• Friday, January 22nd, 2021

 

Belajar “Kesabaran” Seperti Nabi Ayyub
Oleh Agung Kuswantoro

“Dan ambillah seikat rumput, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baiknya hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya. (QS. Shad:44)

Pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia sudah kurang lebih 10 bulan. Hingga detik ini pun, masih berlangsung wabah ini. Belum ada pertanda pula pandemi ini, berakhir. Grafik orang yang terpapar corona masih tinggi, hingga pemerintah secara resmi sudah menetapkan perpanjangan PSBB/Pembatasan Sosial Berskala Besar Jawa-Bali hingga 8 Februari 2021.

Dalam kondisi seperti ini, mari kita belajar akan kesabaran Nabi Ayyub. Banyak para ahli mengatakan bahwa Nabi Ayyub adalah sosok teladan dalam menghadapi ujian. Al-Qur’an mengatakan suatu waktu Nabi Allah membanggakan kesalehan Nabi Ayyub dihadapan Iblis. Iblis menyebutnya, bahwa Nabi Allah selalu melindungi Nabi Ayyub.

Singkat cerita, Allah memberikan kekuasaan pada Iblis untuk menguji Nabi Ayyub. Setelah Allah mengizinkan Iblis untuk menguji Nabi Ayyub, datanglah kabar, bahwa sebagian hewan-hewan ternak Nabi Ayyub dijarah sekelompok orang dan sebagian lainnya tersambar petir.

Tak cukup berita kehilangan hewan ternaknya saja. Nabi Ayyub juga kehilangan putra-putranya. Meninggal dunia, karena terkena angin puting beliung di rumah saudaranya.

Ternyata, ujian yang menimpa Nabi Ayyub tidak sampai disitu. Nabi Ayyub menderita penyakit kulit yang parah dari kepala hingga kaki.

Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa Nabi Ayyub adalah orang yang pertama kali terkena penyakit cacar. Terkait lama sakit Nabi Ayyub, para ahli tafsir ada yang mengatakan 3 tahun, 4 tahun, dan 18 tahun. Saking lamanya, sakitnya, Nabi Ayyub diasingkan dari desa/pemukimannya. Orang-orang merasa “rishi” atau “jijik” dengan penyakit Nabi Ayyub.

Dimasa-masa sulit, kebanyakan orang-orang menjauhi Nabi Ayyub, namun masih ada istri yang masih setia mengurusnya. Adalah Rahma binti Efraim bin Yusuf bin Ya’kub.

Setelah menderita sakit yang cukup lama, Nabi Ayyub mengadu kepada Allah: “Sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang Penyayang (QS. al-Anbiya:83).

Suatu ketika, istri Nabi Ayyub sedang pergi, Allah mewahyukan kepada Nabi Ayyub “Wahai Ayyub, hentakkanlah/injakkanlah kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk air minum (QS. Shod:42). Nabi Ayyub pun mandi dan minum air tersebut. Akhirnya, Nabi Ayyub sehat seperti sedia kala.

Dari cerita di atas, ada beberapa hikmah
1. Bersabarlah seperti sabarnya Nabi Ayyub, meskipun dalam keadaan sakit.
2. Dalam menghadapi pandemi Covid-19, sabar menjadi salah satu “obat” agar hati bisa tertuju kepada Allah SWT.
3. Iblis pasti mengganggu manusia untuk berbuat kesalahan dan jauh dari Allah SWT, oleh karenanya, kita harus selalu ingat kepada kekuasaan Allah SWT.
4. Percayalah, Allah pasti akan membantu bagi orang-orang yang hatinya tertuju kepada Allah SWT.
5. Tidak ada manusia hidup di dunia, hidup tanpa suatu ujian.
6. Tidak semua orang yang terdekat itu menerima keadaan orang tersebut saat terjadi kesusahan atau tertimpa musibah (baca:penyakit).
7. Jadikanlah Allah sebagai penolong dalam setiap permasalahan.

Mari, optimis bahwa masa pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Sabarlah dalam berikhtiar. insyaAllah, Allah akan memberikan jalan kemudahan, sebagaimana yang dicontohnya oleh Nabi Ayyub. []

Semarang, 20 Januari 2021
Ditulis di Rumah, jam 20.00 -20.50 WIB.

Category: Uncategorized
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply