Archive for the Category ◊ Uncategorized ◊

• Wednesday, August 15th, 2018

GILIRAN SURABAYA
Oleh Agung Kuswantoro

Entah apa yang terpikirkan oleh saya. Dulu (2014) saya pernah menjadi Pemakalah di UNESA.

Waktu itu Dekannya adalah Prof. Bambang. Saat acara pembukaan, saya duduk di belakang.

Saya tidak begitu mengenal beliau.

Ternyata, skenario Tuhan berkata lain. Setelah saya presentasi di Surabaya, ada orang yang sangat tertarik dengan konsep E Arsip Pembelajaran.

Konsep tersebut, saya membuatnya dalam sebuah program.

Beliau membeli buku saya. Saya menuliskan pada alamat ditujuan dengan Bapak Bambang.

Tak terbesit sama sekali, bahwa Bapak Bambang yang saya tulis adalah Dekan UNESA saat acara seminar 4 tahun yang lalu.

Saat saya bertanya kepada Bapak Bambang, terkait dengan posisi beliau mengapa membeli buku saya tersebut, saat itu.

Beliau menyebutnya Praktisi Pendidikan. Dalam hati saya masih penasaran.

Karena, jarang pembeli buku saya untuk program E Arsip Pembelajaran adalah seorang pemerhati.

Ternyata, beliau adalah Bapak Dekan waktu yang pernah saya lihat.

Sekarang, saya dalam perjalanan ke Surabaya atas undangannya.

Saya pun membawa buku saya untuk belajar bersama.

Rencana, saya belajar dengan guru-guru administrasi perkantoran Surabaya.

Tempat belajarnya di SMK Negeri 1 Surabaya.

Mohon doanya, semoga lancar. Amin

Semarang, 10 Agustus 2018
Ditulis di bus dalam perjalanan ke Surabaya

• Wednesday, August 15th, 2018

MEMBIASAKAN ALQURAN DI SAMPING KITA
Oleh Agung Kuswantoro

Apakah di ruangan Anda sudah ada Alquran? Apakah di mobil Anda sudah Alquran? Atau, apakah di kamar Anda sudah Alquran?

Jika belum, belilah. Lalu, taruh Alquran tersebut di tempat yang paling atas. Tujuannya agar terlihat.

Sehingga, ia akan menyapa kita untuk membacanya.

Betul. Itu yang saya rasakan. Coba, Anda mempraktikkan sendiri.

Apa yang terjadi saat Anda melihat, kemudian membacanya? Jawabnya adalah ketenangan batin.

Kita dapat membaca di mana dan kapan pun. Mengapa? Alquran ada di samping kita. Alquran akan memberi ‘suppot’ dalam jiwa kita. Cobalah!

Sarang, 10 Agustus 2018

• Wednesday, August 15th, 2018

MENULISLAH
Oleh Agung Kuswantoro

Cara agar nama kita selalu dikenang adalah menulis. Menulis dari hal yang sederhana.

Menulis dari sesuatu yang Anda minati. Itu adalah yang termudah.

Suatu kebahagiaan bagi saya, saat ada orang mengapresiasi atas tulisan (baca:buku) saya.

Ia sampai minta surat keterangan, bahwa yang bersangkutan diizinkan untuk menggunakan program kearsipan yang saya buat.

Saya bangga tak terkira. Tulisan saya menjadi rujukan.

Sebaliknya, pernah dimaki atau dicemooh atas tulisan saya. Saya dianggap tidak tahu suatu konsep.

Ada orang yang memperlakukan seperti itu kepada saya. Saya hanya diam. Karena, dibalik makian/cemoohan ada juga, orang yang membela dan peduli saya.

Itulah tulisan. Sangat mengena dan mengenang. Oleh karenanya, mari menulis agar kita dikenang.

Menulis yang baik agar menjadi amal ibadah kita. Tabungan besok di Akhirat sebagai amal sholeh. Amin.

Lasem, 10 Agustus 2018
Ditulis di bus menuju Surabaya

• Wednesday, August 15th, 2018

Pembicara Tunggal


Oleh Agung Kuswantoro

Menjadi pembicara tunggal, dimana materinya berupa teori dan praktik itu bukanlah hal mudah. Saya harus menyiapkan segala keperluannya.

E Arsip Pembelajaran adalah karya saya dan Trisna Novi Ashari. Berhubung Trisna-sapaan Trisna Novi Ashari- tidak bisa menghadiri pada kegiatan hari ini (11/3/2018) di Surabaya. Maka, saya menyiapkan segalanya.

Dalam menyiapkan, mulai rencana hingga akan pelaksanaan itu harus detail. Misal, menyiapkan contoh surat, buku, pemberangkatan ke lokasi, edit file, dan persiapan yang lainnya.

Jika saya, bukan seorang yang bekerja di Pagi hingga Sore, mungkin hal ini tidak masalah. Namun, karena aktivitas di kampus yang padat, sehingga persiapan seperti di atas, mengalami kendala. Yaitu, waktu.

Namun, tidak masalah. Saya jalani saja. Di bus, saya membuka laptop untuk menyiapkan hingga mengedit. Saya atasi sedikit demi sedikit, permasalahannya.

Bawaan yang banyak, saya kurangi. Lalu, pemberangkatan lokasi pun saya berangkat agak pagi/gasik.

Ada pengalaman yang menarik saat saya berangkat ke Surabaya, karena persiapannya kurang. Sehingga, kurang konsentrasi di jalan. Apa itu? Kesasar. Kebetulan, tiba di Surabaya tengah malam. Jadi, rasa capek dan mengantuknya masih terasa, akibat macet panjang di Demak. Itulah pengalaman saya yang mengena saat menjadi pembicara tunggal.

Apa pun yang terjadi harus dijalani dan dinikmati. Yakin saja, ini adalah cara Allah akan memberikan suatu kemudahan bagi hambanya. Amin.

Surabaya, 11 Agustus 2018

• Wednesday, August 15th, 2018

Berbagi Dakwah


Oleh Agung Kuswantoro

Dakwah jangan sendiri. Prinsipnya, ingin masuk surga ajak orang lain. Jangan masuk surga itu sendirian. Mengapa? Agar orang baik di sekitar kita banyak.

Cara itulah yang saya gunakan yaitu berbagi dakwah. Saat ini, saya sedang menghidupkan lagi kajian “TPQ”.

Dulu, saya dan istri yang mengelolanya. Mulai yang menyiapkan tempat, menjadi guru ngaji, hingga membuat rapot-nya. Namun, karena ada sesuatu hal, saya tutup kajian tersebut.

Alhamdulillah, sekarang “hidup” lagi TPQ-nya. Berbekal pengalaman masa lalu, saya memakai strategi sebagaimana di atas. Yaitu, berbagi dakwah.

Saya mengidentifikasi semua kegagalan yang pernah saya lakukan dalam mengelola kajian. Salah satunya, adalah faktor kesiapan guru dan perhatian orang tua.

Dua point inilah yang saya tekankan dalam berbagi dakwah. Pertama, Kesiapan guru. Saya mengajak kepada mahasiswa untuk membantu mengelola kajian. Ada Maulana dan Bilardo. Alhamdulillah mereka siap untuk menjadi guru mengaji.

Kedua, Perhatian orang tua. Saya mengajak kepada orang tua/wali anak untuk juga berdakwah. Dengan cara apa? Meningkatkan perhatian kepada anak dan aktif dalam mengelola kajian. Aktif dalam mengelola kajian, seperti membuat struktur organisasi, menentukan arah/tujuan kajian.

Jadi, dalam penentuan tujuan kajian, orang tua/wali dilibatkan. Bukan dari saya saja. Cara termudah bagi saya yaitu mengharapkan mereka dalam komunitas/grup.

Dalam grup tersebut mendiskusikan tentang kendala. Mereka/orang tua aktif memberikan alternatif-alternatif solusi terkait permasalahan yang terjadi.

Saya sebagai pengelola, mengajak kepada mereka untuk “berbagi dakwah”. Itulah yang saya maksudkan berbagi dakwah, yaitu masuk surga secara ramai-ramai. Ajak Saudara, tetangga, dan orang-orang yang peduli/berjuang di agama Allah.

Semarang, 10 Agustus 2018

• Wednesday, August 15th, 2018

GHOIN, BUKAN GHIN
Oleh Agung Kuswantoro

Ghoiril Maghdubi alaihim. Saat saya belajar ayat ini dengan Jamaah, ada yang menarik.

Ada seorang Jamaah melafalkan dengan GHIRIL. Mendengar ucapannya seperti itu, kemudian saya mendampinginya dengan GHOIRIL.

Saya berpikir sejenak. Mengapa ada yang melafalkan seperti itu?

Tebakan saya, ada kebanyakan orang menganggap bahwa huruf Hijaiyah itu mati. Padahal, semua huruf hijaiyah itu hidup.

Misal, alif lammm mim. Tidak mengatakan. Alif. Lam. Dan, Mim.

Tetapi, disebutkan dengan jelas. Alif lammm Miimmmmmm.

Atau, Yasin. Dibaca Ya Siiin. Bukan, Yasin.

Senada dengan itu adalah GHOIN. Bukan, GHIN.

Membacanya pun harus hidup. GHOIRIL MAGDU. Bukan, GHIRIL MAGDU.

Ini pertanda huruf GHOIN itu hidup, bukan mati. Contoh yang mati adalah GHIN.

Sekarang, kita cari lagi huruf Hijaiyah yang serupa dengan itu. Lalu, praktikan cara membacanya. Coba apa? Lalu, seperti apa bacanya?

Waallahu ‘alam

Semarang, 13 Agustus 2018

• Wednesday, August 15th, 2018
AMIN
Oleh Agung Kuswantoro

Waladholliiin. Amin.

Itulah kalimat yang harus kita lafalkan setiap selesai mengucapkan surat Alfatihah.

Namun, apakah Anda memahami arti kalimat tersebut?

Berdasarkan guru saya mengaji, bahwa Amin memikili arti ISTAJIB DUANA. Yang bermakna, kabulkanlah doa kami.

Walaupun kalimatnya hanya satu yaitu Amin. Tetapi, artinya panjang.

Sehingga, saat ada orang berdoa, kita dianjurkan untuk melafalkan Amin.

Misal, imam berdoa. Lalu, kita mengamini. Bukan, sama-sama berdoa saat itu. Tetapi, mengamini.

Berbeda, saat kita berdoa sendiri. Setelah berdoa, kita akhiri dengan lafal Amin.

Sehingga, saat di daerah saya. Ketika, malam Jumat. Imam berdoa. Jamaah mengamini dengan lagu Jawa, seperti berikut:

Amin Ya Allah Robbal Alamin. Mugi-mugiyo disembadani. Panyuwun kula Allah dumateng Gusti. Allah Amin. Amin. Amin. Amin. Amin.

Itulah, makna Amin. Biasakan setiap ada Iman berdoa membaca Amin. Jangan diam. Atau, mbatin saja. Karena, Amin bisa mempercepat terkabulnya doa. Sebagaimana, makna Amin.

Wallahu ‘alam

Semarang, 14 Agustus 2018

• Wednesday, August 15th, 2018

Kuliah perdana di Pagi dan Siang. Sorenya, bekerjasama dengan orang tua santri membahas ngaji anak-anak di Masjid.

Kepada siapa lagi, kita akan mendapat doa saat kelak kita meninggal dunia? Kecuali dari anak kita. Yuk, ajak anak untuk mengaji sejak dini.

• Wednesday, August 15th, 2018
Terima kasih, Prof. Dr. Bambang Suratman, M.Pd.
Oleh Agung Kuswantoro

Saya mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Prof. Dr. Bambang Suratman, M.Pd. Beliau pernah menjabat Dekan FE UNESA periode tahun 2011-2014.

Perkenalan saya dimulai dari saya semenjak ada kegiatan di FE UNESA tahun2014. Berlanjut pada diskusi, khususnya kearsipan.

Sabtu (11/8/2018), saya diundang olehnya dalam acara pengabdian kepada masyarakat yang diketuainya.

Saya sebagai pembicara. Ia mengikuti jalannya pengabdian dari awal hingga akhir. Artinya, ia menyimak semua materi yang saya sampaikan.

Tak hanya itu. Ia pun mengantarkan saya hingga ke Stasiun. Luar biasa. Seorang, Profesor dan mantan Dekan mengantarkan saya hingga ke stasiun Pasar Turi.

Selama perjalanan, saya banyak berbicara tentang semangat belajarnya. Saya diberikan nasihat-nasihat yang sangat bermutu.

Ia sangat rendah diri. Seorang Profesor mau membaca buku saya dan mempelajarinya. Kemudian, mengajak dosen muda yang tergabung dalam tim pengabdian kepada masyarakat untuk berkarya.

Saya melihat sendiri. Dosen muda yang bergabung dengan tim yang diketui Prof. Bambang, dimana diarahkan mengenai trik dan strategi dalam menulis. Mereka/dosen muda sangat antusias.

Terima kasih, Prof. Bambang atas semuanya. Semoga saya bisa menirukan dan meneladani keakademikan, Bapak. Amin.

Ditulis di kereta api dalam perjalanan menuju Semarang dari Surabaya
11 Agustus 2018

• Friday, July 13th, 2018

Cara Mendefinisikan Konsep

Oleh Agung Kuswantoro

 

Konseptualisasi adalah proses pemberian definisi teoritis atau definisi konseptual pada sebuah konsep (Prasetyo dan Jannah; 2016:90)

 

Dalam mendefinisikan sebuah konsep, langkah yang termudah adalah membuat tabel yang isinya kolom-kolom. Tujuannya untuk menyederhanakan sebuah konsep. Sehingga dibutuhkan item-itemnya.

 

 

Lalu, apa saja itemnya?

 

Berikut item-itemnya, yaitu konsep, variabel, dan indikator. Misal, ada konsep pemanfaatan. Maka, variabelnya pemanfaatan kartu sehat. Sedangkan, indikatornya adalah pernah memanfaatkan kartu sehat dan frekuensi kartu sehat.

 

Contoh lagi, konsepnya pengetahuan responden. Maka, variabelnya tingkat pengetahuan responden tentang kartu sehat. Sedangkan indikatornya, yaitu pengetahuan tentang biaya untuk memperoleh kartu sehat, pengetahuan tentang jenis layanan untuk memperoleh kartu sehat, pengetahuan tentang pihak yang memperoleh kartu sehat, dan sebagainya.

 

Penjelasan di atas, saya sarikan dari Prasetyo dan Jannah (2016:91). Di dalam buku tersebut digambarkan dengan tabel-tabel yang lebih rinci, sehingga konsepnya mampu teridentifikasikan. Konsepnya mencair, kurang lebih seperti itu.

 

 

Sumber: Prasetyo, B dan Jannah , M.L. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Press.