Archive for the Category ◊ Uncategorized ◊

• Monday, July 06th, 2020

 

Fiqih dan Protokoler Kesehatan
Oleh Agung Kuswantoro

Sudah saatnya, masuk unsur protokoler kesehatan dalam suatu ibadah. Dulu, bisa jadi belum ada. Masih konsen “khusuk” dalam ibadah. Namun, sekarang tidak cukup.

Misal, rapatkan shof saat sholat. Bentar lagi, (insya Allah) penyembelihan hewan kurban dan sholat Idul Adha.

Nanti, pasti ada protokoler cara penyembelihan hewan kurban. Mulai dari, orang yang menyembelih harus bermasker. Pisau hanya untuk satu orang. Dan, aturan kesehatan lainnya.

Demikian juga, sholat Idul Adha, pasti akan ada jaga jarak dalam sholat. Khutbah tidak terlalu lama. Usai shalat, tidak berkerumun.

Lalu, apakah fiqih dalam suatu ibadah itu berubah? Atau, akan ada tambahan dengan menyertakan unsur protokoler kesehatan? Dan, bisakah keduanya (fiqih dan protokoler kesehatan) bisa selaras?

Misal, dalam hadits mengatakan: “rapatkan barisan sholat sebagai keutamaan sholat”. Untuk saat ini, justru “longgarkan” barisan sholat. Bahkan, ibadah haji saja bisa dibatalkan (hanya), karena faktor kesehatan.

Itu artinya, faktor kesehatan juga perlu. Orang bisa ibadah karena sehat. Namun, orang yang sehat, belum tentu melakukan ibadah.

Buktinya, ada orang sehat tapi tidak berpuasa di bulan Ramadhan, meskipun ia tidak punya halangan apa pun. Atau, orang sehat bugar, namun tidak melakukan sholat.

Jadi, ibadah juga perlu diatur. Mulai dari segi kesehatan dan ilmu yang menyertai ibadah tersebut. Ada orang sehat, namun tidak beribadah.

Mari, buka kitab kita. Perluas pemahaman kita. Baca literatur yang valid. Dan, “melek” terhadap kondisi saat ini. Wallahu ‘alam.

Semarang, 7 Juli 2020
Ditulis di rumah, jam 00.10-00.20. more…

• Monday, July 06th, 2020

Kangen Madrasah
Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Riris dan Nisa, kedua santri yang pernah belajar di Madrasah ‘Aqidatul ‘Awwam. Mereka belajar sejak berdirinya, Madrasah. Saya, umi Lu’lu’, dan Ustad Belardo pernah menjadi gurunya.

Sekarang, mereka belum/tidak belajar lagi Madrasah. Lantaran, harus pindah sekolah ke Purwodadi. Sedangkan, Riris masih banyak kendala untuk belajar ke Madrasah. Mengingat usia Riris sudah beranjak remaja dan kesibukannya, mulai padat. Sehingga, Riris belum bisa mengatur waktunya.

Entah pada yang dibenak pikiran mereka. Kemarin (Ahad, 5 Juli 2020) mereka datang ke Madrasah. Kebetulan, sedang ada perbaikan sarana prasarana Madrasah, sehingga saya mondar-mandir ke tempat itu.

Dari jauh, saya mengira yang datang ke Madrasah adalah Mbah Karno. Mbah Karno adalah yang membantu saya mengecat kerai. Karena, mereka duduk di tempat yang buat ngecat.

Setelah saya perhatikan dan mendekati, bukanlah Mbah Karno. Tetapi, Riris dan Nisa. Agak asing pemandangan ini.

Mereka bercengkrama dan duduk di luar Madrasah. Saya bertanya kepadanya: “Mengapa ke Madrasah?”

Jawab spontan Nisa kepada saya: “Saya kangen Madrasah, Pak Agung. Untuk ngaji lagi.”

Terus Riris menjawab: “Ingin ngaji lagi, kaya dulu”. “Yang jalan kaki setelah pulang sekolah.”

Mengingat masa lalu mereka saat mengaji ke Madrasah, bahwa mereka berdua datang selalu bersama. Pulang juga, bersama. Kebetulan, mereka satu kelas. Yaitu, kelas D.

Cerita lugu kedua anak yang menjelang ABG/Anak Baru Gede menjadikan pembelajaran bagi saya, bahwa: “Apapun yang kita lakukan untuk berbuat baik kepada sesama, pasti akan diingat oleh orang tersebut.”

Bisa jadi, yang dilakukan adalah kebaikan. Maka, yang diingat kebaikannya.

Sebaliknya, yang dilakukan keburukan. Maka, yang diingat adalah keburukan.

Semoga, ingatan mereka tentang Madrasah adalah suatu kebaikan. Saya, istri, dan Ustad Ustadzah ingin “menanamkan” kebaikan. Syukur, menyampaikan ilmu yang bermanfaat ke santri.

Itulah kisah sederhana dari mantan santri kita yang sudah pindah ke kota lain dan sudah beranjak dewasa. Semoga apa yang saya dan Ustad berikan waktu dulu di Madrasah bermanfaat hingga meninggal dunia, kelak. Amin. Doakan kami juga, ya, Nisa dan Riris agar bisa terus berjuang pada jalan “ilmu” Allah melalui Madrasah di daerah Gang Pete Selatan 1 ini.

Semarang, 6 Juli 2020
Ditulis di rumah, jam 04.15 — 04.30 WIB.

• Saturday, July 04th, 2020

 

Ingat Lek Syukur (Almarhum)
Oleh Agung Kuswantoro

Tiap kali membuka dan membaca atas buku yang saya tulis – berjudul “Mari Bicara Islam di Sekitar Kita (2019)”—selalu ingat dengan Lek Syukur. Almarhum – saya menyebutkan dalam tulisan ini – adalah adik dari Ibu saya. Almarhum sangat dekat dengan kehidupan keluarga saya. Terlebih, saat saya kecil. Tepatnya, waktu itu saya yatim. Almarhum atas izin Allah diberi karunia rizki untuk berbagi kepada sesama, termasuk kepada saudaranya yang belum/tidak mampu. Anak yatim, juga termasuk.

Hampir tiap tahun, menjelang Idul Fitri, almarhum memberikan alat solat berupa sarung – bermerek Atlas dan amplop – kepada saudara lelaki dan orang-orang terdekatnya. Kenangan itulah yang sangat melekat dalan benak pikiran saya. Usia saya waktu itu SD. Tahun 1991 hingga 1995, kurang lebih itu tahunnya.

Hal yang menjadikan semangat meneladani dan motivasi saya untuk berbagi kepadanya adalah suka membaca. Pertemuan terakhir saya di Bandar, Batang, Jawa Tengah – lupa tahun berapa – dengan almarhum mengatakan, bahwa “buku-buku karangan saya, ia membacanya”. Mulai dari buku berjudul “Mengambil Hikmah dari Kehidupan seri 1 dan 2 (2014 dan 2016), dan beberapa artikel yang belum sempat saya bukukan.

Ketertarikan membaca dan hasil bacaaan (review) atas buku karya saya disampaikannya secara langsung kepada saya. Mulai dari isi dan segi penyajiannya atas buku saya yang saya tulis. Mendengarkan ulasan dari almarhum, menjadikan saya semangat untuk berbagi buku lagi. Waktu itu tahun 2019, buku saya yang baru cetak sebagaimana pada paragaraf pertama di atas.

Posisi almarhum waktu itu ada di Bandar, saya datang untuk bersilaturahim kepadanya. Saya berangkat dari Semarang bersama keluarga lengkap. Ada kedua anak lelaki dan istri.

Tepat di bulan Syawal, sekaligus untuk saling memaafkan. Saya datang membawakan buku tersebut untuk diserahkan secara “spesial” kepadanya. Hanya almarhum yang saya berikan. Yang lain, belum saya berikan.

Almarhum berkata kepada saya, bahwa “buku yang saya tulis berisi pesan-pesan kehidupan yang baik”. “Ringan, tapi berisi”. Ia langsung membuka plastik sampul buku dan membaca beberapa judul dari isi buku tersebut. Waktu itu, saya di sampingnya. Itulah kenangan terakhir, saya bersamanya.

Almarhum adalah orang yang dermawan dan suka membaca. Lalu, almarhum orang yang dapat mengapresiasi atas sebuah karya. Sehingga, saya bersemangat untuk mengikuti sifat-sifat baiknya tersebut.

Semoga saya dapat meneladani, mengikuti, dan mempraktikkan atas amalan baiknya. Terimakasih saya menyampaikan kepada keluarga besar almarhum – Lek Jum, Dek Nurul, dan Dek Iis – atas perhatiannya selama ini kepada keluarga dan orang-orang yang telah diberikan bantuan berupa material dan nonmaterial kepada kami. Insyaalah akan mejadi amal yang tidak terputus hingga mengantarkan ke Surga. Amin. []

Semarang, 4 Juli 2020

Ditulis di rumah, jam 04.00- 04.15 WIB.

Keterangan: Gambar diambil saat bersilaturahim di Bandar.

• Thursday, July 02nd, 2020

Menyikapi Keadaaan (Masih) Korona
Oleh Agung Kuswantoro

“Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan dibawah sinar itu; dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguh, Allah berkuasa atas segala sesuatu” (QS. Al baqoroh 19-20).

Hampir empat bulan keadaan seperti ini. Korona datang ke Indonesia. Tepatnya pertengahan Maret 2020, negara Indonesia “disibukkan” dengan kehadiran makhluk Allah itu. Makhluk yang sangat kecil, namun membingungkan isi jagad raya.

Padahal, Islam sudah mengenalkan bab thoharoh/sesuci dengan cara wudhu. Sebelum wudhu disunahkan dengan mengalirkan air ke telapak tangan. Dalam bahasa kitab dalam memaknai diistilahkan dengan “icik-icik”.

Mengambil istilah dalam kedokteran, cara menghilangkan virus Korona, salah satunya adalah dengan rajin cuci tangan. Di Islam, ada wudhu. Berwudhu tidak hanya saat sholat saja, namun bisa dengan saat akan bekerja, bepergian, atau aktifitas lainnya.

Kehadiran Korona di muka bumi ini, menyadarkan akan pentingnya wudhu. Beberapa orang berpendapat, bahwa kedatangan Korona agar umat Islam untuk berlatih dayamul wudhu/melanggengkan wudhu.

Sebagai orang muslim, kehadiran Korona itu jangan ditakuti, namun harus diambil sisi positifnya. Karena, Korona itu tidak punya kesalahan dan dosa apa pun. Ia bukan makhluk pikiran dan hati yang punya kemungkinan untuk berniat sesuatu, merancang kebaikan atau keburukan, menyatakan dukungan atau perlawanan atas kehidupan umat manusia di muka bumi. Korona bukan bagian dari jin dan manusia, yang kelak akan bertanggung jawab perilakunya di “forum” hisab Allah kelak di akhirat (Emha, 2020.17).

Saat ada wabah pandemi Korona, beberapa tempat/negara menerapkan kebijakan/lockdown/mengasingkan diri. Ada contoh yang sangat bagus mengenai lockdown, dimana tidak tanggung-tanggung lockdown-nya, yaitu 309 tahun. Tidak cukup lockdown, seperti sekarang 14 hari atau baru 4 bulan saja.

Siapa yang berhasil lockdown 309 tahun? Jawaban secara tegas al-Qur’an mengatakan yaitu Sahabat Kahfi dan satu hewan anjing yang bernama Kitmir.

Allah-lah yang me-lockdown Sahabat Kahfi. Bukan manusia/makhluk/Korona yang me-lockdown Sahabat Kahfi. Jika Allah yang me-lockdown, maka Allah akan membantu dan mempermudah urusan hambanya tersebut. Presiden/Negara/Gubernur/Pemerintah Daerah itu tidak menanggung biaya hidup warganya di tempat yang ia tinggali. Namun, Allah-lah yang menanggung dan mencukupi biaya hidupnya.

Lalu, bagaimana agar Allah me-lockdown seorang hamba? Pastinya, Allah memiliki kriteria yang tinggi. Minimal, hamba tersebut beriman kepada Allah. Percaya totalitas kepada Allah mengenai makan, minum, tidur, melek, merem, hidup, dan mati mengenai kehidupan di dunia. Dipasrahkan totalitas ke Allah.

Sahabat Kahfi saat di Gua—urusan makan, minum, tidur, rasa senang, dan sedih—itu semua yang menanggung Allah. Terlebih, kondisi di luar Gua dalam keadaan tidak aman. Sang Raja/Presiden bersikap semena-mena, otoriter, dan menyembah kepada berhala. Secara ketauhidan jauh dari ajaran-ajaran Allah.

Dengan cara me-lockdown diri (Sahabat Kahfi) di Gua. Sahabat Kahfi, justru menemukan Allah. Ia “asyik” di Gua melakukan melakukan ibadah, berdoa, berdzikir, dan merenung hidupnya. Terlebih, mereka adalah anak muda. Masih tinggi nafsunya, namun ia sanggup menahannya. Mereka kuat menahan godaan dunia, hanya bermodalkan iman.

Lalu, bagaimana saya dan Anda menyikapi keadaan ini. Sabar! Belajar dari Sahabat Kahfi. Beberapa ahli sudah memprediksikan kejadian ini hingga Desember 2020. Sektor pendidikan yang terakhir dibuka kegiatannya, sehingga Sekolah, Madrasah, dan Pondok Pesantren yang berada di zona merah seperti Kota Semarang masih off/tidak ada kegiatan pembelajaran.

Demikianlah tulisan singkat ini, ada beberapa simpulan:

1. Korona mengajarkan umat Islam untuk rajin berwudhu. Syukur dapat belajar dayamul wudhu.

2. Korona hanya makhluk kecil yang besok di Akhirat tidak ditanyai oleh Malaikat Mungkar dan Nakir atas sikapnya di dunia—yang katanya—telah merugikan jagad alam raya ini.

3. Belajarlah cara lockdown yang benar seperti kisah Sahabat Kahfi dalam al-Qur’an. Biarlah yang me-lockdown itu Allah. Jika Allah yang me-lockdown, maka semua menjadi mudah. Biaya hidup yang menanggung Allah. Hanya bermodal iman saja.

Semoga bermanfaat. Amin.

Semarang, 2 Juli 2020
Ditulis di UPT Kearsipan UNNES jam 09.30 – 10.00 WIB.

• Monday, June 29th, 2020

 

Borong Kitab Karangan Kiai Bisri Mustofa
Oleh Agung Kuswantoro

Rembang adalah kota tempat tinggal istri saya, Lu’lu’ Khakimah. Sebelumnya, saya tak terbayangkan, jika akan sering datang ke kota khas buah kawis. Awalnya, tak banyak yang saya ketahui banyak mengenai kota itu. Namun, semenjak 1 Januari 2012, saya sering bolak-balik Rembang-Semarang.

Namun, ada yang menarik perhatian saya, yaitu keberadaan pondok pesantren Raudlatut Thalibin dengan pengasuh Kiai Mustofa Bisri. Kiai Mustofa Bisri adalah putra dari Kiai Bisri Mustofa. Kiai Bisri Mustofa memiliki banyak karya berupa kitab yang bertulisan arab pegon dan kitab kuning.

Jika saya perhatikan, beberapa karangan Kiai Bisri Mustofa lebih banyak kepada tulisan Arab yang dimaknai dengan tulisan pegon. Yang paling terkenal karangannya adalah Kitab tafsir al-Ibriz lengkap mulai dari juz 1 hingga juz 30.

Kitab-kitab yang ditulis olehnya itu relatif tidak terlalu tebal, namun isi/pesannya sangat dalam. Secara keseluruhan, kitab yang ditulis berisi secara global. Artinya, tidak didetailkan secara gamblang. Poin pokok-pokoknya yang disampaikan.

Pembelajaran bagi saya adalah karya berupa kitab/buku sangat bermakna dan berumur panjang. Bayangkan, orangnya—penulisnya—sudah meninggal dunia, namun kitab tersebut masih digunakan.

Keproduktifan Kiai Bisri Mutofa perlu diajungi jempol. Saat saya di toko buku/kitab di jantung kota Rembang, saya berpesan kepada pegawai toko tersebut, agar mengumpulkan semua karya Kiai Bisri Mustofa. Alhasil, ternyata ada dua puluhan karyanya yang saya borong dari toko tersebut.

Saat membawa kitab-kitab tersebut pulang ke rumah, dalam hati berkata: “orang dari kota kecil ini memiliki karya yang luar biasa banyaknya dan masih digunakan hingga saat ini, walaupun yang bersangkutan sudah meninggal dunia”.

Artinya, Kiai Bisri Mustofa adalah orang yang sangat produktif dalam berkarya. Zaman dulu, tidak ada syarat apa pun untuk mempublikasikannya. Cukup bermodal niat, ilmu, dan bolpoin. Lalu, ditulis disebuah buku tulis. Tanpa harus memikirkan penerbit, ISBN, atau terindeks. Yang penting nulis dan produktif saja.

Nah, bagaimana saya dan Anda sudah menyiapkan masa tua dan masa kematian dengan beramal baik atau membuat sesuatu yang dapat diwariskan kepada sesama makhluk Allah. Tidak usah muluk-muluk dengan banyak karya, cukup satu saja, yang itu adalah bidang saya dan Anda geluti. Mari belajar dari produktivitas dari Kiai Bisri Mustofa atas karya-karya. [].

Semarang, 29 Juni 2020
Ditulis di Rumah Semarang, jam 5.30-5.45 WIB.

• Sunday, June 28th, 2020

Bersilaturahmi ke KH. Drs. Romadlon Syaban Zuhdi

Oleh Agung Kuswantoro

 

Saat pulang kampung ke rumah asal baik saya di Pemalang dan Istri di Rembang, hal yang selalu dan diupayakan dituju adalah bersilaturahmi ke guru. Di Pemalang, atas telpon yang saya terima agar bisa bersilaturahmi ke pondok pesantren Salafiah Kauman Pemalang dan bertemu dengan guru saya, yaitu KH. Drs. Romadlon Syaban Zuhdi. Guru saya dibidang ketauhidan. Ia sangat banyak menginspirasi saya dalam belajar agama. Enam tahun saya belajar dengannya. Beberapa kitab saya banyak berguru kepadanya, baik di kajian harian dan Madrasah Salafiah tingkat wustho dan ulya.

 

Merasa senang bisa bertatap muka secara langsung. Saya ditemui di ruang tamu rumahnya dan didampingi oleh istrinya, Ibu Nyai Iswatun. Saat pembicaraan, saya lebih cenderung berterima kasih atas ilmu-ilmu yang disampaikan dulu kepada saya. Saya merasakan manfaatnya hingga sekarang. Perjuangan dulu begitu terasa. Memang ilmu tak terkikis oleh waktu.

 

Selain, obrolan tentang ucapan terima kasih, saya juga mohon dukungan atas apa yang saya perjuangan di Semarang, yaitu Madrasah yang saya bentuk—Madrasah ‘Aqidatul ‘Awwam—dan rencana pembuatan Pondok Pesantren Mahasiswa di lingkungan saya sendiri.

 

Mengapa saya memprioritaskan “pembangunan” dari sisi keilmuan dengan membuat Madrasah dan Pondok Pesantren? Karena, pengalaman saya sendiri itu, yaitu ilmu dapat merubah segalanya. Khususnya, dengan ilmu semua menjadi lebih baik. Dari, gelap menuju terang. Dari, bodoh menuju pandai. Kurang lebih seperti itu.

Semoga pertemuan saya dengan KH. Drs. Romadlon Syaban Zuhdi menjadi berkah untuk saya dan keluarga dan menjadi penyemangat dalam berjuang di agama Allah. Hal ini pula, agar saya hidup menjadi imbang antara dunia dan ahkhirat. Jangan terlalu ngoyo dengan kehidupan dunia, karena masih ada kehidupan berikutnya. Nah, apakah Anda sudah menyiapkannya? Wallahu ‘alam.

 

Pemalang, 28 Juni 2020

Ditulis di rumah Mbah Yum, jam 05.15-05.30 WIB.

• Friday, June 26th, 2020

Mengajak Orang Terdekat Sholat Gerhana Matahari Cincin

Oleh Agung Kuswantoro

Tepat satu minggu yang lalu/21 Juni 2020—saya dan beberapa warga sekitar Masjid Nurul Iman Sekaran—melakukan sholat gerhana. Sholat gerhana yang jarang dilakukan dan jarang kejadiannya, kami mengambil moment/peristiwa tersebut untuk beribadah usai sholat Asar berjamaan dengan sholat gerhana, berdikir, dan memenangkan diri sejenak di Masjid.

 

Alhamdulillah, yang hadir ada Mbah Darman, Pak Bahrul, Mubin, Syafa, Ibu Wati, Ibu Yati, Umi Lu’lu’, dan saya sendiri. Kami melakukan sholat Asar, kemudian dilanjutkan dengan sholat gerhana sesuai dengan anjuran MUI/Majelis Ulama Indonesia dan Surat Edaran dari Kementerian Agama.

 

Saya memang merencanakan dan memprioritaskan, jika ada moment langka dengan cara beribadah. Syukur, bisa mengajak orang lain. Minimal, anak dan istri untuk bersama-sama beribadah. Syukur lagi, ada tetangga yang mau gabung beribadah. Saya melakukan hal ini, sebagai wajud syukur saya kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada saya dan beberapa orang terdekat.

 

Wujud syukurnya adalah dengan cara beribadah yang rajin. Mau apa lagi, jika tidak beribadah dengan baik dan berbuat baik kepada sesama? Sampai detik ini, kita masih hidup. Mana wujud syukurnya? Ada gerhana matahari, kita men-cuek-kan? Sederhananya, seperti itu.

 

Yuk, perkuat lingkungan kita—minimal keluarga—dengan rasa bersyukur kepada Allah melalui beribadah. Ajak suami, istri dan anak. Syukur, tetangga atau orang lain, mau beribadah dengan ajakan baik Anda. Kapan lagi, jika tidak sekarang? Bicara pekerjaan itu, tidak ada pernah selesai. Dan, bicara kesibukan itu, tidak pernah habisnya. Kurang lebih seperti itu, kata orang bijak. Wallahu ‘alam.

 

Pemalang, 27 Juni 2020

Ditulis di Pemalang, jam 05.10-05.20 WIB.

Keterangan: Gambar diambil usai sholat gerhana matahari. Mas Mubin sedang lihat gerhana matahari cincin.

• Friday, June 26th, 2020

Media HP

Oleh Agung Kuswantoro

Dalam belajar bersama dengan mbah Darman, ada hal yang susah dalam menyampaikan pesan (baca:materi sholawatan “tibbil qulub”) yaitu caranya. Mengingat, ia/mbah Darman belum/tidak bisa melihat. Saya memberikan tulisan, belum/tidak bisa membacanya. Orang lain yang membacakan tulisan saya.

 

Saya yang membacakan, juga punya kelemahan yaitu jeda, makhorijul huruf, pelafalan, dan tanda baca tetap berbeda, karena ia tidak melihat. Hanya mendengar. Sehingga, kekuatannya adalah menghafal dari apa yang didengar. Didengar bersumber dari siapa? Saya. Itu saat, saya dan dia belajar bersama. Pengulangan yang terus-menerus dalam pembelajaran atas materi—solawatan—yang disampaikan kepadanya.

 

Lalu, saya bertanya kepada dia. “Mbah Darman, Panjenengan apakah punya dan bawa HP?” langsung dia menjawab “Punya, dan saya bawa”. Saya pinjam HPnya yang bermerek Cina. Saya buka fiturnya, mencari program rekam/record.

 

Ketemulah, program rekam/record tersebut. Kemudian, saya merekam suara saya, sambil solawatan “tibbil qulub”. Saya mendampingi juga, cara memutarkan hasil rekaman suara saya. Alhamdulillah, dia bisa memutarkan hasil suara rekaman saya.

 

Usai sudah belajar bersama yang dilakukan rutin tiap hari bada/setelah sholat Subuh di Masjid Nurul Iman. Lima menit tiap hari dengan belajar sholawatan. Saya menikmati saja proses ini. Ketika dia pulang, saya perhatikan, sambil jalan dengan kekuatan tangan dan kakinya—ia bersolawat dengan dipandu suara hasil rekaman saya—menuju rumahnya.

 

Semoga berkah, apa yang telah saya dan dia lakukan. Pembelajaran buat saya juga, orang yang (maaf) buta saja, masih bersemangat untuk belajar. Bahkan, ia jalan kaki sendiri dari rumah. Namun, yakinlah Allah akan membukakan semua yang “gelap” baginya. Amin.

 

Ditulis di rumah Pemalang, 27 Juni 2020, jam 04.50 – 05.06 WIB.

• Monday, June 22nd, 2020

 

Belajar Sholawat “Tibbil Qulub”
Oleh Agung Kuswantoro

Sebelum mengerjakan tugas kuliah, saya ingin nulis “bebas” dari apa yang saya sudah saya lakukan. Jika tugas kuliah yang saya kerjakan itu identik dengan otak kiri. Namun, untuk tulisan “bebas” ini, identik dengan otak kanan.

Begini, Kamis pagi (18 Juni 2020), tepatnya usai sholat Subuh, Alhamdulillah saya punya kebiasaan berdiam diri di Masjid sambil membaca ayat-ayat al-Quran. Namun, pada hari ini, ada jamaah yaitu Mbah Darman—yang buta—meminta saya untuk menuliskan sholawatan “tibbil qulub”.

Ia/mbah Darman sering mengajak ke saya untuk belajar sholawatan. Yang sudah kami pelajari sholawatan diantaranya Allahul kafi robbunal kafi dan sifat wajib Allah 20.

Pada kesempatan itu, ada yang “aneh” bagi saya. Karena, ia meminta tulisan tangan saya terkait sholawatan “tibbil qulub”. Saya pun sudah menyiapkan bolpoin dan kertas yang sengaja saya bawa dari Rumah ke Masjid.

Dengan maksud tidak merendahkan niat baik dan saya izin bertanya kepadanya. Adapun pertanyaan saya kepadanya adalah “bagaimana, mbah Darman membaca atas tulisan saya?”

Ia menjawab: “anak saya, yang bernama Ida yang akan membacakannya”. Kemudian, ia meneruskan jawabannya: “Biasanya setelah dicatat, saya hafal dan paham akan yang ditulis”.

Jawaban yang spontanitas oleh mbah Darman, langsung saya mengaminkan dengan mencatat sholawatan tersebut.

Kemudian, saya meminta tolong ke mba Ida—anak mbah Darman—melalui Facebook-nya, agar tulisan saya untuk mbah Darman dibantu membacakannya. Mba Ida pun menyanggupinya.

Apa yang saya lakukan kepadanya adalah bentuk “ngaji” saya kepada Allah. Hasilnya, belajar atas ilmu-ilmu Allah. Rutin lima menit untuk belajar melafalkan sholawat yang fasih, benar, mengetahui hak-hak huruf, dan paham maknanya. Seperti itulah, cara saya dan mbah Darman belajar. Jadi, dalam bersolawatan tidak asal suara “banter”. Namun, mengajak pendengar/jamaah untuk hikmat “menikmati” akan yang dilafalakannya. []

Rembang, 20 Juni 2020
Ditulis di Rumah Mbah Uti, jam 04.40-04.55 WIB.

• Sunday, June 14th, 2020

 

Yang Me-lockdown Allah SWT
Oleh Agung Kuswantoro

Kisah sahabat Kahfi—yang sering dikenal dengan sebutan Ashabul Kahfi—menjadikan saya berpikir, bahwa Allah itu sudah menetapkan rizki seseorang dalam keadaan apapun. Yang membedakan saya dengan sahabat Kahfi adalah pasrahnya.

Saya bisa jadi, pasrahnya kurang totalitas kepada Allah. Sedangkan, sahabat Kahfi itu sangat totalitas. Allah menghendaki hidup sahabat Kahfi ter-lockdown di Gua dengan ditemani hewan anjing—yang bernama Kitmir—mampu bertahan hidup, hingga 309 tahun.

Cara Allah yang me-lockdwon, hamba-Nya di sebuah tempat yang tersembunyi dengan sinar matahari minim masuk ke ruangan itu, ternyata masih tetap bertahan hidup. Bertahun-tahun lagi. Allah menjamin segala kehidupannya. Termasuk, hewan/anjing yang menyertainya.

Allah mempermudah langkah sahabat Kahfi tersebut. Padahal, kondisi mereka/sahabat Kahfi dalam kondisi terpuruk. Yaitu, ditentang dan “diburu” oleh Raja/Pemerintahan yang berkuasa, waktu itu. Karena, mereka menolak ajaran yang disampaikan oleh Raja tersebut.

Mereka bukan ketakutan kepada Raja. Justru, mereka mencari perlindungan. Disinilah, Allah memberikan kasih sayang-Nya dengan menghidupkan mereka dengan posisi tidur selama 309 tahun. Bahasa saya, Allah sedang me-lockdown mereka.

Tujuan Allah me-lockdown mereka, karena Allah itu sayang kepada mereka. Mereka sudah mendekat kepada Allah. Masa Allah hanya diam? Itulah cara Allah menyelamatkan dan membahagiakan hambanya dengan cara me-lockdown di Gua.

Nah, bagaimana dengan saya dan Anda? Sudah siap di-lockdown oleh Allah? Sudah siap dengan segala kehidupan yang terjadi di bumi ini? Bumi yang beraneka “rasa” marah, bahagia, dendam, dengki, amarah, baik hati, dan segala perasaan lainnya? Adakah kehadiran Allah dalam kehidupan Anda di bumi? Walllahu ‘alam.

Semarang, 14 Juni 2020
Ditulis di Rumah, jam 08.30-08.45 Malam.