Author Archive

• Thursday, May 19th, 2022

 

Untuk Kearsipan UNNES yang Lebih Baik

Oleh Agung Kuswantoro

Selama empat hari ini (Senin-Kamis/16-19/5/2022), saya mendapatkan tugas dari pimpinan UNNES ke Pekanbaru, Riau untuk koordinasi nasional kearsipan. UNNES diundang dari unsur Perguruan Tinggi/PT. Ada 9 PT yang diundang dalam pertemuan tersebut, salah satunya UNNES.

 

Sudah dapat undangan dan masuk dalam nominasi penilaian kepengawasan kearsipan ANRI bagi saya itu, Alhamdulillah. Menjadi bagian dari pengelola kearsipan di UNNES sejak tahun 2015 hingga sekarang adalah yang pengalaman berharga. Saya menjadi tahu dan paham mengenai kondisi di lapangan dan merumuskan kebijakan kearsipan di PT/UNNES, bukanlah hal yang mudah.

 

Saya ke Riau, tidak sendiri. Saya ditemani arsiparis UNNES yaitu Bapak Eko Febrianto. Alhamdulillah, saya punya teman dalam tugas lembaga ini, jadi lebih mudah dalam bekerja dan koordinasi perjalanan kearsipan UNNES selama ini.

 

Mohon doa dan dukungan agar kearsipan UNNES pada tahun ini/2022, hasil penilaian kearsipan lebih baik. Segala identifikasi kebutuhan kearsipan dan sumber daya kearsipan, kami mulai siapkan dan dilaksanakan agar mendapatkan penilaian yang terbaik sesuai dengan kondisi kearsipan di UNNES.

Pekanbaru, Riau, 19 Mei 2022

Ditulis di Bandara Pekanbaru yang sedang hujan deras, jam 07.50-08.05 Wib.

• Monday, May 16th, 2022

 

Mulai Darimana Kita Berliterasi?
Oleh Agung Kuswantoro

Dari beberapa kesempatan saya diajak sebagai pembicara-peserta, penulis-pembaca terkait literasi. Saya memaknai literasi disini yaitu kegiatan membaca dan menulis.

Dari kegiatan yang saya ikuti, muncul sebuah pertanyaan besar, yaitu: “Mulai darimanakah kita berliterasi?”

Jika saya seorang kepala rumah tangga, maka saya menjawab bahwa literasi berawal dari keluarga (Bapak/Ibu). Jika saya seorang kepala daerah, maka saya menjawab bahwa literasi berawal dari ketua Pembinaan Kesejahteraan Keluarga/PKK. Dan, jika saya seorang kepala sekolah, maka saya menjawab bahwa literasi berawal dari Perpustakaan.

Saya kumpulkan jawaban tersebut yaitu Bapak/Ibu, ketua PKK, dan kepala Perpustakaan. Lihatlah ketiga sosok di lingkungan Anda tersebut: “Apakah sudah berliterasi?” Jika belum ketiga sosok tersebut itu berliterasi, maka susah untuk mewujudkan awal sebuah literasi. Mengapa? Karena orang mau membaca/menulis harus melihat tokoh/sosok terlebih dahulu.

Ingat Nabi Muhammad Saw – sorang manusia – yang pertama kali memulai literasi pada usia 40 tahun dengan perintah membaca (iqro), itupun “agak” kesusahan pada awalnya. Kemudian “dituntun” oleh (malaikat) Jibril. Malaikat Jibril adalah sosok yang mengajari nabi Muhammad Saw untuk berliterasi.

Sama halnya di lingkungan kita. Harus ada “sosok” Jibril yang mengajak berliterasi. Ketiga sosok itu (Bapak/Ibu, ketua PKK, dan kepala Perpustakaan) yang mengajak seseorang berliterasi pertama.

Tidak mungkin, seorang anak tiba-tiba mau membaca buku. Harus ada contoh dan “bujukan” atau ajakan dari bapak/Ibu. Tidak mungkin pula, dalam satu RT/RW ada warganya yang tiba-tiba membaca novel, tanpa difasilitasi koran, buku, dan “rumah baca” di tiap Dusun/Desa. Demikian juga tidak mungkin sekolah tiba-tiba siswanya mau giat membaca dan menulis, tanpa ada program inovasi dari kepala Perpustakaan dalam membangun “literasi digital”.

Itulah pendapat saya mengenai “keprihatinan” dari negeri kita dan lingkungan sekitar yang minim berliterasi. Mari kita mulai berliterasi. Mulailah dari diri, keluarga, lingkungan sekitar dan lingkungan pendidikan. Bacalah buku agar kita tidak “terpancing” dengan dengan sebuah informasi yang belum tentu benar. []

Semarang, 12 Mei 2022
Ditulis di Rumah jam 05.00 – 05.30 Wib.

• Saturday, May 14th, 2022

Mengapa Berkata “Maaf”, Usai Berpuasa?
Oleh Agung Kuswantoro

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Qaulan Sadida/perkataan yang benar” (QS. an-Nisa: 9).

Sudah 11 hari kita masuk bulan Syawal 1443 Hijriah, umat Islam di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idul Fitri, Idul Fitri identik dengan ucapan “mohon maaf lahir batin”. Ada sebuah pertanyaan besar: mengapa kita pada hari kemenangan, berkata “mohon maaf lahir dan batin?” Mengapa tidak berkata: “merdeka?” tetapi, malah berkata: “maaf”.

Secara logika orang yang “menang“ akan mengatakan suatu kebahagiaan dengan kalimat “alhamdulillah”; “yes, menang”; “merdeka”; “musuh telah pergi”; “kita menang”; “musuh kalah”; dan ucapan lainnya.

Logika akal manusia, berbeda dengan logika agama Islam. Agama Islam mengatakan: setelah “berperang” melawan hawa nafsu, justru hati tidak diungkapkan dengan rasa selebrasi/perayaan, namun hati harus “menunduk”, “menunduknya” dengan berkata: “maaf”.

Lalu, mengapa kita berkata maaf kepada manusia? Karena, kita telah melakukan kesalahan kepada seseorang. Cara melebur/menghapus kesalahan kepada sesama manusia adalah meminta maaf kepada yang telah dibuat salah.

Meminta maaf, hanya berlaku kepada manusia. Tidak ada saling maaf, antar manusia dengan tumbuhan. Tidak ada, saling memaafkan antara manusia dengan hewan. Dan, tidak ada, saling memaafkan antara hewan dengan tumbuhan. Namun, ada manusia minta maaf dari manusia kepada Tuhan, yaitu bernama permohonan ampun/istigfar.

Maafnya, manusia kepada Allah dinamai tobat. Ciri-ciri tobat diawali dengan sifat “merasa” dan “menyadari”. Bisa jadi, tanpa ucapan: “maaf” itu, tidak masalah. Artinya: tidak harus berkata: “Ya Allah, aku minta maaf”. Tanpa perkataan tersebut, tidak masalah.

Sekali lagi, maaf kepada Allah yang sangat dibutuhkan adalah “merasa salah” dan “menyadari atas kesalahannya”. Sama dengan kesalahan seorang manusia dengan kepada sesama manusia. Manusia akan mengetahui dirinya bersalah, jika manusia tersebut/ia telah “merasa” dan “menyadari” akan kesalahan yang dilakukan kepada orang lain. Disinilah, peranan hati akan “berfungsi”.

Sadar itu dalam hati. Sadar itu, bukan di otak. Bisa jadi, otak masih merasa “kekeh” atau “bersih keras” atau “angkuh” untuk melawan akan sebuah kesalahan. Namun, hati akan mendorong sesorang akan “lemes”, atau “merelakan”, atau mengikhlaskan atas kesalahan orang lain kepada diri kita.

Lantas, bentuk kesalahan seperti apa yang bisa menjadikan dosa? Menurut Amiruddin (2011) dalam buku “Ketika Dosa Tak Dirasa: Yang Kecil pun Bisa Menjadi Besar” mengatakan bahwa, ada delapan dosa yang tak dirasa yaitu (1) berbohong; (2) berkata ”ah” kepada orang tua; (3) menyalahgunakan jabatan; (4) ghibah; (5) mengadu domba; (6) su’udzon; (7) mempercayai ramalan; dan (8) menyembunyikan aib barang dalam transaksi jual beli.

Dari kedelapan perbuatan dosa kecil/dosa yang tak dirasa tersebut, bahwa 6 dari 8 perbuatan dosa tersebut (75%) berasal dari “mulut”. Bahasa penulis, “mulut” adalah sumber utama orang melakukan dosa.

Mulut sumber utama orang melakukan dosa atau melakukan kesalahan kepada orang lain. Misal saja: berbohong, melawan nasihat orang tua, ngrasani/ghibah, memprovokasi/mempengaruhi berita buruk, berprasangka buruk/su’udzon, dan menyembunyikan cacat dalam transaksi jual beli.

Gosip/ngrasani/membicarakan kesalahan orang lain/ghibah, menurut para ahli sering dilakukan oleh seseorang dalam masyarakat. Cirinya: ada dua orang berkumpul. Terkait tempat melakukan “ngrasani” tidak memperhatikan “kesucian” suatu tempat atau lokasi. Misalnya, di Masjid/Musholla. Artinya, ngerasani bisa dilakukan di Masjid/Musholla. Minimal, ada orang berkumpul. Disinilah potensi setan masuk untuk “menyulutkan” atau “menyalakan” perbuatan dosa. Setan dimanapun kita berada, pasti ada. Oleh karenanya, jaga iman kita selalu dimana pun dan kapan pun berada, agar setan tidak hadir di sekitar kita.

Lalu, apa “obat” atas kesalahan/dosa kepada sesama manusia? Jika kesalahan kepada sesama manusia, maka minta maaflah. Yang minta maaf yang memiliki/melakukan kesalahan. Konteks di dunia, ada istilah “pengadilan”. Pengadilan itulah yang akan menunjukkan sebuah kesalahan dan menujukkan bukti-bukti yang autentik dalam persidangan.

Tanpa, ada bukti yang autentik atas suatu kesalahan, maka kebenaran tidak akan muncul. Sebaliknya, jika bukti menunjukkan suatu kesalahan, maka hukuman yang akan menimpa seorang yang bersalah. Kebenaran yang akan muncul/berkata.

Namun konteks dunia, berbeda dengan konteks akhirat/agama. Jika kesalahan itu tertuju kepada Allah, maka bertobat. Menurut Amirullah (2011) bahwa cara menghapus dosa/kesalahan kepada Allah dengan cara (1) sholat, (2) shaum/puasa, (3) bersedekah, (4) memperbanyak istigfar, dan (5) taubatan nasuha.

Sedangkan, untuk kesalahan mulut manusia dapat dilakukan, sebagaimana tuntunan al-Quran mengatakan dengan berkata (1) qaulan sadida/berkata benar, (2) qaulan baligh/berkata yang berbekas dalam jiwa, (3) qaulan ma’rufan/berkata yang baik, (4) qaulan karima/perkataan yang mulia, (5) qaulan layyina/perkataan yang lemah lembut, (6) dan qaulan maysura/perkataan yang mudah.

Demikianlah tulisan singkat ini, ada beberapa simpulan yaitu:
1. Kemenangan Idul Fitri tidak dilakukan dengan pesta/selebrasi, namun dilakukan dengan memperbanyak kata “maaf” atau “meminta maaf”.

2. Kita berkata “maaf” kepada sesama manusia, karena kita telah melakukan sebuah kesalahan. Meminta maaf itu, hanya pada sesama manusia. Meminta maaf manusia kepada hewan dan tumbuhan itu tidak ada. Meminta maaf hewan kepada tumbuhan, juga tidak ada. Namun meminta maaf manusia kepada Tuhan, dinamakan tobat.

3. Contoh kesalahan/dosa manusia kepada manusia yaitu: berbohong, melawan/berkata “ah” kepada orang tua, menyalahgunakan jabatan, ngrasani/ghibah, memprovokasi/mempengaruhi/adu domba, su’udzon, mempercayai ramalan, dan menyembunyikan aib barang saat jual beli.

4. 75% kesalahan/dosa manusia kepada manusia berasal dari mulut. “Ngrasani” adalah perbuatan yang sering dilakukan oleh manusia yang tanpa melihat kesucian suatu tempat dan waktu yang tak terbatas.

5. Salah satu cara menghilangkan kesalahan sesama manusia dalam konteks “dunia” adalah meminta maaf kepada orang yang telah diperlakukan salah. Sedangkan cara menghapus kesalahan dosa kepada Allah adalah dengan sholat, berpuasa, besedekah, memperbanyak istigfar, dan taubatan nasuha.

6. Mari, berkata baik sesuai dengan tuntunan al Quran dengan qaulan sadida/berkata benar, qaulan baligha/berkata yang berbekas dalam hati, qaulan ma’rufan/berkata baik, qaulan karima/berkata yang mulia, dan qaulan maysura/berkata yang mudah.

Semoga bermanfaat tulisan ini. Amin. []

Semarang, tulisan ini pernah ditulis 8 Mei 2021 dan diedit tanggal 12 Mei 2022
Ditulis di rumah jam 05.00 – 05.55 WIB. Disampaikan juga dalam halal bihalal yang diselenggarakan oleh mahasiswa.

• Thursday, May 12th, 2022

Menjaga “Spirit”/ Semangat Ramadhan
Oleh Agung Kuswantoro

Bangun pagi – Insya Allah – sudah menjadi bagian aktivitas saya dan keluarga. Biasanya, dimulai dengan salat sunah, salat jamaah di Masjid, dan menyiapkan keperluan pagi hari (sarapan, peralatan kerja, sekolah anak, dan mandi pagi, dan aktivitas lainnya).

Syawal masih berlangsung saat ini. Ada yang membekas dalam hati yaitu rutinitas ibadah kegiatan di bulan Ramadhan beberapa bulan lalu. Lalu muncul pertanyaan: “Apa yang harus kita lakukan agar ibadah sama/setara dengan bulan Ramadhan?”

Jawabannya: menjaga semangat ibadah Ramadhan tiap hari. Ramadhan itu tidak setiap tahun, tetapi setiap hari. Karena, Ramadhan itu milik Allah. Jadi, Ramadhan pasti hidup tiap hari.

Mulailah ibadah dengan mengajak dan menggandeng pasangan hidup, anak, keluarga, serta masyarakat. Jangan ibadah untuk diri sendiri. Ibadah pada bulan Ramadhan yang kebanyakan bersifat sosial/bersama, sehingga kebiasaan ibadah pada bulan Ramadhan tetap dipertahankan, kebersamaannya.

Sekali lagi, mari jaga spirit Ramadhan tiap hari. Sederhana saja caranya: salat subuh berjamaah di Masjid, sedekah, puasa sunah, berkata baik, dan fokus kepada niat kepada Allah. Itu saja, semoga kita bisa melakukannya. Amin. []

Berikut video sebagai penyemangat kita agar tambah semangat:

Semarang, 11 Mei 2022
Ditulis di Rumah saat jam istirahat bekerja, 12.00 – 12.15 Wib.

• Friday, May 06th, 2022

Alhamdulillah Masih Diingat dan Dianggap Baik Oleh Mereka

Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Mas Dafa dan Mba Nisa/Mba Anis—panggilan akrab saya kepada kedua (alumni) santri Madrasah ‘Aqidatul ‘Awwam—yang berkunjung ke rumah saya pada saat suasana Idul Fitri 1443 Hijriah ini. Saat ke rumah ada satu perbincangan yang menarik yaitu “selalu ingat saat membuka kitab Juz ‘Amma yang Pak Agung bagikan kepada saya”, ujar Mba Anis kepada saya.

 

Lalu, saya (Mba Anis) dapat tambahan ilmu-ilmu lain—seperti tauhid, fikih, tajwid, praktik solat, dan ilmu-ilmu yang didapat saat Madrasah—hingga saat ini sulit didapatkan ditempat tinggal sekarang (luar Semarang). Sehingga, hal tersebut sangat mengena bagi Mba Anis dan Mas Dafa. Terlebih, model pembelajaran yang berkesan: “ada menulis, membaca, dan melafalkan. Tidak hanya, ngaji saja”, kata Mas Dafa sambil tersenyum.

 

Itulah pertemuan saya dengan kedua santri alumni Madrasah ‘Aqidatul ‘Awwam di rumah saya. Saat mereka dating, saya ditemani istri saya—Lu’lu’ Khakimah—yang juga Ustadah di Madrasah berlokasi di Sekaran tersebut. Sebelum Mba Anis pulang ke kampung halaman dan Mas Dafa akan memulai mondok, saya memberikan kenang-kenangan berupa buku “perjuangan” yang saya tulis dari kumpulan khutbah di Masjid Nurul Iman Sekaran, Gunungpati, Semarang selama 3 tahun. Adapun buku tersebut berjudul “Bicara Islam di Sekitar Kita”.

 

Semoga sukses dunia-akhirat untuk kedua dan santri alumni (lainnya) Madrasah ‘Aqidatul ‘Awwam. Mohon doanya kepada Bapak Ibu, agar ada kebaikan terkait kelanjutan Madrasah ‘Aqidatul ‘Awwam, karena menyampaikan sebuah ilmu di masyarakat, kata orang bijak itu, tidaklah mudah. Semoga kita termasuk kategori orang yang berilmu, syukur termasuk kategori yang peduli dan menyebarkan ilmu di masyarakat. Amin. [].

 

Semarang, 5 Mei 2022

Ditulis di Rumah Semarang jam 21.00-21.20 Wib, usai mudik dari Rembang-Pemalang.

• Wednesday, May 04th, 2022

Memanfaatkan Lingkungan
Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Muhammad—seorang Nabi—yang sangat pandai dalam memanfaatkan lingkungan. Walaupun hidup pada waktu zaman jahilyah/kebodohan, namun ia tidak menjadi manusia yang bodoh. Justru, Nabi Muhammad memiliki sifat wajib yaitu fathonah (cerdas).

Kurikulum dalam lingkungan jahiliyah adalah tidak mengakui wanita sebagai makhluk yang memiliki kedudukan/martabat, miras/minuman keras ada di mana-mana, masyarakat yang suka berbicara “kotor” atau mengadu domba, antar golongan/suka memiliki kebiasaan berperang (tidak suka bermusyawarah), judi menjadi suatu kebiasaan, dan kurikulum yang buruk lainnya.

Nah, bagaimana dengan lingkungan kita sekarang? Bisa jadi “suasana” ke-jahiliyah-an secara hakikat, tetap ada. Misal: jika kita akan solat duhur secara berjamaah usai hari raya Idul Fitri terasa “aneh”, mengikuti kajian/majlis jarang, ucapan para tetangga yang “kotor”, perbuatan sahabat yang jauh dari tuntunan agama, dan “pemandangan” yang kurang baik dari perbuatan orang tua yang dilihat oleh anak di lingkungan kita.

Jika kita ada dalam kategori yang termasuk dalam lingkungan tersebut, maka apa yang kita lakukan? Jawabannya: keluar dari lingkungan tersebut atau mengambil manfaat (yang baik) dari lingkungan tersebut. Saya yakin, tidak 100% lingkungan tersebut itu, sangat buruk. Ambillah sisi positifnya saja, jika kita tidak mampu untuk “pindah” dari lingkungan tersebut.

Misal: di tempat yang buruk, ada Masjid atau orang yang baik (satu orang), maka dekatilah orang tersebut. “Timbalah” ilmu orang tersebut di tempat mulia (Masjid) yang biasa ia gunakan dalam kegiatan kebaikan; datangilah satu dari tempat yang baik tersebut, lalu amati apa yang dilakukan oleh tersebut.

Mungkin diantara kita—ada yang jadi orang tua—dimana, setiap orang tua belum tentu menjadi orang tua yang baik, seperti ngajari ngaji. Tetapi, ada lingkungan yang baik yaitu Masjid yang melakukan kegiatan ngaji, maka orang tua tersebut memiliki kewajiban mengantarkan anak tersebut pergi ke Masjid agar anak bisa ngaji. Pastinya, dalam kegiatan ngaji, ada kegiatan baik mengikutinya. Misal: berdoa, menulis, membaca, dan mendengarkan lafal-lafal Allah Swt.

Seperti itulah, caranya dengan memanfaatkan lingkungan sekitar. Jika memang sudah tidak sesuai dengan keyakinan hati lagi untuk berbuat baik, maka pilihan terakhir adalah pindah dari tempat tersebut/berhijrah. Tujuannya agar menemukan sesuatu yang baru dan bernilai positif/ibadah, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dengan hijrah ke Madinah. Dimana, kondisi Mekkah itu tidak baik saat itu. Semoga kita pandai dalam memanfaat lingkungan yang baik. Amin. []

Pemalang, 3 Mei 2022
Diitulis di Rumah Pemalang lagi mudik, jam 12.30-13.00 Wib.

• Friday, April 29th, 2022

Bertemu Gus Ulil dan Gus Mus

Oleh Agung Kuswantoro

Semenjak saya menikah dengan Lu’lu’ Khakimah yang berasal dari Sulang, Rembang (2012), menjadikan saya sering bolak-balik ke kota yang sangat santri tersebut. Ada yang tertanam dalam pikiran saya mengenai kota Rambang, bahwa kota tersebut banyak ulama yang mahir dalam membaca & menulis kitab kuning dan huruf pegon, serta mahir dalam hal keagamaan secara “kaffah”.

 

Saya yang berasal dari Pemalang yang notabene belum pintar dan masih ingin belajar, menjadi tertarik untuk menggali tokoh-tokoh Agama yang berasal dari Rembang. Sekitar sepuluh tahunan ini, saya tertarik dengan kedua tokoh yaitu Gus Mus dan Gus Ulil.

 

Ada beberapa tulisan yang pernah saya tulis mengenai kedua tokoh tersebut diantaranya:

https://agungbae123.wordpress.com/2017/03/10/gus-mus-luar-biasa/; https://agungbae123.wordpress.com/2017/06/23/bertemu-mustofa-bisri-dan-ulil-absor/; dan https://agungbae123.wordpress.com/2021/12/28/model-tasawuf-kajen-yang-menghadirkan-solusi/

 

Setiap kali saya pulang ke Sulang, Rembang saya mengusahakan saat solat Jumat di Masjid Agung Rembang. Dalam tulisan di atas, saya menuliskan: pernah melihat Gus Mus saat solat Jumat di Masjid Agung Rambang, saya pernah ke pondok pesantren dan bertemu dengan santri yang diasuh oleh Gus Mus untuk membeli buku-buku karya Gus Mus, dan saya pernah ke toko kitab/buku di Jalan Kartini—yang dikelola oleh Pak Naf’an—membeli buku-buku/kitab-kitab karya KH Bisri Mustofa.

 

Jumat kemarin (29 April 2022), atas izin Allah Swt saya melihat kedua tokoh “idola saya” (lagi) yaitu Gus Mus dan Gus Ulil di Masjid Agung Rembang saat Jumatan. Saya Jumatan bersama kedua anak saya (Mubin dan Syafa). Saya menyampaikan ke Mubin, bahwa ada kedua guru Abi yang biasa diikuti di Facebook dan Youtube yang ngajari kitab “Kasidah Burdah” dan “Ihya Ulumuddin”.

 

Saya termasuk Santri Online (SO) yang dikelola oleh Mba Admin (Mba Ienas Tsuroiya). Saya Alhamdulillah aktif mengikuti tulisan Gus Ulil yang ada di Kompas dan buku-buku terbitan Mizan. Saya kagum dengan kepandaian “Pak Lurah” dalam menyampaikan pesan agama dengan kritis dan mendamaikan.

 

Entah kenapa, pada hari itu (Jumat) saya memberanikan diri untuk menemui Gus Ulil untuk bertemu. Karena saya “merasa” SO beliau. Beliau adalah guru saya, maka sebagai santri harus menemui dan menghormati untuk bertemu dan salaman. Ternyata, Allah memberikan kemudahan dalam saya bertemu Gus Ulil. Saat saya menghampiri dan mengatakan saya SO-nya, beliau langsung merespon. Namun untuk menemui Gus Mus, saya tidak memberanikan diri untuk salaman, karena Gus Mus orang yang hebat, jadi saya tahu diri. Sebenarnya saya mau, tapi tahu posisilah.

 

Saat saya sedang berkomunikasi dengan Gus Ulil datanglah Gus Mus yang usai solat Jumat. Saya pun hanya “merundukkan kepala” atau “ndingkluk” sebagai wujud takzim kepada Guru. Dalam hati ingin salaman, tetapi tidak berani. Tahu dirilah, siapa saya.

 

Alhamdulillah ya Allah, ternyata cita-citaku terwujud pada tahun ini agar bisa bertemu Gus Mus—walaupun belum salaman (apalagi berfoto) dan bertatap secara langsung kepada Gus Ulil – yang selama ini—hanya melalui Facebook. Dalam pertemuan yang sekejap, hanya 3 menitan itu saya bisa berkomunikasi dengan Gus Ulil dan berfoto bersama. Ramah orangnya: malah ngajak tidak pakai masker. Ahamdulillah dalam hati saya, jadi jelas fotonya (foto ada di gambar).

 

Samoga pertemuan ini bisa berlanjut dalam kajian-kajian yang disajikan/disampaikan oleh Gus Mus dan Gus Ulil secara langsung di rumah saya atau di organisasi/lembaga yang saya ikuti di Semarang. Amin. [].

 

Ditulis di Rembang, 30 April 2022 jam 04.30-04.55 Wib.

• Thursday, April 28th, 2022

 

Khataman Kitab Aqidatul Awwam
Oleh Agung Kuswantoro

Ngaji puasanan ini, saya bersama teman-teman di Masjid Ulul Albab (MUA) belajar kitab Aqidatul Awwam. Kajiannya, usai salat Subuh dan pembacaan surat al-Waqiah.

Kajian dimulai sejak tanggal 1 Ramadhan 1443 Hijriyah ini, Alhamdulillah pada tanggal 24 Ramadhan 1443 Hijriyah khatam. Saya sebagai orang yang terlibat secara langsung dalam belajar tersebut, merasa sangat senang. Yang belajar bersama pun istikamah. Ada “mas-mas” takmir dan beberapa jamaah lainnya yang konsisten mengikuti kajian ini.

Tanggal 25-26 Ramadhan 1443 Hijriyah, saya berencana hanya nadhoman saja dari kitab Aqidatul Awwam.

Ada 57 bait/siir dalam kitab Aqidatul Awwam. Semoga mengaji kita mendapat berkah dari pengarang kitab ini, yaitu Sayyid Ahmad Marzuki. Alfatihah. []

Semarang, 26 April 2022
Ditulis di Rumah jam 16.30 – 16.45 Wib.

Berikut nadhoman kami: https://youtu.be/4i1JfoWwTNg

• Wednesday, April 27th, 2022

Seni “Menata” Hati
Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA – Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta – yang mampu menyampaikan dan mempratikkan dari ilmu hati. Bagi orang awam, ilmu “menata” hati bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan sebuah kesadaran hati dan pikiran terlebih dahulu agar terpanggil dirinya menjadi pribadi yang salikin.

Kriteria salikin – (baca: bagus/baik) itu tergantung subjek yang menilai dari sebuah objek. Dalam konteks ini yang menilai adalah Allah, sehingga keimanan (baca: hatilah) yang dinilai oleh Allah. Bukan, penilaian fisik atau material dari sebuah objek.

Puncak “menata” hati adalah hidup menjadi salikin. Artinya: hidup yang baik. Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA memberikan tips agar hidup menjadi salikin yaitu dengan (1) menata hati; (2) menjaga hati; (3) meningkatkan iman; (4) berdamai dengan keadaan; (5) membawa kemaslahatan.

Pertama yang harus dilakukan oleh manusia agar hidup lebih salikin adalah niat. Niat adalah sifat kalbu, sedangkan perbuatan bukanlah sifat kalbu. Niat merupakan konsep matang dan penuh kesadaran diri dalam diri tentang suatu perbuatan yang dilakukan (hal. 2).

Misal: pentingnya, sebuah niat dari suatu perbuatan hubungan suami-istri/seksual yang berdampak pada perbuatan. Janganlah selalu menyalahkan tawuran remaja. Cobalah cek dari awal penciptaan remaja tersebut yaitu: orang tuanya, “Apakah telah melakukan niat dalam proses penciptaan awal/remaja tersebut?” Sehingga, niat inilah yang membedakan antara perbuatan manusia dan hewan.

Hewan dalam melakukan sesuatu itu, tanpa niat. Termasuk dalam perbuatan seksualitas. Sebagai manusia yang beragama, berislam, dan beriman dalam berhubungan badan/seksualitas harus niat. Jangan asal melakukan perbuatan seksualitas.

Jika manusia tersebut melakukan perbuatan tanpa niat, maka manusia tersebut “persis” seperti perbuatan hewan. Oleh karenanya, sangat tepat sekali, dalam kitab Arbain Nawawi hadist pertama mengatakan: “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya” (HR. al-Bukhori dan Muslim).

Setelah niat yang kuat untuk menjadi diri yang baik, langkah selanjutnya adalah meninggalkan beban hati dengan cara memasrahkan segala urusan dunia kepada Allah; hati diajak lebih “lembut” dalam menyikapi sebuah kehidupa;, rasa “cemas” terhadap suatu permasalahan harus mulai “dihapuskan”; “menanamkan” rasa rido Allah; dan merutinkan zikir adalah salah satu cara menjaga hati agar manusia lebih baik.

Puncak dari manusia yang salikin memiliki ciri: bersikap deramawan; berkata jujur; komunikasi santun; mengontrol pembicaraan; memuliakan tamu; menghindari tamak; dan menegakkan amar makruf (hal 231).

Melalui tahapan demi tahapan tersebut diharapkan kita termasuk manusia yang menjadi salikin. Bisa jadi, kita adalah manusia yang “biasa”. “Biasa” dimata Allah dan manusia. Namun, dengan kesadaran dan ketulusan hati akan perbaikan diri yang lebih baik. Insya Allah kita termasuk manusia yang salikin itu. Amin. [].

Semarang, 6 April 2022
Ditulis di Rumah jam 20.30 – 21.00 WIB

• Sunday, April 24th, 2022

Menjaga Kearifan “Lokal” Saat Ramadhan
Oleh Agung Kuswantoro

Indonesia adalah negara yang “kaya” akan sebuah kebudayaan. Termasuk, budaya dalam menyambut bulan Ramadhan.

Ada kebudayaan lokal yang melekat di pesantren yaitu budaya ngaji kitab saat bulan Ramadhan. Menurut saya budaya tersebut termasuk budaya lokal khas pesantren yang perlu dilestarikan.

Saya coba untuk “menjaga” dan “mempertahankan” budaya tersebut dimana pun berada. Saat ini, di Semarang, saya usahakan “menjaga” budaya tersebut.

“Ngaji” adalah sebuah budaya yang harus dipertahankan. Ngaji yang saya maksudkan adalah ngaji kitab. Guru (baca: Ustad) akan membacakan isi kitab, lalu santri mengabsahi (baca: menulis makna) dari yang dibacakan oleh Guru.

Empat tahun (2017-2020) saya melakukan hal tersebut di Masjid Nurul Iman, Gang Pete Selatan 1, Sekaran dengan kitab Safinatunnajah al-Barzanji, tafsir Yasin, Fathul Mu’in dan Taqrib.

Sekarang (2022) di Masjid Ulul Albab (MUA) usai sholat Subuh, saya ngaji kitab ‘Aqidatul ‘Awwam. Saya ngaji bersama jamaah yang lainnya. Ngajinya simpel, sederhana, dan singkat, yang terpenting materi tersampaikan dan ”mengena” bagi jamaah.

Muncul pertanyaan: “Sampai kapan saya “ngaji” seperti ini?” Jawabnya: Bisa jadi, sampai meninggal dunia. Karena, dengan mengaji saya menjadi tahu dan belajar. Melalui membaca, saya jadi memiliki pengetahuan dan referensi untuk bahan menulis.

Ulama kita mengajarkan untuk membaca kitab. Syukur, menulis/mengarang kitab. Karena, melalui karya ulama – kita kelak – akan menjadi “warisan” kepada generasi berikutnya.

Pertahankanlah, kearifan lokal seperti ini. Terlebih di bulan Ramadhan. Karena, bulan Ramadhan adalah bulan membaca “kitab” dan al Qur’an. Harapannya dengan cara seperti ini, kita akan lebih dekat kepada Allah. Amin. []

Semarang, 22 April 2022