• Saturday, May 30th, 2020

Mutu Dalam “Jasa” Pendidikan
Oleh Agung Kuswantoro

Bicara mutu dalam sebuah produk yang diproduksi oleh suatu perusahaan itu sudah pasti jelas, mulai dari QC/Quality Control, QA/Quality Assurance, dan TQM (Total Quality Management). Namun, bagaimana jelas bicara mutu dalam sebuah lembaga yang bergerak dibidang “jasa” pendidikan?

Saya mengatakan “jasa” untuk pendidikan, karena pendidikan bukanlah memproduk suatu barang, yang mampu menunjukkan suatu kualitasnya. Kalaupun, bicara “produk”, lalu “produk” pendidikan itu, seperti apa?

Sallis (2002) mengatakan Service Quality (SQ) memiliki karakteristik yang lebih sulit dibandingkan mutu sebuah produk. Mengapa? Karena, karakteristik – mutu jasa mencakup elemen – subjek – yang banyak melalui QC, QA, dan TQM. Namun, untuk sebuah “produk” jasa, tak semudah menerapkan QC, QA, dan TQM.

“Produk” pendidikan, menurut para ahli berpendapat, berbeda-beda. Ada yang mengatakan produk pendidikan adalah peserta didik. Ada pula yang berpendapat, bahwa produk pendidikan adalah institusi itu sendiri, dengan nilai akreditasi.

Oleh karena “licinnya”, menentukan sebuah mutu dalam bidang “jasa” pendidikan diperlukan sebuah alat/tools untuk mendapatkan mutu yang baik. Di Indonesia mengenal dengan istilah MBS/Manajemen Berbasis Sekolah untuk mencapai mutu dalam lembaga pendidikan/sekolah.

Konsep MBS adalah desentralisasi. Artinya, sekolah memiliki kewenangan dalam mengelola lembaganya. Kepala sekolah menjadi kata kunci dalam mengelola organisasinya.

Kemudian, pemerintah menentukan standar-standar nasional yang ditentukan melalui peraturan-peraturan sebagai acuan/patokan untuk menggapai kontrol mutu/QC. Harapannya, sekolah melalui MBS dapat “melampaui” atas standar dari pemerintah. Tidak hanya “terstandar” saja. Tetapi, harus “melampaui” target dari standar yang ditentukan oleh pemerintah.

Sehingga, bisa dikatakan MBS itu “embrio” dari TQM. QC-nya adalah MBS, sedangkan TQM adalah peraturan-peraturan Standar Nasional Pendidikan/SNP.

Dengan demikian, sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dapat mengidentifikasi standar-standar mutu yang akan ditentukan berdasarkan kemampuan sumberdaya sekolah.

Adapun indikator SNP tersebut meliputi (1) standar kompetensi lulusan; (2) standar isi; (3) standar proses; (4) standar penilaian; (5) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (6) standar pengelolaan; (7) standar sarana prasarana; dan (8) standar pembiayaan.

Menurut Pamatmat (2016) dalam penelitiannya mengatakan bahwa TQM memiliki indikator (1) kepemimpinan; (2) Fokus pada klien; (3) komitmen untuk berubah dan perbaikan yang berkesinambungan; (4) keputusan berdasarkan data; (5) pembelajaran yang profesional; (6) kerja tim; dan (7) fokus pada sistem. Pamatmat melakukan penelitian ini pada 60 guru dan 6 kepala sekolah di Filipina. Hasilnya, TQM memberikan dampak terhadap sebuah mutu pendidikan.

Hal yang menarik, hasil penelitian dari Pamatmat yaitu indikator untuk mengukur sebuah mutu, yaitu dimulai dari kepemimpinan hingga fokus pada sebuah sistem. Dimana, indikator-indikator tersebut berbeda dengan indikator standar mutu yang ada di Indonesia (dalam hal ini SNP). Indikator yang digunakan oleh Pamatmat itu lebih “aktif”, dibanding SNP yang cenderung “pasif”. Sehingga, hasil untuk mencapai mutu dalam sebuah lembaga pendidikan dengan mengimplementasikan TQM itu, berbeda-beda.

Maknanya, TQM itu, memiliki cara tersendiri untuk mengukurnya. Misal, TQM di Indonesia dalam menentukan mutu ada, MBS. TQM di Jepang, ada istilah Kaizen. Dimana, masing-masing TQM di negara tersebut memiliki indikator yang berbeda-beda tiap negara.

Bisa dikatakan, bahwa MBS itu, bukan satu-satunya untuk mewujudkan TQM. Masih banyak cara untuk mewujudkan TQM. Perumpamaannya, obat Paramex, bukan satu-satunya obat sakit kepala. Masih ada obat sakit kepala lainnya, seperti Bodrex dan Panadol. MBS bukan satu-satunya “obat” TQM. Masih banyak “Quality Control” yang lain untuk menuju TQM.

Sebagai orang yang “awam” dengan mutu, saya mengajak kepada diri sendiri untuk memperbanyak referensi mengenai TQM, dan menelaah jurnal bertema mutu. Karena, tema ini sangat fundamental, terlebih di dunia pendidikan. “Nutrisi” yang “bergizi” dibutuhkan, agar saya dan Anda tidak terlalu “mendewa-dewakan” MBS. Buktinya, Pamatmat di Filipina, mampu menemukan indikator yang berbeda terkait TQM, dimana indikatornya berbeda dengan teori yang selama ini ada yaitu SNP. Setujukah, Anda dengan pendapat saya?

Semarang, 29 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 21.30 – 22.30 WIB.

• Thursday, May 28th, 2020

more…

• Tuesday, May 26th, 2020

Sehabis Ramadhan
Oleh Agung Kuswantoro

Sebentar lagi–empat hari–Ramadhan meninggalkan kita. Jujur, saya masih kebayang bulan suci tersebut. Meskipun, saya full beribadah di Rumah. Namun, rasanya bulan itu masih ada di hati.

Saat Isya tiba. Segera sholat Isya, Tarawih, dan Witir. Saat Sahur, segera menyiapkan makanan. Dan, saat Magrib, saya berbuka puasa. Itulah aktivitas yang saya lakukan.

Namun, saat Syawal datang. Mbokles, rasanya. Ramadhan sudah pergi. Ramadhannya yang pergi. Bukan, saya yang pergi. Karena, Ramadhan itu pasti datang lagi pada 11 bulan berikutnya.

Namun, apakah usia saya dan Anda bisa sepanjang 11 bulan lagi?

Semoga saya bisa mengambil hikmah bulan puasa kemarin. Terlebih, Ramadhan saat pandemi Covid-19. Demikian juga, Idul Fitri saat pandemi Covid-19.

Saya hanya manusia. Hanya bisa merencanakan. Allah yang memutuskan. Rindu Ramadhan. Semoga, hamba-Mu ini bisa dipertemukan pada Ramadhan 1442 Hijriyah. Amin.

Semarang, 27 Mei 2020

more…

• Tuesday, May 26th, 2020

Ibadah Adalah Salah Satu Cara Hidup Sehat
Oleh Agung Kuswantoro

Mau hidup sehat itu harus sadar dulu. Sadar dimulai dari diri sendiri. Bukan, berawal dari orang lain menjadi tidak tepat. Gaya hidup sehat, tetapi selalu diingatkan oleh orang lain. Artinya, diri orang tersebut belum menyadari akan makna hidup sehat.

Awalilah hidup sehat itu dari diri Anda sendiri. Caranya, bagaimana? Kenali diri Anda sendiri, Anda harus kenal betul diri Anda. Jangan sampai orang lain mengetahui informasi yang ada dalam diri Anda, namun Anda tidak – sadar – mengetahuinya.

Meminjam istilah “Johari Window”, bahwa ada empat daerah dalam diri setiap orang. Mengenali diri sendiri itu, termasuk dalam daerah terbuka. Artinya, segala sesuatu mengenai diri saya itu sayalah yang mengetahui.

Contohnya: saya penyuka makanan pedes dengan level 3. Namun jika ia makan makanan pedes pada level 5, maka resiko yang dihadapinya ia sudah siap. Apa itu? Diare atau sakit perut.

Misal lagi, orang yang memiliki gangguan lambung, maka saat Idul Fitri, tidak usah berburu “opor ayam” yang kental santan. Biasa saja. Apa sebab? Ya, betul. Jika terlalu banyak makanan bersantan, maka lambung menjadi sakit. Karena, yang bersangkutan memiliki penyakit mag.

Cara lain agar gaya hidup menjadi sehat adalah rajin beribadah. Rajin beribadah adalah “buah” kesadaran seseorang atas pemahaman suatu agama. Artinya, ibadah implikasi seseorang dalam pengamalan suatu agama.

Ibadah menjadikan otak itu “tajam” dan hati tenang. Imbang antara urusan dunia dan akhirat. Jika cita-citanya “setinggi” langit, namun tidak terwujud, maka penyeimbangnya adalah hati. Otak sudah bekerja, mati-matian. Namun keputusan ada di tangan Tuhan. Apabila cita-cita tidak terwujud, maka hatilah sebagai solusinya.

Beribadah adalah penyeimbang gaya hidup antara dunia dan akhirat. Cara ini lebih ampuh dalam kehidupan seseorang. Yang dibutuhkan oleh seseorang untuk level ibadah yaitu ilmu dan iman. Sehingga, berbuah kesadaran. Dari kesadaran itulah muncul gaya hidup sehat. Salah satunya, adalah beribadah.

Jadi kata kuncinya adalah kesadaran diri. Kesadaran diri menjadi sangat penting dalam gaya hidup sehat. Tanpa, ada orang yang mengingatkan atau “mengoprak-oprak” dalam hidup sehat. Semoga Anda, termasuk yang ada dalam kategori hidup sehat dengan cara beribadah.

Semarang, 26 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 08.00 – 08.30 WIB.

• Monday, May 25th, 2020

Apa Perbedaaan Kontrol Mutu, Jaminan Mutu, dan Mutu Terpadu?
Oleh Agung Kuswantoro

Anda pernah mendengar istilah quality control, quality assurance, dan total quality? Saya yakin pernah mendengarnya. Lalu, apakah Anda tahu arti dari istilah tersebut? Tahu artinya? Quality control itu kontrol mutu, quality assurance itu jaminan mutu. Dan total quality itu mutu terpadu.

Apa makna dari ketiga istilah tersebut? Kontrol mutu itu maksudnya deteksi dan eleminasi/penggantian komponen atau produk yang tidak sesuai dengan standar. Ini adalah proses produksi yang mencari/melacak dan menolak item-item/bagian-bagian yang cacat. Pelakunya, biasanya disebut dengan pemeriksa. Pekerjaannya disebut pemeriksaan. Ada pula yang menyebutnya inspeksi. Tujuan inspeksi/pemeriksaan itu memeriksa standar. Standar telah dipenuhi atau belum.

Jaminan mutu lebih menekankan pada pencegahan produksi. Tujuan jaminan mutu adalah menjamin bahwa proses produksi menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Meminjam istilah Crosby, yaitu zero defects/produk, tanpa cacat itu tujuan dari jaminan mutu.

Sedangkan TQM/Total Quality Management itu pengembangan dari jaminan mutu. TQM bisa dikatakan usaha untuk menciptakan sebuah kultur mutu yang mendorong semua stafnya untuk memuaskan para pelanggan.

TQM ada kaitannya dengan kepuasan pelanggan. Pernahkah mendengar istilah pelanggan adalah raja? Nah, istilah tersebut adalah “produk” dari konsep mutu terpadu.

Dari penjelasan di atas, perhatikanlah benda yang ada di sekitar Anda, misal, bolpoin. Benda yang disebut bolpoin itu, apakah ada unsur kontrol mutu, jaminan mutu, dan mutu terpadu?

Jawablah pertanyaan tersebut, sebagai bukti Anda paham dimana sebuah bolpoin itu ada kontrol mutu, jaminan mutu, dan mutu terpadu. Karena, jika bolpoin itu tidak mengandung ketiga unsur tersebut, maka bolpoin tersebut, pastinya tidak ada hingga saat ini. Artinya, bolpoin itu mengandung suatu mutu. Lalu, dimana letak kontrol mutu, jaminan mutu, dan mutu terpadunya? []

Semarang, 22 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 00.00 – 00.30 WIB.

• Monday, May 25th, 2020

“Kulit” Kebijakan Pendidikan Tiap Jenjang Pendidikan
Oleh Agung Kuswantoro

Materi yang disampaikan oleh Prof. Fakhrudin, M.Pd membahas mengenai kebijakan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMA/SMK. Ternyata, masing-masing jenjang pendidikan memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Namun, bisa dikatakan permasalahan tersebut mirip/identik dengan satuan pendidikan satu sama lain. Dimulai dari isu utama, lalu konsep satuan pendidikan, dan permasalahan yang terjadi di jenjang pendidikan tersebut.

Isu utama diantaranya ekuitas kebutuhan ragam belajar, kurikulum, manajemen guru, dan koordinasi pemerintah dan kebijakan.

Setelah isu muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti: Siapa yang mengajar? Bagaimana sumber dana? Siapkah siswa belajar? Sarana apa saja yang disiapkan untuk belajar? Bagaimana kompetensi belajar? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Baru setelah itu, ada prinsip yang harus ada dalam jenjang pendidikan. Lalu, muncullah kebijakan pendidikan setiap jenjang pendidikan.

Itulah inti dari mata kuliah kebijakan pendidikan yang saya terima. Yang saya tulis hanya “kulitnya” saja. Belum secara detail. Ini hanya “pancingan” saya agar lebih giat lagi belajar kebijakan pendidikan. []

Semarang, 22 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 05.00 – 05.30 WIB.

• Monday, May 25th, 2020

Mantra-Mantra Supervisi Ala Prof. Tri Joko
Oleh Agung Kuswantoro

Pertemuan ke-11 Mata kuliah Supervisi Pendidikan, ada beberapa catatan yang saya tulis. Catatan tersebut saya menyebutnya “mantra”. “Mantra” supervisi. Mengapa saya menyebut “mantra”? Karena, kata kunci supervisi bisa jadi, orang belum memahaminya.

Lalu, apakah mantra supervisi ala Prof. Tri Joko? Berikut “mantra-matranya”:

1. Supervisi itu pembinaan. Supervisi bukan pengawasan.

2. Pengawasan berbeda dengan supervisi. Pengawasan lebih menekankan pada upaya pemeriksaan untuk mencari kesalahan para pelaksana program. Sedangkan, supervisi menekankan pada peningkatan mutu dan pengembangan staf pelaksana program pendidikan.

3. Tidak semua organisasi memiliki supervisi. Karena, supervisi membutuhkan sumber daya yang sangat baik. Namanya saja “super”. Bagaimana mungkin terwujud “super”, jika sumber daya organisasi tidak berkualitas?

4. Supervisi itu sangat jelas. Supervisi itu berwujud. Bagaimana dikatakan supervisi, jika tidak ada hitam dan putih? Atau, apakah ada orang yang mensupervisi tidak memiliki surat keputusan ditetapkan oleh pimpinan lembaga sebagai supervisor? Jika ada, maka pasti, ia bukan supervisor. Karena, supervisor itu pasti memiliki surat keputusan dan output kinerja yang nyata.

5. Tujuan supervisi adalah pengembangan situasi belajar mengajar yang baik melalui pembinaan dan peningkatan profesionalisme. Artinya, melalui supervisi akan muncul peningkatan kualitas.

Itulah “mantra” supervisi yang disampaikan oleh Prof. Tri Joko. “Mantranya” sangat “menusuk” saya. Karena, selama ini, pemahaman saya mengenai supervisi yaitu pengawasan. Ternyata, saya keliru. Bagaimana menurut Anda, “mantranya” sangat “ampuh” tidak?

Semarang, 22 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 00.20 – 00.40 WIB.

• Monday, May 25th, 2020

Refleksi Mid Semester Mata Kuliah Statistika yang Diampu Oleh Prof. Sukestiyarno
Oleh Agung Kuswantoro

Membaca, menelaah, dan menjawab atas soal mid Statistika Pendidikan, ada beberapa yang saya bingung yaitu pada materi uji beda dan analisis jalur.

Untuk materi yang lain, Insya Allah masih bisa mengikuti dan menjawabnya. Walaupun, belum tahu, bahwa jawaban saya itu benar atau salah.

Soal dalam mid semester terdiri dari materi menghitung mean, modus, rentang, varians, dan nilai dalam perhitungan frekuensi yang lain.

Kemudian, materi uji beda/regresi ganda, dan uji jalur. Soal yang dibangun oleh Prof. Sukes itu, unik dan “kokoh” susunan soalnya. Mulai dari alat uji, penentuan hipotesis, makna hasil uji, dan simpulan. Jadi, utuh sebuah soal dalam mengurai jawabannya.

Tidak bisa, hanya menjawab hanya pada hasil penelitian/simpulan penelitian saja. Untuk dapat menuliskan sebuah simpulan, dibutuhkan kerangka di atas. Seperti, uji hipotesis, kriteria menerima/menolak Ho, dan pemaknaan atas hasil penelitian. Baru, ketemu simpulan penelitian.

Jika seorang mahasiswa itu asal menjawab, maka pasti ia tidak paham akan soal ujian mid semester tersebut. Apalagi, waktu mengerjakan mid hanya 90 menit. Bayangkan coba? Wah, pasti harus serius dan cepat menjawab atas soal yang berjumlah tujuh belas nomor tersebut.

Semarang, 22 Mei 2020
Ditulis di Rumah, jam 00.43 – 01.15 WIB.

• Friday, May 22nd, 2020

Idul Fitri Di Saat Pandemi Covid-19
Oleh Agung Kuswantoro

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” (QS. at-Taubah:51).

Malam Ahad (23/5/2020) umat Islam akan mengumandangkan takbir. Di penjuru dunia takbir, tahmid, dan tahlil bergema. Ramai dan hanyut, suara tersebut. Namun, untuk tahun ini, pelaksanaan Idul Fitri, ada yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Apa yang membedakan Idul Fitri tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya? Yaitu, Idul Fitri dalam suasana pandemi Covid-19. Kementerian Agama menganjurkan untuk sholat di rumah bagi daerah yang berzona merah, tidak berziarah ke makam, dan bersilaturahmi melalui media sosial.

Idul Fitri bukan dimaknai “pelonggaran” atau relaksasi, dan kebenaran mutlak. Namun, ada koridor atau aturan dalam pelaksaaan Idul Fitri. Makan, bukan sebanyak-banyaknya. Minum, bukan semengalirnya-ngalirnya. Dan, memakai baju dengan semahal-mahalnya. Hal ini, sangat keliru.

Nabi Muhammad SAW bersabda “Bahwa Idul Fitri, bukanlah untuk mereka yang berpakaian serba mewah. Tapi Idul Fitri itu bagi mereka yang ketaatan dan kepatuhannya meningkat”.

Makna hadis tersebut yaitu Idul Fitri, bukan dimaknai bebas tanpa batas. Bebas harus memperhatikan norma. Terlebih, dalam keadaan ada wabah pandemi Covid-19. Tetap menjaga protokoler kesehatan dengan cara memakai masker, menjaga jarak, tidak bersalaman, dan cuci tangan.

Hukumnya wajib menjaga protokoler kesehatan. Mengapa wajib menjaga protokoler kesehatan? Karena kita sedang berikhtiar. Covid-19 ini, sangat berat. Bisa melumpuhkan perekonomian dan sektor lainnya, seperti pariwisata, transportasi, pendidikan, sosial, dan budaya. Dan, belum ada tanda-tanda berakhir Covid-19 di dunia ini hilang.

Untuk menghadapi Covid-19 dibutuhkan ikhtiar/usaha yang diimbangi dengan sifat sabar. Sabar adalah salah satu hasil didikan di ‘sekolah’ Ramadhan. Sabar adalah salah satu ajaran pada bulan suci Ramadhan. Puasa itu harus sabar. Ada ketentuannya, kapan makan dan tidak makan. Itulah sabar. Nabi Muhammad SAW mengatakan “Tidaklah seseorang diberikan pemberian yang lebih baik dan luas daripada sifat sabar (HR. Bukhori dan Muslim).

Idul Fitri mengantarkan seseorang kepada “kemenangan sejati”. Kata Id , artinya kembali. Fitri, artinya suci. Kembali kepada kesucian, itu makna secara lafal Idul Fitri. Hakikat manusia adalah suci. Lahir, tanpa dosa. Kesuciannya, diwujudkan dengan suara tangis saat lahir. Namun, dalam perjalanan hidupnya, ia/manusia mengalami fluktuatif/naik turun, keimanan dan (buruk dan baik), akhlaknya. Tidak selalu naik iman dan selalu baik akhlaknya. Karena, memang tabiat sebagai manusia. Oleh karenanya, di hari yang baik ini, mari membuka diri kita untuk saling memaafkan. ‘Tiket’ memaafkan, hanya sederhana, yaitu ikhlas. Mulut bisa jadi, mudah mengatakan ikhlas atas kesalahan orang lain yang diperbuat kepadanya. Tetapi, hati belum tentu merelakan atas kesalahan orang tersebut kepadanya.

Ajaklah diri sendiri untuk memaafkan. Yang merasa muda minta maaf kepada orang tua. Anak meminta maaf kepada ibu. Adik meminta maaf kepada kakak. Dan, istri meminta maaf kepada suami. Dengan ucapan “Mohon maaf atas kesalahan yang saya lakukan baik yang disengaja dan tidak disengaja”. Lalu, sambutlah ucapan itu oleh suami, kakak, ibu, dan orang yang lebih tua akan mengatakan “Saya terima maafmu, Nak, Mas, Dik, dan sebutan lainnya, dengan lapang dada dan tulus”.

Meminta maaf, tidak harus melihat status seseorang. Imam meminta maaf kepada makmum. Presiden meminta maaf kepada rakyat. Ustad meminta maaf kepada santri. Dan, kiai meminta maaf kepada masyarakatnya.

Demikian juga, orang yang hidup meminta maaf atau mendoakan kepada yang telah meninggal. Bisa jadi yang meninggal adalah bapak, ibu, dan guru kita. Dimana, untuk saat ini, yang mendoakan masih hidup. Kelak, yang mendoakan pasti akan meninggal dunia pula.

Hanya surat al-Fatihah-lah yang bisa disampaikan oleh yang meminta maaf. Maaf bisa terucap, namun yang bersangkutan telah meninggal. Sehingga, hanya doa yang bisa disampaikan kepada almarhum tersebut.

Marilah menjadi hamba yang ‘bergelar’ fa’izin. Pada hari ini, ada beberapa orang sedang mendapatkan ‘gelar’ fa’izin. Arti fa’izin adalah bahagia. Bahagia, karena batinnya tenang. Batin tenang karena, telah “digodok” atau lulus setelah beribadah di bulan Ramadhan. Karena, belum tentu orang berpuasa dan beribadah dengan baik pada bulan Ramadhan.

Ada yang mengatakan, bahwa Idul Fitri itu bagi orang yang berpuasa. Hal ini, karena orang tersebut telah beribadah di bulan Ramadhan. Sedangkan, lebaran itu bagi orang siapa saja. Termasuk, bagi orang yang tidak berpuasa dan tidak beribadah di bulan Ramadhan. Karena, lebaran identik dengan budaya, yaitu budaya mudik, halal bihalal, dan salam-salaman.

Semoga ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT. Dan, Allah mengampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan pada bulan mulia tersebut. []

Ada beberapa simpulan dari tulisan ini, yaitu:

1. Idul Fitri tahun ini berbeda dengan tahun yang sebelum-belumnya. Berbeda karena adanya Covid-19. Karena berbeda, sehingga umat Islam harus sabar di era pandemi Covid-19. Sabar adalah “buah” atau hasil didikan dari ibadah puasa.

2. Idul Fitri, bukan bermakna kebebasan tanpa batas. Atau, relaksasi. Namun, Idul Fitri dimaknai kemenangan sejati atas maksiat dan perbuatan buruk yang telah ditinggalkan selama bulan Ramadhan.

3. Umat Islam harus ikhtiar agar tidak terjangkit/terkena virus Covid-19. Ikhtiar sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT.

4. Semoga kita menjadi hamba yang ‘bergelar’ fa’izin. Artinya, hamba yang bahagia karena telah merelakan dan mengikhlaskan kesalahan dirinya, dan mengikhlaskan kesalahan orang lain yang telah dilakukan kepadanya.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk sesama manusia. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Mohon Maaf, lahir dan batin. []

Semarang, 22 Mei 2020
Ditulis di Kantor UPT Kearsipan UNNES jam 10.00 – 11.30 WIB.

• Wednesday, May 13th, 2020

Menulis Materi Perkuliahan
Oleh Agung Kuswantoro

Setiap perkuliahan usai, saya selalu berusaha membuat ulasan atas materi yang disampaikan. Sederhana saja, tujuannya agar materi/pesannya ‘mengena’ atau ‘membekas’ dalam otak. Syukur, ‘masuk’ ke hati.

Namun, yang perlu dipahami dalam hal ini adalah penulisannya. Saat menulis saya butuh banyak referensi. Minimal 3 hingga 4 buku, beberapa artikel ilmiah, dan beberapa sumber berita uptodate (kompas/detik).

Dari beberapa referensi di atas, kemudian saya “ramu” menjadi sebuah tulisan. Pastinya, tulisan ‘ala’ saya. Penjelasan dosen dan referensi yang saya baca menjadi kekuatan saya untuk menulis ulasan mata kuliah yang barusan disampaikan oleh dosen.

Setelah jadi, biasanya hasil tulisan tersebut, saya kirimkan ke dosen yang bersangkutan. Tujuannya, untuk mendapatkan koreksi/masukan atas tulisan ‘sederhana’ saya itu. Ada dosen yang mengapresiasikan dengan menambahkan keterangan. Ada dosen yang memberi keterangan dengan kalimat pendek seperti “good”, menarik, dan kritis. Dan, ada pula dosen yang memberi keterangan dengan motion berupa jempol.

Setelah mendapatkan respon, saya meminta izin ke dosen yang bersangkutan untuk saya share/bagikan ke grup whatshapp kelas/mata kuliah yang sesuai tema kajian. Biasanya, dosen setuju dengan “permintaan’ saya untuk men-share-nya.

Singkat cerita, saya men-share tulisan saya itu ke grup whatshap, facebook, blog (pribadi dan lembaga), dan memindahkan filenya ke kumpulan data sesuai mata kuliah yang saya terima.

Saya disiplin memindahkan file tersebut ke folder saya. Jika tidak disiplin, maka akan menumpuk file di luar folder. Artinya, urutan yang saya tulis itu, tidak jelas.

Bisa dikatakan, saya menulis tiap hari dengan tema berbeda-beda. Karena, tulisan selalu saya ‘produksi’/ciptakan, sehingga saya harus disiplin memindahkan file tersebut seusai folder temanya.

Ibaratnya, celengan dan uang. Celengan itu folder tema, sedangkan uang itu file tulisan. Jadi, harus rajin memasukkan file ke folder. Rajin memasukkan uang ke celengan.

Harapannya, ternyata file-file itu bisa menjadi sebuah buku. Buku sederhana saja. Ga usah yang berbobot sekali, namun segala isinya adalah tulisan saya. “Gaya” saya. Dan, “agung” banget.

Saya pernah melakukan hal ini yang serupa, pada suatu mata kuliah. Hampir setiap pembelajaran menulis materi. Hasilnya, kumpulan materi tersebut, menjadi buku. Sehingga, buku-buku saya itu, mungkin berisi tidak “berbobot” tetapi ada maknanya. Karena, memang saya tidak memasukkan teori-teori yang berat, layaknya bab dua dalam sebuah karya ilmiah, yaitu kajian pustaka/teori. Namun, tulisan saya berisi “ulasan”. Ulasan itu berbeda dengan teori. Tapi, dalam membuat ulasan, harus berdasarkan teori.

Awal tulisan saya dimulai dengan tulisan tangan di buku tulis. Sudah banyak bolpoin dan buku tulis yang saya habiskan untuk menulis ulasan materi perkuliahan. Setelah itu, saya dibantu teman untuk mengetiknya. Teman saya, namanya Pak Sukardi. Ia bisa membaca tulisan saya, walaupun tidak jelas.

Itulah cara saya untuk ‘mengikat’ suatu ilmu. Harapannya, saya bisa menghormati ilmu dengan cara menulis setiap kali perkuliahan. File demi file saya jadikan folder. Tujuannya terkenang untuk diri saya. Syukur, bisa tercetak menjadi buku, sehingga bisa dibaca oleh orang lain. Semoga goresan tinta saya itu bermanfaat bagi orang lain. Inilah cara saya untuk belajar. Semoga bermanfaat.

Semarang, 10 Mei 2020
Ditulis di Rumah jam 11.00 – 11.45 WIB