Archive for ◊ September, 2023 ◊

• Saturday, September 30th, 2023

Safinatunnajah (2): Mengapa Pada Pasal Pertama Berupa Rukun Islam dan Rukun Iman?
Oleh Agung Kuswantoro

Selasa (26 September 2023) adalah pertemuan ketiga kajian yang saya ampu. Pada pertemuan tersebut membahas pasal tentang rukun islam dan rukun iman.

Adapun rukun islam ada lima yaitu (1) bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah; (2) mendirikan atau mengerjakan solat lima waktu; (3) mengeluarkan zakat; (4) berpuasa di bulan Ramadhan; dan (5) menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu perjalanan.

Sedangkan rukun iman ada enam yaitu (1) beriman kepada Allah; (2) beriman kepada Malaikat; (3) beriman kepada kitab; (4) beriman kepada para Rosul; 5) beriman kepada hari akhir; dan (6) beriman kepada baik dan buruknya takdir Allah.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan: mengapa pasal/pembahasan rukun Islam dan iman diletakkan pada awal kitab Safinatunnajah? Jawabnya: karena islam dan iman sebagai dasar/syarat dalam melakukan sebuah ibadah. Misal: pada pasal syarat sah wudhu yang pertama adalah islam. Lalu, pada pasal syarat wajib puasa yang pertama adalah islam. Demikian juga, syarat wajib pelaksanaan ibadah haji yang pertama adalah islam.

Pastinya, dalam melakukan ibadah-ibadah tersebut, ada rasa kepercayaan terhadap wujud Allah. Rasa percaya itulah namanya iman. Tidak mungkin, seseorang akan melakukan sebuah ibadah, tanpa ada rasa iman. Lillahi ta’ala-nya, harus ada. Jika lillahi ta’ala-nya tidak ada, maka yang muncul bukan rasa “iman” tetapi kebergantungan kepada sesuatu selain Allah.

Oleh karenanya, rukun islam dan rukun iman adalah sebuah “pondasi” atau dasar seseorang dalam menjalankan sebuah ibadah. Jadi, apabila ada seseorang yang “belum islam”, namun melakukan wudhu, puasa, haji, atau ibadah lainnya, maka wudhu, puasa, haji, atau ibadah orang tersebut, tidaklah sah.

Yuk, perkuat rukun islam dan rukun iman kita agar kualitas ibadah kita semakin lebih baik di mata Allah. Wallahu ‘alam. []

Semarang, 27 September 2023
Ditulis di Rumah jam 21.00 – 21.12 Wib.s

• Thursday, September 28th, 2023

Belajar Literasi dari Suhu Literasi

Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Much Khoiri, suhu literasi saya dalam belajar bagaimana “konsisten” untuk bisa menulis dan menjaga “spirit” literasi.

Ada dua komunitas yang saya ikuti yaitu: SPK dan RVL. Namun, RVL sudah tidak aktif lagi, karena saya tidak disiplin. Dari ke-2 komunitas tersebut, disitulah saya bertemu dengan “suhu” literasi, Much Khoiri.

Hal-hal yang saya dapat peroleh dari Pak Khoiri –sebutan Much Khoiri.— adalah (1) disiplin menulis; (2) komitmen terhadap diri sendiri; (3) memahami kondisi orang lain; (4) tegas; (5) selalu memberikan semangat untuk menulis.

Meskipun, saya “didepak” oleh Pak Khoiri dari RVL, namun saya masih bisa bersilaturahim di SPK. Pak Khoiri mengapresiasi tulisan-tulisan saya yang berupa kajian dan kecepatan menulis saya. Bahkan, tulisan saya disaksikan oleh Pak Khoiri berisikan kebajikan yang membawa amal kebaikan.

Sebenarnya, ketika saya menulis itu, ya “asal” menulis saja. Artinya: saat menulis, tidak ada berharap mendapat respon dari pembaca. Alhamdulillah, ternyata tulisan saya mendapatkan respon dari Pak Khoir.

Pak Khoiri memahami kondisi saya, dimana waktu itu, tidak bisa hadir Kopdar RVL di Yogyakarta karena “kesibukan” menjelang ujian tertutup dan terbuka disertasi saya.

Sifat “keorangtuaan” berliterasi itulah yang jarang dimiliki oleh kebanyakan oleh Pak Khoiri. Terlebih menduduki posisi “dewan penasihat” literasi di SPK. Jadi, tidak “emosional” dalam membuat sebuah keputusan.

Pak Khoiri memberikan tips-tips kepada saya dalam mengelola sebuah komunitas kepenulisan. Dimana pengurus harus memberi teladan menulis. Pengurusnya dulu yang rajin menulis, baru, para anggota menulis sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

Itulah pesan-pesan Pak Khoiri dalam Kopdar SPK di UNESA, Sabtu (9 September 2023). Dalam Kopdar tersebut, saya belum bisa hadir karena rezki waktu itu, belum cukup untuk ke Surabaya.

Selain mendapatkan motivasi dari Pak Khoiri, saya juga mendapatkan motivasi dari Prof. Mohammad Chirzin, dimana komunitas kepenulisan diharapkan agar tetap hidup. Cara menghidupkannya adalah rajin menulis dari setiap anggotanya.

Dari SPK ini, saya banyak belajar mengenai semangat menulis dari SPK Tulungagung, dimana “subkomunitas” tersebut mampu eksis. Bahkan, mampu menghasilkan buletin dan rutin mengadakan kegiatan bedah buku.

Terima kasih para suhu SPK yang mengajarkan kepada saya dalam belajar menulis itu, harus ada “paksaan” diri agar menulis. Inti dari kegiatan menulis, ya menulis itu sendiri.

Terima kasih kepada ketua, pengurus, penasihat SPK atas terlaksananya Kopdar di UNESA yang sukses. Insya Allah kegiatan tersebut memberikan manfaat dan kebaikan untuk sesama. Mari, kita tingkatkan lagi kualitas dan kuantitas menulis kita dengan memaksimalkan komunitas kepenulisan yang ada, seperti SPK ini. []

Semarang, 24 September 2023

Ditulis di Rumah jam 03.50 – 04.05 Wib.

Agung Kuswantoro, dosen pendidikan ekonomi administrasi perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang dan penulis buku bertema pendidikan dan sosial. Email: [email protected]; Nomor HP/WA : 08179599354.

• Saturday, September 16th, 2023

Safinatunnajah (1): Pembukaan dengan Memuji Nama Allah dan Solawat Nabi Muhammad Saw

Oleh Agung Kuswantoro

Selasa malam (12 September 2023) adalah pertemuan pertama untuk kajian Kitab Safinatunnajah. Alhamdulillah ada 9 mahasantri yang hadir. Usai acara Rabu Wekasan di Musolla, kajian langsung dimulai.

Dalam pembukaan kitab tersebut berisikan: (1) Puji syukur terhadap Allah yang Menuhani segala alam dan (2) sholawat serta salam dipanjatkan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, dan sahabatnya.

Berikut saya tulis makna dari pembukaan/muqoddimah dari Kitab Safinatunnajah: ”Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Hanya kepada-Nyalah kami mohon pertolongan untuk urusan dunia dan agama. Semoga Allah memberi rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. penutup para nabi, semoga pula tercurahkan atas keluarga dan para sahabat Nabi keseluruhan. Tiada daya untuk menghindart dari maksiat dan tiada upaya untuk melakukan kebajikan melainkan dengan mendapat pertolongan dari Allah Yang Maha Luhur lagi Maha Agung”.

Dari muqoddimah/pembukaan tersebut ada poin/prinsip yang harus disampaikan saat muqoddinah/pembukaan adalah: (1) Puji syukur atas kehadiran Allah dan (2) Solawat Nabi Muhammad Saw, keluarga, dan sahabatnya. []

Semarang, 14 September 2023

Ditulis di kelurahan Pudakpayung dan GKS, jam 08.00 – 08.10 WIb. dan 12.10 – 12.14 Wib.

• Monday, September 11th, 2023

Mengaji (Lagi) Kitab Safinatunnaajah
Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Kitab Safinatunnajah yang digunakan dalam kajian Kostren/Kos Pesantren daerah Patemon, Gunungpati, Semarang. Saya diajak oleh teman saya – sekaligus yang memiliki Kostren tersebut – untuk belajar bersama dengan para santrinya.

Alhamdulillah ada 9 santri/santriwati yang hadir. Dari ke-9 santri berpendapat, bahwa pentingnya mengkaji kitab Safinatunnajah. Sebelumnya, saya menyampaikan beberapa kitab yang sudah saya sampaikan/kaji yaitu Arbain Nawawi, ‘Aqidatul Awwam, Safinatunnnajah, Hidayatus Sibyan, Albarzanji, dan beberapa kitab lainnya.

Hasil diskusi dengan para santri/santriwati disepakati untuk mengaji kitab fiqih dasar tersebut. Harapan dan doa semoga saya dan para santri bisa langgeng / istiqomah dalam belajar bersama kitab sederhana ini. Amin. [ ]

Semarang, 8 September 2023
Ditulis di Kantor UPT Kearsipan. Jum’at, Jam 07.30 – 07.35 Wib.

• Friday, September 08th, 2023

Membuka Kenangan dengan Membuka dan Membaca Kitab
Oleh Agung Kuswantoro

Tiap pulang kampung, hal pertama usai sungkem orang tua dan sejenak bersantai dengan lingkungan sekitar adalah membuka dan membaca kitab. Kali ini, saya membuka kitab Adzkar dan Jawahirul Bukhori.

Sewaktu saya ngaji kitab Adzkar yang mengampu adalah KH. Drs. Romadlon SZ, sedangkan pengampu kitab Jawahirul Bukhori adalah almarhum Kiai KH Abdullah Sidiq. Kedua kiai tersebut adalah pengasuh Ponpes Salafiyah Kauman Pemalang.

Terlihat dalam tanda tangan ke-2 pengampu kitab tersebut, bahwa kitab Jawahirul Bukhori sudah khatam tiga kali. Sedangkan kitab Adzkar, Alhamdulillah sudah khatam sekali.

Dengan membuka dan membaca kitab ini menjadikan lebih bersyukur terhadap kehidupan. Tak selamanya orang bisa ngaji terus. Dan, tak selamanya orang bisa ngajar terus. Mungkin tepatnya adalah “semua ada waktunya”.

Bisa jadi, pada tahun 1990-an, saya itu santri. Kemudian tahun 2014 – 2021 saya itu ustad. Entah, apalagi peran saya pada tahun-tahun berikutnya. Itulah fase kehidupan, hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Mari, kita hormati waktu dengan berbuat baik. Bukalah memori Anda dengan membuka kitab atau tulisan Anda sewaktu belajar dulu. Cobalah, betapa nikmatnya masa perjuangan mencari ilmu pada waktu itu. Insya Allah. []

Semarang, 3 September 2023
Ditulis di Rumah jam 15.30 – 15.45 Wib.

• Wednesday, September 06th, 2023

Ujian Mid Semester Madrasah
Oleh Agung Kuswantoro

Sudah lama (3 bulanan) – saya sebagai ustad – memberikan materi. Sekarang, tiba saatnya ujian mid semester.

Ada dua santri yang saya ajar, maka ada dua soal pula yang saya berikan. Pastinya, soal berdasarkan materi-materi yang sudah saya berikan kepadanya. Adapun materi-materinya seperti: tauhid, fiqih, imla, bahasa Arab, tarikh, bahasa Arab, dan lainnya.

Penilaiannya adalah per materi. Jadi, soal dijadikan satu, lalu dikelompokkan berdasarkan materi-materinya.

Alhamdulillah, untuk santri Mubin bisa mengerjakan dengan baik, kurang lebih 95% menguasi materi. Santri Syafa, Alhamdulillah bisa mengerjakan dengan baik juga (90% menguasai materi).

Dengan adanya ujian ini, menjadikan umpan balik saya dalam memperbaiki materi-materi tertentu yang harus didalami oleh santri. Misal: santri Mubin perlu ditingkatkan dalam materi fiqih dan menulis imla/pegon, sedangkan santri Syafa perlu ditingkatkan dalam materi tauhid.

Meskipun, madrasah dilakukan di rumah, namun standar pendidikan, layaknya Madrasah Diniyah (Madin/Sekolah Arab).

Doa dan harapan besar semoga kelak ada madrasah dengan model seperti ni bisa diterima oleh masyarakat.

Tetap semangat santri-santriku. Dan, tetap semangat juga untuk saya sendiri (selaku ustad) dan ustadahnya (ustadah Lu’lu’). Semoga Allah selalu memberikan petunjuk kebaikan untuk kita. Amin. [].

Pemalang, 3 September 2023
Ditulis di Rumah Pemalang, jam 03.55 – 04.01 Wib.

• Friday, September 01st, 2023

Dibutuhkan Komitmen dalam Berliterasi
Oleh Agung Kuswantoro

Dalam kegiatan literasi (membaca – menulis) dibutuhkan sebuah komitmen. Keinginan saja, tidak cukup. Tetapi, komitmen yang sangat dibutuhkan.

Terlebih saat ini, alat bantu berupa pencarian/google di internet semakin mempermudahkan seseorang untuk mencari informasi apa saja bisa. Apalagi, dengan adanya AI/Artificial Intelligence. AI mempermudah dalam mendapatkan informasi.

Namun dari kecanggihan teknologi informasi adalah proses dalam mendapatkan informasi yang valid. Membaca buku/kitab/teori adalah kuncinya. Setelah membaca lalu ditulis.

Kegiatan membaca – menulis itu, bukanlah hal yang mudah. Agama Islam saja, bahkan memerintahkan untuk membaca (Iqro). Ada juga ayat yang identik dengan menulis “wal qolami wama yasturun” yang turun (dalam surat al-Qolam) yang artinya: Kegiatan menulis – membaca, sangatlah penting. Membaca – menulis itu, mengasah otak. Bahkan, mengasah hati. Dengan membaca – menulis, hati – otak seseorang lebih seimbang.

Setelah membaca, orang tersebut akan merenung. Dalam perenungan akan timul sebuah ide. Ide dapat diwujudkan dalam sebuah tulisan. Tulisan itulah bentuk nyata sebuah ide/gagasan.

Komunitas
Untuk menjaga “keistikamahan” dalam kegiatan membaca – menulis dibutuhkan sebuah komunitas. Komunitas adalah sekumpulan orang yang komitmen terhadap “dunia” membaca – menulis. Bisa jadi kegiatan membaca – menulis masih kurang lazim. Artinya, kegiatan membaca – menulis itu sedikit yang menyukainya.

Di Indonesia saja indeks orang yang membaca 0,001. Artinya, hanya 1 orang yang membaca dari 1000 orang yang ada. Jadi, ada 999 orang yang tidak membaca.

Oleh karenanya, “komunitas” sebagai jembatan. Komunitas kepenulisanlah yang saya maksudkan. Bukan komunitas asal – asalan. Dimana, dalam komunitas tersebut berisikan orang yang berkomitmen untuk menulis. Syukur bisa menghasilkan sebuah buku (minimal) satu bulannya dari tulisan-tulisan para anggotanya.

Nah, sekarang bagaimana dengan diri Anda? Jika ingin bergerak dibidang literasi, bangunlah komitmen yang kuat. Lalu, temukanlah sahabat-sahabat pena/penulis di sebuah komunitas yang solid berkomitmen untuk menulis. Semoga, Anda sudah menemukannya. Amin. []

Semarang, 27 Agustus 2023
Ditulis di Rumah jam 04.00 – 04.30 Wib.