijadikan buku, ternyata ada 18 penulis yang masuk dalam buku tersebut. Oleh panitia diambil lima besar pemenang. Alhamdulillah, saya masuk dalam 5 pemenang tersebut. Nama saya, ada diurutan ketiga. Berikut pengumumannya: http://www.pmiigusdur.com/2014/01/pengumuman-lomba-esai-gus-dur.html.

 

Kisah di atas adalah pengantar saya dalam menyampaikan materi tentang literasi pada kegiatan MAKESTA/Masa Kesetiaan Anggota yang diselenggarakan oleh IPNU IPPNU Wahab Hasbullah UNNES yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Rahmatallil Alamin Patemon, Semarang pada Jumat-Ahad (26-27 November 2021).

 

Melalui kegiatan tersebut, saya akan menyampaikan: bagaimana cara mempopulerkan dari pemikiran ulama melalui menulis?

 

Jawaban singkatnya adalah banyak baca. Membaca tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Membaca bukan hanya dimaknai bersumber dari buku saja. Namun, dari pengamatan/memperhatikan/menganalisis situasi lingkungan sekitar.

 

Pahami betul, keadaan saat ini. Lalu, bandingkan dengan keadaan ulama saat melakukan sebuah “terobosan” pada zamannya. Misal: Gus Dur. Beliau “berani” memasukkan Pondok Pesantren “menjadi” Formal. Padahal, Pondok Pesantren termasuk dalam kategori non formal yang dikelola secara swadaya (Yusuf: 2015:1).

 

Dari situlah saya membahas pemikiran Gus Dur yang “nyleneh” itu diantaranya: meliburkan belajar sekolah full selama satu bulan Ramadan, siswa dapat “nyantri” gaya belajar “pasaran” di pesantren saat Ramadan, pembelajaran selama Ramadan di pesantren lebih lama dibandingkan pesantren kilat yang dilakukan di sekolah, buku/kitab sebagai referensi kajian selama Ramadan lebih valid dibandingkan dengan pesantren kilat di sekolah, Guru (baca: Ustad/Kiai) yang menyampaikan pembelajaran juga lebih bisa dijadikan contoh teladan bagi santrinya, materi yang ada dalam kitab berisikan “nilai” yang luhur dan kuat dengan ilmu alat (nahwu, sorof, balagoh, mantik) dan pemikiran lainnya mengenai pesantren.

 

Kemudian, yang paling penting adalah pemikiran kebaruan/novelty dari sebuah tulisan. Saya contohkan dalam tulisan saya mengenai Gus Dur, kebaruannya adalah mengkombinasikan sekolah dengan pesantren dengan membuat model/bagan, dimana memasukkan faktor lingkungan, budaya, teknologi, dan komunikasi dalam satu “kotak kecil” yang mempengaruhi kombinasi antara sekolah dan pesantren.

 

Nah, bagaimana dengan kita di sini? Cobalah untuk lebih banyak membaca karya atau pemikiran pada ulama. Bacalah kitab-kitab kuning selama kita belajar di Pesantren. Bacalah karya ulama yang kita kagumi. Pahami dan amatilah lingkungan sekitar. Lalu, tulislah. Dengan cara kita menulis, maka dengan sendirinya kita telah mempopulerkan pemikiran Ulama kepada masyarakat dan menyampaikan isi kitab atau buku yang kita baca kepada lingkungan sekitar.

 

Semarang, 27 November 2021

Ditulis di Rumah, jam 02.00-02.40 WIB.

 

• Sunday, November 21st, 2021

Menata Diri (6): Mengidentifikasi Persoalan Pribadi
Oleh Agung Kuswantoro

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 286).

Salah satu ciri orang yang sudah memahami dan mampu mengidentifikasi persoalan pribadi/personal problem yaitu “separuh” permasalahan/problem dan beban hidup sudah terselesaikan. Bisa jadi, beban hidup terasa berat bukan karena besarnya permasalahan/problem yang menumpuk di atas pundak, tetapi karena kita tidak mampu memetakan permasalahan/problem.

Bisa jadi, persoalan kehidupan merupakan masalah psikologis dalam diri orang tersebut. Bisa jadi, persoalan itu sesungguhnya tantangan, bukan sebagai persoalan. Oleh karenanya, kita harus membedakan: mana persoalan hidup dan tantangan hidup.

Personal problem/persoalan pribadi yang sering dirasakan oleh banyak orang adalah (1) adanya “jarak” antara tuntutan kerja dan kecenderungan hati nurani, serta (2) kecenderungan nurani seringkali terkalahkan dengan mancari untung.

Adanya “jarak” antara tuntutan kerja dan kecenderungan hati nurani seperti: hati sesungguhnya tidak setuju dengan pekerjaannya, tetapi apa boleh buat hanya pekerjaan ini yang tersedia. Sehingga, saat bekerja ia tidak merasa optimal dalam berkarya. Kecenderungan nurani yang “terkalahkan” oleh mencari untung disebabkan oleh sikap rakus dan ambisi. Yang dikejar hanya “uang” dan urusan dunia saja.

Setiap manusia, pasti memiliki permasalahan/”beban hidup”, sebagaimana firman Allah pada ayat paragraf di atas/QS. al-Baqarah: 286. Al-Mawardi memaknai ayat tersebut, yaitu: penetapan beban “hidup” atau taklif yang “dibebankan” Allah kepada manusia ada tiga bentuk yaitu (1) perintah untuk menyakininya; (2) perintah untuk mengerjakannya; dan (3) perintah untuk meninggalkannya. Dengan adanya “beban” hidup ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada manusia dalam memberikan kemudahan dan keringanan kepada manusia untuk berusaha menyelesaikan permasalahan hidupnya.

Agama
Prof. KH Dr. Nasaruddin Umar, MA (2021) mengatakan cara terbaik mengatasi permasalahan pribadi adalah menguatkan agama kita. Agama adalah “sahabat” paling “intens” dengan manusia. Dikatakan “sahabat” karena setiap manusia memiliki kodrat dan naluri untuk beragama. Dikatakan “intens” karena sepanjang waktu, kapan, dan dimanapun, agama harus selalu hadir didalam jiwa dan raga manusia.

Tapi terkadang manusia, terbebani dengan agama. Bukan, seharusnya mencari solusi atas permasalahan melalui agama. Manusia seharusnya tidak bisa hidup tanpa agama, tetapi ada manusia yang terbebani oleh agama. Misal ada kalimat: “Aduh, Aku belum solat”. Padahal, sejatinya salat itu adalah “obat” bagi orang yang sedang “sakit” jiwa, penyelesaian masalah, dan bentuk “komunikasi” kepada Allah.

Agama pada level awal berisi “benturan”, agama pada “level” menengah berisi “pengertian mendalam”, agama pada “level” atas berisi “cinta”, agama pada “level” puncak berisi “kepasrahan dan tawakal”. Mari terus pahami, dalami, dan praktikkan agar selalu bisa “naik level”. Jika kita berada pada “level awal”, maka yang ada adalah “benturan-benturan” terus. Sedangkan, saat pada “level puncak”, maka yang ada adalah “meringankan dan diringankan”, karena “ikhlas”: apa pun yang terjadi dalam hidupnya diizinkan oleh Allah. “Mendakilah” setiap “level” agama tersebut “tingkat/level” demi “tingkat/level”, hingga mencapai “tingkat/level puncak” yaitu: kepasrahan (baca: Islam).

Saat kita “mencari” agama pada “level-level” tertentu, maka “energi” kita “tersedot”. Jika kelak pada saatnya akan sampai dan menemukan makna hidup. Dari situlah akan “kelebihan/surplus energi”, sehingga kita akan merasakan: “mencari itu melelahkan” dan “menemukan itu melegakan”.

Dunia tanpa agama itu “melelahkan”; agama tanpa dunia itu “menyulitkan”; dan sinergi dunia dan agama itu “melegakan”. Marilah kita kembali kepada agama sebagai solusi atas permasalahan hidup kita. Lalu, identifikasi sendiri, kita beragama ada pada level mana? Jawablah pertanyaan tersebut ; agar Anda dapat hidup “lega” tanpa ada rasa menyulitkan dan “perbenturan” antara hati dan batin Anda,. Semangat!

Semarang, 20 November 2021
Ditulis di Rumah jam 05.00 – 05.30 WIB.

Sumber rujukan: Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. 2021. Menjalani Hidup Salikin. Jakarta: Grasindo PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

• Sunday, November 14th, 2021

 

1000 Masjid, 1 Jumlahnya
Oleh Agung Kuswantoro

Judul tersebut saya mengutip dari Emha Ainun Nadjib dari buku “Seribu Masjid, Satu Jumlahnya (2019). Ada sembilan catatan mengenai masjid.

Pertama, masjid itu ada dua macam yaitu masjid “ruh” dan “badan”. Masjid “badan” bisa itu berdiri tegak, sedangkan masjid “ruh” hanya bersemayam dalam hati.

Masjid “ruh” dan masjid “badan” tidak bisa dihilangkan salah satu dari keduanya. Misal, masjid “ruh” hilang/tidak melekat dalam hati, maka yang tertinggal hanya “batu” masjid. Demikian juga, jika bangunan masjid hilang/hancur, maka tinggallah masjid berupa “hantu”.

Kedua, pembuatan masjid terdiri dari batu, logam, dan nuansa hati. Hati menjadi penopang dari batu dan logam.

Ketiga, masjid “badan” yang berupa batu bata bisa berdiri dimana-mana. Sedangkan, masjid “ruh” itu, tidak menentu dimana tempatnya. Masjid “ruh” bisa tenggelam antara ada dan tiada, karena bersemayam dalam hati. Didalam masjid “ruh”, itulah kita akan diajarkan “nama” Allah. Didalam masjid “badan”, kita akan: berjalan kaki, bersujud, perlahan memasuki masjid, salat tahiyatul masjid, ber-‘iktikaf, bertakbir, dan bersembahyang.

Keempat, masjid “badan” itu berbiaya mahal, padahal temboknya bisa berlumut saat hujan. Sedangkan masjid “ruh” didapatkan dengan kebesaran nama Allah melalui berdzikir.

Masjid “badan” itu bisa: roboh/binasa karena sinar matahari, cat bisa mengelupas, genting bisa beterbangan karena angin putting beliung, dan tembok bisa ambruk karena gempa bumi. Sedangkan masjid “ruh” itu bisa mengabadi didalam hati, meskipun pisau mampu menikam, senapan mampu menembaknya dan politik mampu memenjarakannya.

Kelima, masjid “ruh” bisa dibawa kemana-mana, misal: ke pasar, sekolah, kantor, dan tempat rekreasi. Selain itu, bisa dihadirkan saat naik sepeda, berdesakan di bus, dan di manapun lokasinya. Sebab, masjid “ruh” adalah semesta raya.

Keenam, masjid “badan” itu berdiri tegak, tidak bisa digenggam dan tidak masuk kuburan. Sedangkan masjid “ruh” bisa mengangkat kita melampaui waktu dan “terbang” melintasi alam semesta, hingga “hinggap” atau “bernaung” dalam hati cinta-Nya.

Ketujuh, orang yang hanya memiliki masjid “badan” saat meninggal dunia kelak, berupa daging terkubur karena berharap pada bangunan masjid “badan”. Demikian juga orang yang menyombongkan masjid “ruh” akan “bergentayangan” dan berkeliaran tidak memiliki pijakan tanah, saat meninggal dunia orang tersebut.

Lalu bagaimana yang baik? Menyatulah dua masjid tersebut (masjid “badan” dan “ruh”). Dua masjid menyatu, jumlahnya: syariat dan hakikat menyatu dalam tarikat ke makrifat.

Kedelapan, meskipun di tempat kita ada 1000 masjid, atau 1.000.000 masjid, niscaya/sejatinya masjid jumlahnya hanya satu yaitu masjid yang menyatukan tarikat ke makrifat. Didalamnya pasti ada perbedaan, namun disitulah ada jalan menuju “kemesraan” nurani.

Kesembilan, hanya Allah sebagai muara dari sebuah masjid. Berapa pun jumlah masjid “badan” dan “ruh”, hanya Allah yang “pantas” dituju. Hayya ‘alal falah!

Semoga Andalah pemilik dari masjid “badan” dan “ruh” yang mampu menyatukan tarikat ke makrifat. Insya Allah.

Semarang, 13 November 2021
Ditulis di rumah jam 04.45 – 05.15 WIB.

• Friday, November 12th, 2021

Guru Tamu (Lagi)

Oleh Agung Kuswantoro

 

Sabtu (6 November 2021), saya dapat tugas dari pimpinan di UNNES untuk menjadi guru tamu di SMK Negeri 1 Boyolali. Seperti biasa, saya dapat tugas untuk menyampaikan materi dan praktik e-arsip pembelajaran dari produk yang saya ciptakan.

 

Saya tidak menghitung berapa kali saya jadi guru tamu/narasumber/pembicara mengenai e-arsip pembelajaran. Niat saya saat diundang dan dapat tugas dari pimpinan adalah belajar bersama. Saya tidak merasa sebagai orang yang ahli, namun orang ingin yang cari ilmu.

 

Disitulah, saya kenal banyak orang dengan beragam watak. Selain itu, bisa memahami kemampuan suatu sekolah/lembaga terkait sarana prasarana dalam praktik e-arsip pembelajaran. E-arsip pembelajaran ini, sangat “kental” dengan ilmu kearsipan. Sehingga, saat praktik harus paham konsepnya (bahasa saya: mantra).

 

Semoga melalui tulisan sederhana ini, saya dan Anda tetap menjadi pribadi pembelajar. Tidak puas dengan keadaan atau ilmu yang didapat saat ini. Mari, terus belajar sampai akhir saya. Perjuangkan ilmu dan sebarkanlah ilmu yang telah didapat. [].

 

Semarang, 12 November 2021