• Tuesday, January 15th, 2019

Pindah (2): Suparjo Ke Lampung
Oleh Agung Kuswantoro

Pembicaraan kita kemarin mengenai “pindah”, berasal dari pikiran. Jadi, kalau mau berubah (baca:pindah) berawal dari pikiran dulu. Bukan, berawal pada tindakan. Jika berawal dari tindakan, maka yang ada hanya perintah atau menyuruh. Pendewasaan itulah awal dari “pindah”. Karena, ia sudah merenungkan akan kehidupannya.

Saya memiliki sahabat, yang kemarin baru keterima PNS. Ia bernama Suparjo. Ia melakukan “pindah” setelah berpikir dalam kehidupannya. Ia mau apa? Usianya masih muda. Alhamdulillah sudah menikah. Istrinya, orang Semarang, sedangkan ia berasal dari Lampung.

Ia sudah melakukan perpindahan, mulai dari kuliah di UNNES, hingga menikah. Saat “pindah”, pastinya ia kesusahan. Menikah saja, istrinya malahan berada di Wonogiri. Sedangkan, ia berada di Semarang. Sehingga, walaupun sudah menikah, kehidupannya terpisah.

Lalu, keduanya memutuskan untuk bersatu dalam kehidupannya. Istrinya memutuskan ke Semarang. Ia akan mencari pekerjaan di Semarang. Ia memilih menemani suami di Semarang, dibanding di Wonogiri. Segala persiapan perpindahan pun, dilakukan. Ada pindah barang dari kontrakan Wonogiri ke Semarang. Suparjo juga memindahkan barang-barangnya ke kontrakan baru di Semarang.

Semua serba ngontrak. Karena, mereka ingin hidup mandiri. Susah, pastinya mereka jalani. Saya melihat betul, saat mereka boyongan. Cukup modal motor metik mereka bolak-balik ambil barang. Terakhir, mereka pindah ke Lampung. Suparjo keterima PNS di Lampung. Ia “pindah” sendiri ke Lampung untuk pemberkasan PNS. Kalau pindah fisik dan barangnya, ia menggunakan motor metik. Pergi dari Semarang ke Lampung memakai motor metik dengan penuh bawaannya.

Rekoso? Ya, jelaslah. Barangnya full semotor. Belum, lagi kalau mau ngisi pertamax/pertalite, ia harus bongkar pasang. “Saya menanyakan kabar dia, sudah sampai ke Lampung?” Ia menjawabnya, “sudah”. Kemudian, menceritakan bahwa ia sempat bongkar pasang barangnya hingga tiga kali. Perjuangan sekali ya. Padahal, ia keterima PNS. Proses pindahnya sebegitunya.

Maknanya, “pindah” itu bukan hanya fisiknya, tetapi pikiran dan semangatnya. Fisik dan pikiran sehat, belum tentu ia mau “pindah”. Karena, “pindah” membutuhkan semangat yang kuat. Dalam proses “pindah”, pasti ada kesusahan. Ia akan menjalani kesusahannya. Sabar, kuncinya. Dan, tetap berdoa kepada Allah.

Jadi, “pindah” itu bukanlah hal mudah. Namun, jika tidak “pindah”, maka hidupnya ajeg/tetap. Hanya di situ saja. Tidak ada perubahan. Sama halnya, kita/lembaga dibutuhkan “pindah”. Minimal, “pindah” pikiran saja dulu. Fisiknya nanti. Sehingga, dibutuhkan orang yang mau berpikir dalam (sebelum) bertindak. Insya Allah, jika kita “pindah”, kita akan menjadi lebih baik.

Bersambung

Semarang, 14 Januari 2019

• Saturday, December 29th, 2018

Dari Masalah Menjadi Makalah

Oleh: Agung Kuswantoro

Hal yang keliru/kurang tepat dilakukan oleh mahasiswa dalam pengajuan tema/topik skripsi adalah penentuan topiknya. Kebanyakan topik mereka/mahasiswa adalah kinerja/kepuasan, pelayanan, kepemimpinan, dan prestasi belajar.

Mengapa, mereka memunculkan itu? Karena, mereka berangkatnya dari membaca skripsi di perpustakaan. Apakah salah? Tidak.

Cobalah, “berangkat” dari masalah. Bukan, dari Perpustakaan. Permasalahan itu banyak. Sehingga, kata kuncinya adalah diamati. Cara pengamatan terbaik adalah membaca. Membaca buku/jurnal/koran. Bukan, membaca skripsi. Jika kita membaca skripsi, maka pikiran kita akan “terkotak” dari apa yang telah dibaca.

Saya sepakat dengan pendapat, Prof. Dr. Eng. Khoirurrijal – ketua LPPM ITB – yang berpendapat bahwa “masalah adalah awal sebuah makalah. Masalah dahulu, setelah itu riset/diteliti. Setelah diteliti/riset, lalu ditulis menjadi naskah. Baru setelah masalah, jadilah makalah. Makalah itulah skripsi.

Jadi, berangkatnya makalah (baca: skripsi) dari masalah. Bukan dari hasil membaca di Perpustakaan.

Semarang, 27 Desember 2018

Sumber:

Khoirurrijal. 2018. Strategi Membangun  Naskah Ilmiah untu Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi. Materi disampaikan di LPPM UNNES tanggal 1 September 2018

• Saturday, December 29th, 2018

Dari Masalah Menjadi Makalah
Oleh: Agung Kuswantoro

Hal yang keliru/kurang tepat dilakukan oleh mahasiswa dalam pengajuan tema/topik skripsi adalah penentuan topiknya. Kebanyakan topik mereka/mahasiswa adalah kinerja/kepuasan, pelayanan, kepemimpinan, dan prestasi belajar.

Mengapa, mereka memunculkan itu? Karena, mereka berangkatnya dari membaca skripsi di perpustakaan. Apakah salah? Tidak.

Cobalah, “berangkat” dari masalah. Bukan, dari Perpustakaan. Permasalahan itu banyak. Sehingga, kata kuncinya adalah diamati. Cara pengamatan terbaik adalah membaca. Membaca buku/jurnal/koran. Bukan, membaca skripsi. Jika kita membaca skripsi, maka pikiran kita akan “terkotak” dari apa yang telah dibaca.

Saya sepakat dengan pendapat, Prof. Dr. Eng. Khoirurrijal – ketua LPPM ITB – yang berpendapat bahwa “masalah adalah awal sebuah makalah. Masalah dahulu, setelah itu riset/diteliti. Setelah diteliti/riset, lalu ditulis menjadi naskah. Baru setelah masalah, jadilah makalah. Makalah itulah skripsi”.

Jadi, berangkatnya makalah (baca: skripsi) dari masalah. Bukan dari hasil membaca di Perpustakaan.

Semarang, 27 Desember 2018

Sumber:
Khoirurrijal. 2018. Strategi Membangun Naskah Ilmiah untu Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi. Materi disampaikan di LPPM UNNES tanggal 1 September 2018

• Wednesday, December 05th, 2018

Albarzanji (34): Cerita Ummi Ma’bad Alkhuza’i
Oleh Agung Kuswantoro

Di dalam perjalanan menuju ke Madinah, Nabi Saw melalui perkampungan Qudaid, tempat tinggal Ummi Ma’bad Alkhuza’i. Di situ ia (Nabi Muhammad SAW) akan membeli daging atau susu dari padanya. Akan tetapi, sayangnya Ummi Ma’bad ketika itu tidak mempunyai persediaan.

Lalu, ia melihat seekor biri-biri kurus di rumah itu yang tidak digembalakan karena memang sakit. Maka, beliau minta idzin akan memerah susu biri-biri itu, dan ternyata diidzinkannya, dengan katanya “Kalau memang biri-biri itu keluar susunya, maka aku berikan saja kepadamu.”

Ia terus menyapu-nyapukan tangannya pada biri-biri itu sambil berdo’a kepada Allah SWT. Maka, menjadi deras air susu biri-biri kurus itu, sehingga dapat diminum untuk beliau sendiri dan orang sekitar rumah itu.

Lalu, ia memerah lagi dan diisikan dalam sebuah bejana dan ditinggal untuk Ummu Ma’bad. Ketika Pak Ma’bad telah datang dari bepergian dan melihat susu ada di rumahnya, maka timbul kekagumannya.

Katanya kepada istrinya, bahwa “Dari manakah susu ini, sedangkan tadi saya tinggalkan tidak ada setetes juapun susu dari biri-biri yang mungkin dapat diperahnya?”

Jawab istrinya “Tadi ada seorang lelaki yang membawa berkah lewat di sini, yang sederhana tubuhnya dan lemah lembut sifatnya. Dia singgah di rumah ini dan dialah yang memerahnya”.

Pak Ma’bad menyebutnya “Lelaki itu adalah pemuda kaum Quraisy”. Dan dia terus bersumpah. Seandainya dapat melihatnya, niscaya dia beriman kepadanya dan mengikuti jejak langkahnya, serta senantiasa menemaninya.

Perjalanan Nabi Muhamad SAW sampai di Madinah pada hari Senin tanggal dua belas Rabi’ul Awal, dan tempat-tempat di Madinah ketika itu menjadi terang benderang sebab nurnya.

Setelah sampai di sana, ia djemput oleh sahabat Anshar dan tinggal di Quba untuk membina masjid yang berdasarkan takwa.

Semarang, 6 Desember 2018

• Friday, November 30th, 2018

BIMTEK SISTEM INFORMASI ARSIP DINAMIS

Sistem Informasi Surat Dinas (SIRADI) adalah sebuah sistem informasi manajemen berbasis website yang membantu dalam pengelolaan tata naskah dinas di UNNES. SIRADI ini memberikan kemudahan dan kecepatan dalam pengelolaan surat dinas yaitu pengelolaan manajemen administrasi surat masuk, manajemen disposisi surat masuk, dan manajemen administrasi surat keluar dalam satu sistem dokumentasi dan perekaman data surat dinas secara elektronik.

 

Hingga saat ini, surat yang ada di SIRADI belum ada perlakuan untuk disimpan atau disusutkan/musnah. Oleh karenanya perlu, ada sistem yang menangani hal itu. ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) membuat rancangan sistem tersebut yang diberi nama SIKD. SIKD singkatan dari Sistem Informasi Kearsipan Dinamis. Aplikasi ini adalah web based application dan bersifat multi user.

 

Menurut ketua kegiatan, Agung Kuswantoro mengatakan bahwa peserta kegiatan ini berjumlah 55 orang yang terdiri dari kasubbag umum dan operator dari masing-masing unit di lingkungan UNNES. Tujuan kegiatan ini adalah Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para petugas kearsipan mengenai pengelolaan arsip, memahami dan melaksanakan pengaturan dan penyimpanan arsip sehingga mempermudah penemuan arsip kembali serta mengetahui implementasi kebijakan atau regulasi bidang kearsipan melalui sistem informasi kearsipan dinamis.

 

Acara dibuka oleh Kepala UPT Kearsipan UNNES, Dr. H. Muhsin, M.Si. Ia mengatakan melalui kegiatan ini, tiap unit kerja dalam mengelola kearsipannya dengan baik. Petunjuk kearsipan harus diperhatikan, seperti pemberkasan hingga penyusutan arsip.

 

Hadir dalam bimtek tersebut, pengembang sistem kearsipan UNNES yaitu Mas’ul Fauzi. Ia memaparkan fungsi-fungsi dalam sistem kearsipan tersebut. Aplikasi SIKD memiliki fungsi-fungsi seperti pengaturan struktur organisasi dan pengguna, pengaturan klasifikasi keamanan dan akses, pengaturan klasifikasi arsip, penetapan jadwal retensi arsip, pengaturan berkas, registrasi (pemberkasan) arsip, dan fungsi lainnya.

Diharapkan melalui kegiatan ini, tiap-tiap unit kearsipan dalam mengelola kearsipan dengan baik. daur hidup arsip harus dilakukan, agar arsip dinamis mudah ditemukan saat dibutuhkan.

 

• Friday, November 30th, 2018

Albarzanji (30): Hanya Abu Bakar Assidiq
Oleh Agung Kuswantoro

Sepulang Isro’ Mi’roj, Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalamannya kepada kaum Qurais dan sahabatnya. Ternyata, hanya Abu Bakar Assidiq-lah yang mengimani/membenarkan atas kisah tersebut. Sehingga, gelar yang melekatnya – Assidiq – itu bermakna benar.

Artinya, dialah orang pertama yang membenarkan atas peristiwa Isro’ Mi’roj. Ia/Abu Bakar mempercayai (mengimani) atas cerita Nabi Muhammad SAW. Baginya, Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang jujur dan selalu dilindungi oleh Allah. Jadi, tidak mungkin, ia berbohong. Waallahu’alam.

Semarang, 28 November 2018.

• Thursday, November 29th, 2018

Albarzanji (29): “Oleh-olehnya, Sholat

Oleh Agung Kuswantoro

 

Hasil perjalanan Nabi Muhammad SAW ketika Isro’ Mi’roj yaitu sholat. “Oleh-oleh”– saya menyebutnya– berupa sholat. Sholat diwajibkan setelah Isro’ Mi’roj. Sholat Dhuhur menjadi sholat pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

Mengapa sholat Dhuhur? Karena, sepulang dari Isro’ Mi’roj, kayfiyah/tata cara sholat belum diajarkan oleh malaikat Jibril. Setelah itu, diwajibkan sholat Dhuhur, karena sudah ada kayfiyah-nya. Oleh karenanya, sholat Dhuhur-lah, sholat wajib yang pertama dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

 

Walaupun sholat yang diwajibkan oleh Allah yaitu 5 waktu. Namun, pahalanya 10 kali lipat dari masing-masing sholat. Jadi 50 pahala sholatan untuk 5 waktu. 50 sholatan inilah,sama seperti Nabi Musa. Itulah, keanugerahan Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Dimana pahalanya setara dengan ibadah sholat umat Nabi Musa. Waallahu’alam

 

Semarang, 27 November 2018

 

 

• Wednesday, November 28th, 2018

Muslimin dan Musyrikin
Oleh Agung Kuswantoro

Seperti baisa tiap hari Senin dan Selasa, pembelajaran di Madasah, materinya adalah fiqih. Adapun, kajiannya adalah Sholat.

Kelas C dan D, saya gabungkan. Kelas C mempraktikkan Sholat mulai dari niat hingga bacaan sunah setelah surat Alfatihah.

Kelas D menyimak dan memperhatikan dari praktik kelas C. Tiap santri kelas D menuliskan di buku mengenai kekurangan dari yang dipraktekkan kelas C.

Hasil pengamatan kelas D mengatakan bahwa, ada santri sholatnya tertawa, banyak gerakan (menggoyang-goyangkan badan), dan pandangan mata ke arah sana-sini.

Saya membenarkan hasil pengamatan oleh santri-santri kelas D. Kemudian, saya membahas dan mendiskusikan kepada mereka.

Saya bertanya kepada mereka (kelas C). Bolehkah sholat itu tertawa? Bolehkah sholat itu menggoyang-goyangkan badan? Dan, bolehkah sholat memandang ke sana-sini?

Jawaban mereka sepakat tidak boleh. Sebenarnya mereka mengetahui perbuatan tersebut itu tidak boleh. Namun, mereka melakukannya.

Dalam praktiknya, (dulu) mereka melakukan perbuatan tersebut. Namun, semenjak ada Madrasah, saya mengenalkan mengenai hal-hal yang diperboleh dan dilarang dalam sholat. Sehingga perlu mereka mempraktikkannya, agar mereka memahaminya.

Ada satu yang terlewat dari pengamatan santri kelas D yaitu bacaan doa Iftitah. Dimana, antara musyrikin dan muslimin dibaca sama semua yaitu musyrikin.

Inni wajahtu wajhi lilladzi fatarossama wati wal ardo, khanifam muslimau wama ana minal musyrikin. Inna sholati dan seterusnya, berakhir dengan wa ana minal muslimin.

Saya langsung meminta tolong kepada masing-masing santri untuk melafalkan doa Iftitah satu kalimat, mulai dari inni wajahtu hingga wama ana minal musyrikin.

Mereka menulis dengan tulisan Arab mengenai satu kalimat tersebut. Saya menuliskannya di papan. Kemudian, mereka menulis di buku. Lalu, mereka membaca atas tulisan mereka.

Apa yang terjadi? Antara yang ditulis dengan yang dilisankan, mereka cenderung hafalan. Bacaan panjang – pendeknya tidak jelas. Misal, wajahtu. Tu-nya dibaca panjang. Wajjah dibaca wajah, tanpa tasdid.

Mereka saat melafalkan cenderung halafan. Dan, akhir dari kalimat itu dibaca muslimin. Kedua juga muslimin.

Saya mengatakan kepada mereka untuk membaca tulisannya. Mereka tetap membaca muslimin semua. Lalu, ada santri yang mengatakan bahwa, hapalanku salah.

Inilah yang saya tekankan, bahwa melalui mengaji mereka jadi lebih memahaminya. Dengan cara menulis, lalu membacanya. Kemudian, mengartikannya.

Penekanannya, bukan hafalannya. Hafalan sah-sah saja. Namun, kaidah tajwid akan hak-hak huruf harus diperhatikan. Ketepatan kata, juga harus diperhatikan. Musyrikin dulu, baru muslimin. Misalnya, seperti itu.

Yuk buka kitab fiqih kita. Lalu, tulis bacaan sholat itu. Pahami maknanya. Dan, perhatikan hak-hak huruf tersebut. Tujuannya agar kita mengetahui dan memahami betapa dahsyat bacaan sholat itu. Waallahu’alam.

Semarang, 26 November 2018

• Tuesday, November 27th, 2018

Peta Konsep Hukum Nun Mati Atau Tanwin

Oleh Agung Kuswantoro

 

Seperti biasa, tiap hari Kamis materi kajian di Masjid Nurul Iman adalah Tajwid. Tiap kelas sibuk dengan materinya. Terlihat kelas A dan B sedang belajar Mahroj huruf Hijaiyyah. Ustadah Nisa sibuk dengan pelafalan huruf kepada Santri. Sekali-kali, menyanyikan alif, ba, ta, tsa, jim, kha, kho, dan seterusnya.

 

Kelas C diampu oleh Ustadah Lu’lu’. Materinya Mahroj huruf. Terlihat Santri menirukan atas ucapan Ustad. Santri harus serius mengikutinya, karena mareka (belum) terbiasa dengan pelafalan Mahroj suatu huruf.

 

Kelas D, saya yang mengampu. Saya melanjutkan materi sebelumnya. Saya membuat peta konsep atas  hukum Nun mati atau tanwin. Kemudian, Santri menyebutkan huruf-hurufnya.

 

Misal, Idhar. Hurufnya apa saja? Santri yang menyebutkan. Saya yang menuliskan dalam papan tulis. Mengapa saya melakukan itu? Karena semua materi sudah diberikan kepada Santri.

 

Setelah mereka membuat peta konsep, mereka membuka Alqur’an. Mereka, membuka surat Alfatihah. Mereka mencari bacaan yang ada hukum Nun mati atau tanwin.

 

Ketiga santri sibuk mencari bacaan yang ada di surat pembuka Alqur’an tersebut. Ayat  demi ayat mereka telusuri. Dua santri (Raihan dan Riris) mengatakan, “Saya nemu, Pak”. Ini ‘An ‘am ta ‘alaihim”.

 

Riris menjelaskan itu bacaan Idhar, karena Nun mati ketemu huruf ‘ain. Sehingga, harus dibaca jelas. Ternyata, pada Alfatihah ditemukan satu bacaan yang mengandung hukum Nun mati atau tanwin. Kemudian, mereka mencari hukum nun mati dan tanwin pada surat Albaqoroh ayat 1 hingga 6.

 

Mengingat waktu sudah sore, saya memberikan tugas kepada mereka untuk mencari bacaan-bacaan yang ada hukum nun mati atau tanwin pada surat Albaqoroh ayat 1 hingga 6.

 

Itulah cerita kami dengan mereka. Belajar mengenal ilmu Allah, karena kami ingin dekat dengan Allah, sehingga kitab suci (Alqur’an), harus saya pelajari. Minimal dari sisi tajwidnya. Waallahu’alam.

 

Semarang, 23 November 2018

Ditulis di pom bensin AKPOL Semarang, pukul 17.10 WIB

• Tuesday, November 27th, 2018

Albarzanji (28): Nabi Muhammad SAW Bertemu Para Nabi

Oleh Agung Kuswantoro

 

Sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dan setelah wafat Abu Tholib dan Khodijah, Nabi Muhammad SAW di-Isro’Mi’roj-kan oleh Allah SWT. Isro’ berawal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kemudian, Mi’roj ke Sidratul Muntaha.

 

Di langit pertama, ia bertemu Nabi Adam. Nabi Adam yang diangkat derajat kemuliaannya. Di langit kedua bertemu Nabi Isa bin Maryam. Maryam adalah gadis suci yang terhindar dari “noda” godaan laki-laki. Maryam selalu bertakwa.

 

Di langit kedua, ia bertemu juga, Nabi Yahya (saudara sepupu Nabi Isa). Nabi Yahya, sejak kecil mampu memahami kitab taurot.

 

Di langit ketiga, ia bertemu Nabi Yusuf. Nabi Yusuf memiliki wajah yang tampan. Di langit keempat Nabi Idris yang derajatnya dimuliakan oleh Allah.

 

Dilangit ke lima, ia bertemu dengan Nabi Harun. Nabi Harun adalah seorang yang sangat dicintai oleh kaum bani Isroil.

 

Di langit ke enam, ia bertemu dengan Nabi Musa. Nabi Musa adalah sosok yang “ahli” bermunajat kepada Allah. Ia pernah berbicara secara langsung dengan Allah, sehingga dijuluki Kalamullah.

 

Di langit ketujuh, ia bertemu Nabi Ibrohim. Nabi Ibrohim “hatinya” selalu dijaga oleh Allah dan dijaga dari sengatan panas api milik raja Namrud.

 

Yogyakarta, 25 November 2018