Archive for ◊ February, 2024 ◊

• Tuesday, February 27th, 2024

Praktik penyusutan arsip di unit Kantor Pelayanan Pengadaan (KPP) dan bagian Akuntansi. Semoga tahun ini, bisa menyusutkan arsip dengan lancar. Amin.

• Monday, February 26th, 2024

Bekerja Saja Belum Tentu Sukses
Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Ir. Arman Hakim Nasution, M.Eng seorang penulis buku “Creative Thinking: How to Get Success in Your Future Career” yang menyampaikan kepada kita, bahwa dalam berkarir harus kreatif. Itu pun, jika kita mau karir yang sukses untuk masa depan. Artinya: jika seseorang sudah mendapatkan pekerjaan, belum tentu dikatakan sukses. Karena sukses berkarir, salah satunya didukung oleh kreativitas.

Lalu, apa itu kreativitas? Kreativitas sebagai salah satu dari tiga unsur yaitu(1) melihat dengan sudut pandang (perspektif); yang baru; (2) menemukan hubungan baru; (3) dan membentuk kombinasi baru dari objek, konsep, atau fenomena (hal.13).

Peran kreativitas sangat menunjang dalam karir seseorang. Menurut pakar faktor skill menyumbang 85% kesuksesan karir. Berikut faktor soft skill tersebut: (1) kemandirian, (2) kerjasama tim, (3) kepemimpinan, (4) interpersonal, (5) menjual gagasan, (6) kejujuran, dan (7) berpikir taktis dan strategis.

Adapun proses kreativitas dimulai dari: penemuan, invensi, inovasi, dan paten. Saat penemuan ide, otak kananlah yang paling berperan. Timbulnya ide biasanya saat bersantai dikarenakan, telah melepaskan pengendalian otak kiri dan mengalihkannya pada otak kanan. Fokus pada hal yang mendukung ide, akan menghasilkan inovasi yang bernilai ekonomis. Orang dengan ide baru adalah orang aneh hingga ide tersebut berhasil diimplementasikan.

Tak selamanya kreativitas itu “mulus” diwujudkan. Ada lima hambatan kreativitas yaitu (1) hambatan perspektif, (2) hambatan emosi, (3) hambatan kultural, (4) hambatan lingkungan, (5) hambatan intelektual. Contoh sikap penghambat kreativitas seperti: sikap negatif, taat pada aturan, membuat asumsi, stres yang berlebihan, takut gagal, berkeyakinan bahwa diri sendiri tidak kreatif, dan terlalu mengandalkan logika.

Sukses harus fokus pada tujuan. Agar kita selalu fokus dan tekun pada tujuan yang telah ditetapkan maka: (1) harus tetap komitmen pada mimpi besar, (2) bekerja keras dan cerdas, (3) tekun dan terus berdoa. Jika kita disiplin melakukan tersebut, Insya Allah kesuksesan ada di depan mata. Tetaplah berkreativitas agar karir tambah sukses!

Ditulis di Kolam Renang GKS jam 15.30 – 15.45 Wib.
25 Februari 2024/15 Syaban 1445 H

• Tuesday, February 20th, 2024

Healing/Rekreasi” Batin

Oleh Agung Kuswantoro

Guru saya mengatakan bahwa “hidup harus seimbang”. Seimbang ini memiliki makna tengah-tengah, bisa dimaknai “tidak terlalu ke kiri dan tidak terlalu ke kanan”.

Atau, tidak terlalu keduniaan, dan tetap memikirkan akhirat. Tidak mengunggulkan otak, tetapi melibatkan hati. Tidak selalu mengunggulkan usaha secara maksimal, tetapi ada usaha berdoa. Uang bukanlah segalanya. Tetapi ada kehendak Allah yang harus dipahami dalam setiap kegiatan. Itulah makna seimbang sederhananya.

Cara agar bisa seimbang dalam hidup adalah melakukan “rekreasi” hati/healing batin dengan cara membaca Al-Qur’an, hadist, kitab, buku, berzikir, dan sholat. Utamakan waktu seperti malam jumat atau kamis sore agar tubuh jangan terlalu capek untuk melakukan kegiatan: tahlil, baca surat Yasin, atau surat al-Kahfi, baca sholawat, baca al-barzanji, baca ad-diba, atau menyiapkan diri sholat hajat setelah sholat Isya, sholat tahajud, dan witir.

Tengah malamnya bisa melakukan zikir atau baca al-Qur’an dan hadist, termasuk baca kitab. Setiap kalimat, paragraf, dan judul pahami dengan baik. Lalu, resapi kandungannya. Pilihlah buku-buku/kitab-kitab dengan pengarang/penulis yang kredibel karena berdampak pada pikiran kita. Disitulah “sumber”, sehingga “sumber” sebagai pokok harus ada, dalil atau rujukan berupa al Qur’an dan hadist.

Cobalah aktivitas “rekreasi” batin, minimal kita melakukan seminggu sekali di tengah kesibukan yang tiada henti. Dengan healing batin, Insya Allah, hidup menjadi seimbang. Tidak semata-mata hanya dunia yang “dikejar”, tetapi ada kehidupan setelah dunia yang dimulai dari kematian. Hanya orang yang bisa menyeimbangkanlah yang dapat memahami – kondisi seperti ini. Karena, ia berpikir pada otak kanan dan otak kiri. Semoga kita bisa “berekreasi” hati/healing batin. []

Semarang, 18 Februari 2024/ 7 Syaban 1445 Hijriah.

Ditulis di Rumah jam 02.45 – 02.55 Wib.

• Friday, February 16th, 2024

Makam dan Masjid
Oleh Agung Kuswantoro

Makam adalah sebuah tempat untuk mengingatkan, kita bahwa hidup tak selamanya di dunia. Ada alam setelah kematian, yaiu alam akhirat.

Demikian juga masjid adalah tempat untuk sholat. Sholat sebagai sarana komunikasi antara makhluk dengan pencipta. Sholat sebagai penghubung di antara manasia dan Tuhan.

Menurut saya, ke-2 tempat ini, tepat untuk merefleksikan diri sebagai manusia dari ‘hingar bingar’ keramaian dunia. Kadang hidup butuh sepi. Tempat yang sepi dan nyaman untuk merefleksikan kehidupan adalah masjid dan makam. Oleh karenanya, setiap ada waktu, mari kunjungi ke-2 tersebut. Tempat tersebut untuk merefleksikan diri dengan berdoa dan sholat di masjid; serta jenguk saudara yang sudah meninggal dunia di makam. []

Semarang, 1 Sya’ban 1445 H/ 11 Februari 2024. Ditulis di rumah jam 05.35 – 05.40 Wib.

• Thursday, February 15th, 2024

Refreshing Akademik

Oleh Agung Kuswantoro

Di sela-sela waktu tidak mengajar mahasiswa, saya menyempatkan waktu untuk refreshing akademik dengan pergi ke gedung Rumah Ilmu Perpustakaan UNNES untuk membaca buku (Rabu, 13 Februari 2024).

Mata dan pikiran saya langsung ke buku bertema sosial, pendidikan, agama, dan manajemen. Tak disangka saya menemukan buku (lama) yang saya tulis dengan para dosen senior yang sudah meninggal dunia yaitu: Drs. Sularso Mulyono dan Drs. Partono, M.Pd. Adapun judul bukunya adalah “Manajemen Kearsipan”. Selain itu, saya juga menemukan buku saya yang saya tulis dengan dosen senior lainnya –yang sudah pensiun—yaitu Drs. Marimin, M.Pd. adapun bukunya adalah “Keyboarding 10 Jari Buta”.

Aktivitas saya selama di perpustakaan UNNES, saya pinjam 5 buku tetang pendidikan dan manajemen, dimana tema tersebut sesuai dengan mata kuliah yang saya ampu/ajar.

Dengan menemukan buku yang saya tulis, dimana telah ‘berusia’ kurang lebih 10 tahun yang lalu, menjadikan saya ingin “meng-upgrade” mengenai buku yang pernah saya tulis tersebut. Menurut saya buku-buku tersebut dianggap ‘jadul’ terkait dengan perkembangan ilmu/informasi sekarang, seperti: kearsipan berbasis access, pendidikan administrasi perkantoran berbasis TIK, manajemen kearsipan, arsip pembelajaran berbasis access, dan beberapa buku yang saya tulis lainnya.

Mungkin sudah saatnya saya mulai meningkatkan isi kualitas buku sesuai dengan kondisi saat ini, seperti AI, digitalisasi, society 5.0, atau kekinian lainnya yang sedang trend saat ini.

Mohon doanya agar saya bisa mampu merevisinya, sehingga pembaca “agung lover pun” masih tetap setia membaca buku saya. Terima kasih atas perhatian dan masukan selama ini kepada pembaca buku saya. []

Semarang, 13 Februari 2024

Ditulis di Gedung Kearsipan lantai 2. Jam 14.15 – 14.30 Wib.

• Thursday, February 15th, 2024

Ilmu “Alat”

Oleh Agung Kuswantoro

Banyak ponpes saat ini, namun yang perlu dipahami bersama adalah tetap mengkaji ilmu alat seperti bahasa Arab, sorof, nahwu, ‘ilal – irob, balaghoh, dan ilmu “alat” lainnya. Meskipun ada hafalan al-Qur’an, namun jangan lupa tetap belajar ilmu “alat”, karena ilmu “alat” inilah yang menjadikan kita lebih mudah dalam memahami akan sebuah ayat. Waallahu’alam. [ ]

Sulang, Rembang. 9 Februari 2024/ 28 Rojab 1445 Hijriah.

Ditulis jam 09.55 – 10.00 Wib.

• Thursday, February 15th, 2024

Anak

Oleh Agung Kuswantoro

Tidak selamanya, anak hidup dengan orang tua. Tiap anak, pasti punya masa hidup bersama keluarga. Ada kalanya, anak hidup dengan orang tua. Ada kalanya, anak hidup (latihan) mandiri.

Meskipun tidak bersama dengan orang tua, bukan berarti harus dilepas 100% oleh orang tua. Namun, bukan berarti anak harus “digenggam” oleh orang tua. Biarlah, anak dewasa dengan caranya. Orang tua tetap mengarahkan keinginan. Orang tua tetap memberikan nasihat dan kebajikan. Suatu saat anak, akan memahami nasihat dan kebajikan yang dimaksudkan orang tua. Tetaplah berusaha yang terbaik untuk anak. Karena anak hanyalah titipan Allah. []

Sulang, Rembang. 9 Februari 2024/ 28 Rojab 1445 Hijriah.

Ditulis jam 09.30 – 09.36 Wib.

• Thursday, February 15th, 2024

Sholat dan Masjid

Oleh Agung Kusantoro

28 Rojab 1445 Hijriah (9 Februari 2024), saya posisi di Rembang, dimana masyarakatnya sangat kental dengan agama Islam. Sebelumnya, saya menyempatkan ziarah ke makam kiai Qostur dan kiai Chozin (ke-2 nya, pakde saya). Pada malam harinya, saya mendapatkan kabar dari NUO (Nasaruddin Umar Office) bahwa masjid Istiqlal oleh Unesco dijadikan masjid percontohan penyelenggaraan ibadahnya (penyelenggaraan sholat dan kajian-kajiannya). Lalu, saya berpikir—tepat pada 27 Rojab 1445 Hijriyah (8 Februari 2024)—dimana pada peristiwa tersebut sholat diwajibkan sejumlah 5 kali sehari.

Pikiran saya tertuju adalah sholat dan masjid. Kedua ini (sholat dan masjid) adalah sebuah keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. Ada sholat, maka ada masjid. Tidak ada masjid, maka tidak ada sholat. Pertanyaannya adalah masjid seperti apa yang bisa mengaitkan dengan sholat?

Dalam pengamatan saya: tidak semua masjid mampu menyelenggarakan dengan baik sholatnya. Ada masjid namun belum tentu, ada imamnya. Ada masjid, namun belum ada makmum/jamaah yang akan sholat. Masjid lebih cenderung sebagai tempat melakukan sebuah aktivitas/kegiatan tertentu. Namun belum terlaksana kegiatan penyelenggaraan sholatnya. Saat sholat jamaah rowatib tiba, justru yang datang sedikit/kurang dari 3 orang. Bahkan, tidak ada penyelenggaraan sholat saat rowatib saat waktu sholat tiba. Namun, kegiatan/peristiwa yang tidak ada hubungannya dengan masjid dengan ramai-ramai datang ke masjid.

Hal seperti inilah ynag belum “sreg” dalam hati saya, dimana fungsi masjid yang utama adalah melaksanakan sholat. Tugas utama takmir adalah menyelenggarakan pelaksanaan sholat 5 waktu sehari dengan baik sehingga jamaah nyaman beribadah, mungkin contohnya adalah masjid Istiqlal.

Di masjid Istiqlal, sebelum sholat, jamaah sudah disajikan lantunan ayat suci al Qur’an secara oral dari manusia (bukan suara kaset MP3), kemudian disajikan suara tarkhim secara oral manusia (bukan kaset MP3), lalu adzan. Setelah itu, pengumuman siapa imam dan muadzin. Kemudian, pengumuman mengenai memakai pakaian yang baik saat sholat dan mengisi barisan depan karena sholat akan segera dimulai. Setelah itu sholat, kemudian kajian setelah sholat.

Bayangkan satu sholat saja, seperti itu. Lalu, betapa nikmatnya sholat lima waktu di masjid Istiqlal? Subhanallah.

Mungkin cara seperti inilah PBB melalui Unesco menjadikan masjid Istiqlal sebagai contoh/model dalam penyelenggaraan ibadah – kajian yang baik dan terbuka untuk umum.

Mari perhatikan masjid di sekitar kita. Baru mau ke masjid, atau “baru” melakukan ibadah saja, “sudah” ada masukan: agar ini, itu dari seseorang; padahal yang memberi masukan tidak pernah pergi atau melaksanakan ibadah sholat lima waktu di masjid tersebut. Inilah fenomena yang saya pernah lihat dan amati.

Harapan dan doa saya di peringatan Isro Mikroj tahun 2024 ini: semua masjid-masjid yang kita rasakan dan jumpai bisa seperti masjid Istiqlal sebagai contoh terbaik saat ini.  Semoga kita bisa melaksanakan sholat di masjid sebagaimana ajaran guru kita. Amin. []

Ditulis di Rembang,9 Februari 2024

Jam 04.45 – 05.04 Wib. 28 Rojab 1445 H.

• Thursday, February 15th, 2024

Sholatnya, Para Sufi

Oleh Agun Kusantoro

Beberapa hari ini, saya  menikmati bacaan buku “Sholat Sufistik: Meresapi Makna Tersirat Gerakan dan Bacaan Sholat” karangan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Menurut Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, bahwa perbuatan sholat ini memiliki nilai yang sangat besar dalam sebuah perjalanan hidup/mikroj seseorang. Barangkali diantara Bapak Ibu tertarik untuk belajar bersama, saya pun akan mengulasnya beberapa kajian atau poinnya, seperti makna sholat, hakikat niat, takbir, hingga salam.

Dengan belajar dan membaca kajan Nasaruddin Umar menjadikan saya memahami sebuah sholat dan maknanya. Lalu, insya Allah berdampak dalam kehidupan pribadi yang lebih baik. Amin. []

Ditulis di Rembang, 9 Februari 2024

28 Rojab 1445 H.

Jam 05.00 – 05.05 Wib