Author Archive

• Monday, April 29th, 2024

Berbahasa Menunjukkan Karakter Seseorang

Oleh Agung Kuswantoro

Berbahasalah dengan benar, karena bahasa yang benar menunjukkan tingkat keilmuan Anda. Berbahasalah dengan baik, karena bahasa yang baik menunjukkan kesantunan Anda. Oleh karenannya, jika perlu berbahasalah dengan benar dan baik, maka Anda termasuk orang yang berilmu dan berakhlak. Itulah pengalaman saya dalam berkomunikasi dan bersosial dengan seseorang.

Perkataan adalah wujud dari pikiran/akal. Perhatikanlah perkataan/kata yang diucapkan oleh seseorang. Lalu, ambillah posisi Anda dengan orang yang dihadapinya itu: “Apakah orang tersebut, termasuk baik?” Ataukah: “Orang orang tersebut, termasuk tidak baik?” Intinya: tahu diri terhadap orang yang dihadapinya.

Penilaian dari bahasa seseorang, bukanlah sesuatu yang mutlak. Masih ada penilaian-penilaian lain yang lebih valid. Ini hanya pengalaman saya saja, bisa jadi tidak/kurang tepat. []

Semarang, 28 April 2024/19 Syawal 1445 H.

Ditulis di Kolam Renang GKS jam 15.05- 15.20 Wib.

• Saturday, April 27th, 2024

“Penilaian” Bahasa
Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Ivan Lanin, salah satu pemerhati bahasa Indonesia. Saya mengenalnya melalui televisi dan beberapa di media sosial. Sebelum mengenalnya saya membaca buku yang dikarang/ditulis beliau berjudul “Recehan Bahasa:Buku Tak Mesti Kaku” (2020). Kesan yang saya dapatkan dari sosok Ivan Lanin adalah enerjik, praktis, lincah dengan IT, dan “taat”dengan bahasa.

Alhamdulillah atas izin Allah, kemarin (Rabu, 24 April 2024), saya dipertemukan dengan Ivan Lanin di UNNES dalam acara “Keterampilan Menulis Naskah Dinas yang Efektif”. Saya tidak mendapatkan undangan tersebut, namun tertarik mengikuti acara tersebut, karena ilmu dan pengalaman dari Ivan Lanin. Selain itu latar belakang pendidikan beliau, dimana seorang yang berlatar belakang pendidikan Teknik kimia, namun mampu menyajikan dan mempraktikkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ditambah beliau adalah lulusan S2 – Magister Teknologi Informasi. Namun, Ivan Lanin mampu menciptakan sistem thesaurus. Lagi-lagi, bahasa yang disajikan oleh Ivan Lanin. Bukan, teknik kimianya.

Cara bicara dan pengalamannya mampu “menyihir” pada peserta pelatihan. Disitulah, yang ingin saya gali. Orang teknik, bicara bahasa namun bisa secara tepat, cepat, dan benar. Saya sendiri tidak bisa. Usia beliau adalah 49 tahun, dimana Alhamdulillah masih sehat, energik, dan melek IT. Saya membayangkan diri saya seperti beliau, namun berbicara bidang administrasi perkantoran.

Terima kasih Pak Ivan Lanin atas “penilaian-penilaian” bahasa dalam praktik secara langsung. Saya sebagai pengajar administrasi perkantoran merasa “fakir” ilmu dari apa yang disampaikan Ivan Lanin. Dimana, ada mata kuliah/pelajaran: Korespondensi Bahasa Indonesia, yang kajiannya: membahas surat dinas, surat niaga, dan pribadi. “Rasanya” yang tadinya bahasa –menurut saya—bersifat implisit/tersirat, menjadi bersifat eksplisit/tersurat, setelah mendengarkan pemaparan Ivan Lanin. Bahasa menjadi kunci seseorang dalam menyampaikan pesan. Terlebih seorang pendidik atau lembaga dalam menuliskan sebuah surat, dimana pasti memakai bahasa yang baku (EYD).

Mari, perkuat bahasa kita, disitulah identitas kita yang sesungguhnya. Semakin buruk bahasa seseorang, maka semakin jelek identitas orang tersebut. Sebaliknya, semakin baik bahasa seseorang, maka semakin mulia identitas orang tersebut. Semoga kita termasuk yang kategori menggunakan/menulis dengan bahasa yang baik. Amin. []

Semarang, 25 April 2024/16 Syawal 1445. Ditulis di Gedung UPT Kearsipan lantai 2, jam 09.20 – 09.35 Wib.

• Friday, April 26th, 2024

Adminsitrasi Perkantoran Realistis dan Idealis
Oleh Agung Kuswantoro

Alhamdulillah telah selesai pelatihan bertema:”Adaptasi dan Menguatkan Administrasi Perkantoran Pada Masa Serba Digital”. Tiga hari, saya sebagai pemateri tunggal. Ada sekitar 300-an peserta yang mengikuti baik sevara zoom meeting atau live youtube.

Alhamdulillah peserta sangat antusias, terlihat dari: saat diskusi banyak yang bertanya; antar peserta saling menguatkan pendapatnya; mengirimkan refleksi hasil pelatihan ke saya, dan kegiatan pelatihan dijadikan status peserta di media sosialnya.

Pesan yang saya tangkap atas materi saya kepada peserta adalah administrasi perkantoran idealis itu ada pada “diri saya” atau “materi” yang saya sampaikan, sedangkan “realistis” atau “keadaan lapangan”.

Disinilah, letak diskusi menjadi menarik, dimana saya dan peserta berdiskusi mencari solusi yang tepat agar administrasi perkantoran tidak ketinggalan zaman dan tetap eksis. Administrasi perkantoran harus tetap “hidup” apa pun keadaannya, walaupun serba digital. Oleh karenanya, saya dan peserta harus saling menguatkan kompetensi-kompetensi administrasi perkantoran.

Saya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara kegiatan (e-Guru.id) yang telah mengajak saya untuk belajar dan berdiskusi bersama dengan “serumpun” administrasi perkantoran. Saya juga mengucapkan kepada para peserta dari Aceh hingga Papua atas partisipasi dan keaktifan seluruh pelatihan 3 hari, semoga apa yang telah didiskusikan dan dipelajari bisa memberikan manfaat untuk diri, masyarakat, dan bangsa ini. Amin. []

Semarang, 25 April 2024/16 Syawal 1445. Ditulis di Rumah, jam 04.55 – 05.00 Wib.

• Wednesday, April 24th, 2024

Om Sarif: Guru Sholat Jumat

Oleh Agung Kuswantoro

Adalah Om Sarif Hidayat, guru sholat Jumat saya. Ketika saya berusia 7 tahun hingga 10 tahun atau 11 tahun. Hampir tiap Jumat, saat usia tersebut, saya selalu sholat Jumat dengan beliau.

Tiap jam 11.00 Wib, saya datang ke rumahnya. Ketika saya datang, saya sudah bersih (sudah mandi, memakai baju muslim, dan berminyak wangi). Jarak antara rumah saya dengan Om Sarif itu, dekat. Hanya bersebelahan rumah saja.

Lalu, mengapa saya sholat Jumat bersama Om Sarif? Jawabannya: karena kondisi waktu tersebut, saya dalam posisi yatim. Ayah saya meninggal dunia, sebelum saya lahir. Berarti, posisi saya masih dalam kandungan ibu.

Dengan keadaan saya yatim, lalu laki-laki dewasa pada saat tersebut yang melakukan sholat Jumat, tertentu; salah satunya adalah Om Sarif. Dalam pengamatan saya waktu itu, bahwa lelaki dewasa dalam lingkungan saya, belum tentu melaksanakan ibadah sholat Jumat. Insya Allah pilihan saya bersama dengan Om Sarif itu, tepat. Kemudian, tingkat kerepotan Om Sarif, jika saya ikut sholat Jumat dengannya tidak begitu memberatkan.

Saya sendiri belum berani sholat Jumat sendiri, karena lokasi masjid Darussalam dengan rumah saya itu, menyeberang jalan raya. Dimana, setiap jam 11.00 Wib ramai orang pulang sekolah (SMP Negeri 1 Pemalang dan kompleks SD 1 hingga 6 selesai pembelajaran). Belum lagi, jam 11.00 Wib adalah jam istirahat oleh pekerja, sehingga jalan di depan rumah saya menuju masjid Darussalam itu, sangat ramai.

Bertahun-tahun/mungkin 5 tahunan, tiap Jumat saya selalu bersama beliau. Tepatnya, setelah usia 12 tahun, saya memutuskan untuk sholat Jumat menuju masjid, sendiri. Karena, kondisi saya yang sudah bertambah pengetahuan dan pendewasaan, seperti berani menyeberang jalan dan bisa mengatur keadaan di jalanan dari berangkat rumah menuju masjid Darusaalam hingga kembali pulang ke rumah lagi.

Om Sarif: orangnya sangat baik, sangat perhatian kepada anak yatim. Beliau termasuk orang yang dermawan, dimana menyisihkan sebagian harta untuk bersedekah kepada yang membutuhkan.

Sabtu malam (20 April 2024/11 Syawal 1445 H), saya mendapatkan kabar duka bahwa Om Sarif meninggal dunia/wafat. Mendengar kabar tersebut, langsung ingatan saya pada momen sholat Jumat ketika saya kecil. Pada Ahad (21 April 2024/12 Syawal 1445 H) subuh, saya pulang ke Pemalang untuk bertakziah. Alhamdulillah saya masih bisa mengaji dan tahlil langsung di depan jenazah Om Sarif. Air mata jatuh ke pipi saya pada saat tahlil yang saya bacakan. Amal baik berupa sholat Jumat dan sifat dermawan, itulah yang menjadikan saya kagum terhadap Almarhum. Lalu, ketulusan dalam berbuat baik, tanpa “embel-embel” meminta sesuatu saat berbuat baik. Allah-lah yang menentukan amalannya. Itulah pesan yang saya terima dari amal baik yang dilakukan Om Sarif.

Setelah jenazah dikafani, kiai/lebe/orang yang ahli dalam pengurusan jenazah mengatakan kepada saya (baca: mengutus) agar saya memimpin persaksian amal beliau dan mewakili keluarga terkait hutang-hutang dan ucapan terima kasih kepada para pentakziah, jika ada yang berkaitan dengan Almarhum dan keluarganya untuk disampaikan kepada ahli keluarga/ahli waris.

Melalui tulisan ini, saya hanya mengucapkan “Terima kasih, Om Sarif telah menjadi guru sholat Jumat terbaik dalam hidup saya ini”. Alhamdulillah, hingga kini saya masih sholat Jumat, semoga amal baik yang dulu hingga sekarang—berupa ajaran sholat Jumat—yang masih saya lakukan, menjadi ladang amal ibadah di alam kubur dan akhirat.

Terima kasih juga atas sifat dermawan yang diberikan kepada saya dan sifat pamrih/tulus atas apa yang telah diberikan. Semoga saya bisa belajar dari sifat mulia Om Sarif yang diajarkan kepada saya. Insya Allah, Surga yang didapatkan oleh Om Sarif. Alfatihah. Amin. [] Semarang, 14 Syawal 1445/23 April 2024. Ditulis di Rumah

• Monday, April 15th, 2024

Terima Kasih Masjid Darussalam Pelutan Pemalang

Oleh Agung Kuswantoro

Kemarin, saya menulis tentang Darussalam (Desa yang Damai), menjadikan saya teringat sesuatu waktu kecil, dimana ada sebuah Masjid Darussalam di desa Pelutan, Pemalang. Masjid yang biasa saya gunakan untuk sholat Jumat sekitar tahun 1989 hingga 2001 di Pemalang. Masjid tersebut adalah saksi saya belajar beribadah ke masjid. Masjid tersebut terletak di samping rel kereta api.

Ada kenangan tersendiri saat sholat Jumat di Masjid yang akhirnya berpindah lokasi, dimana ketika sholat, hampir dan sering (bisa dipastikan) ada jadwal kereta lewat. Jadi, suara imam atau khatib “kalah” dengan suara kereta api yang bersamaan lewat di Masjid.

Namanya juga anak-anak, saat posisi sujud, anak-anak ikut melambaikan tangan (baca: dada) ke masinis. Masinis pun ikut melambaikan tangan ke anak tersebut yang ada di dalam masjid.

Kenangan berikutnya adalah masjid tersebut banyak didukung oleh kalangan karena (mungkin) jumlah masjid dalam suatu desa itu, sedikit. Jadi setiap waktu sholat, kajian atau kegiatan keagamaan selalu melibatkan semua tokoh agama di sekitar desa tersebut.

Imam, khotib, dan pengisi kajian didatangkan dari perwakilan desa yang pastinya memiliki kapasitas keilmuan masing-masing. Yang saya ingat dalam masjid tersebut menghadirkan muadzin yang bernama Ustad Wahidin (belakang rumah saya, Pelutan), Kiai Kastolani (rumahnya, Pagaran Pelutan sebagai khotib), Kiai Abdullah Sidiq sebagai imam yang rumahnya dari Kebondalem dan beliau pengasuh pondok pesantren Salafiyah Kauman, Pemalang; dan beberapa kiai lainnya yang terlibat dalam acara keagamaan. Artinya, masjid tersebut “didukung” oleh banyak tokoh masyarakat. Jadi, saya belajar secara langsung dengan tokoh-tokoh Masyarakat yang ahli dalam bidang agama tersebut.

Sekarang, masjid tersebut sudah berpindah tempat yang lebih representatif dimana sudah menjauh beberapa meter dari rel kereta api. Masjid tersebut berpindah tempat ke permukiman warga. Tidak terlalu jauh dengan lokasi lama, namun lebih dekat ke kampung.

Saya kurang tahu, alasan mengapa pindah. Mungkin jawabannya adalah karena menjauh dari rel kereta api agar anak-anak saat sujud sholat, lalu kereta api datang tidak melambaikan tangan (baca: dada). Nah, ini jawaban guyonan saja. Mungkin tepatnya, sholatnya agar lebih khusyuk dan bisa fokus mendengarkan suara khotib. Suara khotib “tidak tarung” dengan suara kereta api yang lewat.

Demikianlah ingatan saya, terkait masjid Darussalam, Pelutan, Pemalang. Terima kasih atas kesempatan diberikan tempat untuk beribadah. Semoga para muadzin, imam, khotib, dan pengisi pengajian di masjid tersebut yang sudah meninggal dunia:  Ustad Wahidin, Kiai Kastolani, Kiai Abdullah Sidiq, dan kiai-kiai lainnya mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Surga adalah tempat kembali mereka. Alfatihah.

Terima kasih atas semuanya, Alhamdulillah.

Ditulis di Sulang, Rembang

4 Syawal 1445 H/ 13 April 2024 jam 04.55 – 05.04 Wib.       

• Thursday, April 11th, 2024

Negeri yang Damai

Oleh Agung Kuswantoro

Negeri yang damai adalah impian setiap manusia. Terlebih saat sekarang, di tengah ramainya beda pendapat antar satu manusia dengan manusia lainnya. Beda pendapat, itu tidak masalah. Yang penting, jangan sampai berselisih. Itulah pesan yang disampaikan oleh khotib sholat Id di Alun-alun kota Pemalang.

Menarik yang disampaikan oleh khotib, dimana mengibaratkan Darussalam (baca: negeri kedamaian) yang diidamba oleh umat. Jangan ada sampai terjadi perpecahan antar umat, walaupun beda pendapat. Jika mulai terjadi perpecahan dalam suatu tempat, maka bersiaplah untuk hancur tempat tersebut karena didalamnya terjadi: saling mengejek, saling menghina, dan saling-saling dari perbuatan baik.

Adalah takwa, iman, dan islam adalah modal yang harus didapatkan agar seseorang memiliki rasa damai. Damailah mulai dari sendiri karena ketakwaan, keimanan, dan keislaman. Lalu, damailah dalam suatu tempat yang bernama negeri yang damai. Tanpa ada rasa takwa, iman, dan islam akan sulit terwujud negeri yang damai.

Hal yang terpenting lagi adalah toleransi atau saling menghargai antar sesama. Toleransi dimaknai sebagai penghormatan atas sikap seseorang yang berbeda. Perbedaan harus dihargai agar tempat tersebut menjadi lebih baik. Jika seseorang bisa melakukan toleransi, maka Darussalam atau negeri yang damai akan mudah terwujud. Semoga tempat kita yang kita tinggali memiliki karakter untuk mewujudkan Darussalam. Amin. [].

Ditulis di Sulang, Rembang, 11 April 2024/2 Syawal 1445 jam 12.00-12.10 Wib.  

• Monday, April 08th, 2024

Khatam Ngaji Kitab Washoya Aba Lil Abna

Oleh Agung Kuswantoro

Alhamdulillah atas izin dan rahmat Allah Swt bahwa ngaji yang dilakukan oleh saya, istri dan kedua anak saya bisa khatam (baca: selesai) pada tanggal 27 Ramadan 1445/7 April 2024. Kami memulai ngaji pada tanggal 1 Ramadan 1445/12 Maret 2024 usai solat subuh. Kita rutin tiap subuh membaca bab demi bab. Mulai dari judul pertama dalam kitab tersebut adalah Ibu hingga judul terakhirnya adalah cita-cita.

Setelah membaca kitab ini, kami menjadi paham “nilai-nilai” yang harus dilakukan oleh seorang guru, bapak, ibu, saudara, teman, dan anak pada keadaan/situasi tertentu. Misal: anak yang tidak suka kucing, bukan berarti harus menyiksanya. Justru, kucing yang disiksa itulah yang menyelamatkan anak dari bahaya ular yang masuk ke kamar anak tersebut. Lalu, perlunya percaya diri dalam menyampaikan cita-cita, dimana: cita-cita yang baik tidak cukup sukses dunia saja, tetapi juga berguna bagi agamanya. Demikian juga, anak perempuan dalam bicara sebaiknya pelan. Jangan keras dalam bicara atau seakan-akan bicaranya “membentak” kepada orang lain (termasuk dengan Ibunya). Kemudian, mendidik anak agar disiplin dalam menaruh sepatu dan sandal sesuai dengan tempatnya. Dan, masih banyak lagi “nilai-nilai” yang ada dalam kitab setebal 47 halaman berbahasa jawa alus dengan huruf arab pegon.

Terima kasih penulis kitab bersampul coklat tersebut yaitu Kiai Bisyri Mustofa, Rembang. Semoga kitab yang “syarat” dengan akhlak luhur ini, bisa memberikan manfaat dan faidah kepada para pembaca. Mari kita budayakan baca buku/kitab dalam bulan Ramadan agar tambah ilmu agama kita. Alhamdulillah dengan disiplin waktu untuk membaca, anak saya yang awalnya tidak menyangka bisa khatam, nyatanya bisa khatam kitab yang diterbitkan oleh Menara Kudus tersebut. Terima kasih Ramadan 1445 yang telah mempertemukan kami dengan kitab sederhana yang didalamnya terdapat gambar sesuai dengan masing-masing judul. []

Ditulis di Rumah Pemalang jam 14.00-14.10 Wib, tanggal 28 Ramadan 1445/8 April 2024.

• Sunday, April 07th, 2024

Tak Lupa Buka Kitab
Oleh Agung Kuswantoro

Saat mudik ke Pemalang, hal yang tidak terlupakan saat di rumah adalah membuka kitab. Sekadar bernostalgia 24 tahun yang lalu dengan membaca kitab Adzakar (Nawawi). Kitab yang saya pelajari pada tahun 2000. Dulu kajian kitab tersebut diampu oleh KH Romadlon SZ. Beberapa kajian kitab yang saya ikuti diampu oleh KH Romadlon SZ. Sekarang, KH Romadlon SZ adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Kauman Pemalang.

Dengan membaca kitab ini, menjadikan saya lebih bersyukur agar tetap menjadi manusia pembelajar. Terlebih, belajar agama dimana guru menjadi faktor penting dalam kemanfaatan dan keberkahan suatu ilmu. Oleh karenanya, ada istilah “sanad keilmuan” dalam mempelajari sebuah ilmu. Artinya: dalam belajar harus bersumber yang valid. Sederhananya, jika belajar suatu ilmu agama tanpa sumber yang jelas, maka bisa dikatakan kurang “ampuh”, misal bersumber dari internet.

Itulah rasa syukur saya yang perlu dijaga yaitu menjaga suatu ilmu dengan membacanya. Pentingnya, nostalgia membaca kitab meskipun sudah 24 tahun lalu, namun batin saya kepada KH Romadlon SZ masih kuat, minimal dengan kirim doa dan membaca surat Al-Fatihah sebelum membaca kitab tersebut. Batin seorang santri kepada Kiai harus menyatu, meskipun tidak mengaji tiap hari sebagaimana dua dekade yang lalu. Semoga guru tauhid saya diberikan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan dalam hidup. Terima kasih, KH Romadlon SZ atas segala ilmu yang diberikan kepada santri. Insya Allah sangat bermanfaat untuk diri saya dan masyarakat.

Pemalang, 7 April 2024/27 Ramadan 1445, jam 15.00-15.10 Wib.

• Friday, March 01st, 2024

Menulis Buku Bagi Mahasiswa
Oleh Agung Kuswantoro

Saya lebih senang mahasiswa menulis. Terlebih saat dosen sedang menerangkan materi. Entah kenapa pilihan saya pada menulis, karena seorang siswa (baca: mahasiswa juga) harus dekat dengan budaya menulis. Sehingga, bisa dikaitkan mahasiswa itu, menulis. Modal menulis adalah membaca. Menurut pakar, dengan menulis akan menambah/meningkatkan daya ingat. Mahasiswa pun “dituntut” agar “mempertahankan” daya ingat tatas materi yang disampaikan oleh dosen.

Satu mahasiswa, satu buku tulis. Itulah, yang sering saya gunakan “strategi” agar mahasiswa mau menulis. Beberapa kali saya menyampaikan materi tiap pertemuan, setelah itu mahasiswa “mengikat” pesan dari setiap materi/pertemuan dengan sebuah tulisan. Tulisan berupa refleksi atas materi tersebut.

Setelah beberapa kali saya membaca tulisan mahasiswa, bahwa terkesan meresume atau memindahkan dari apa yang saya sampaikan ke buku tulis. Artinya: tidak ada uraian ataupun komentar atas materi apa yang disampaikan. Mungkin alangkah baiknya dari apa yang telah disampaikan oleh dosen, lalu diperkuat dengan sebuah bacaan/artikel/buku atau bacaan lainnya. Lalu, olah informasi tersebut dari bacaan tersebut dengan materi yang telah diberikan oleh dosen. Sehingga, akan menemukan sebuah “komentar/kekurangan/kelebihan atau sesuatu yang lain dari hasil bacaan atau renungan yang dilakukan oleh mahasiswa.

Jangan lupa, tulis judulnya dari ulasan/tulisan mahasiswa. Karena judul mewakili keseluruhan dari inti tulisan mahasiswa. Misal: Dosen menyampaikan materi tentang data dan informasi. Kemudian mahasiswa menuliskan tentang data palsu/informasi palsu/hoax. Pastinya, mahasiswa tersebut telah membaca konsep data dan konsep palsu, sehingga “berani” membuat judul tulisannya “Data Palsu”. Nah, kurang lebih caranya seperti itu.

“Asupan” bacaan mahasiswa agar lebih mengolah dengan baik sebuah tulisan, maka dibutuhkan minimal 10 buku atau 10 bacaan lainnya agar mahasiswa mampu “mengolah” atau “menganalisis dengan tajam”. Oleh karenanya, apa yang disampaikan oleh dosen, Insya Allah akan lebih memahaminya. Bahkan, mampu menambahkan sebuah informasi tambahan karena mahasiswa sudah “banyak” membaca sumber rujukan/referensi.

Dengan cara seperti ini, insya Allah mahasiswa mampu menulis sebuah buku. Ketika saya mahasiswa pernah mempraktikkan ini. Berikut bukunya: https://ebooks.gramedia.com/id/buku/catatan-harian-mahasiswa-doktoral-manajemen-kependidikan

Selamat mencoba!

Semarang, 29 Februari 2024/18 Syaban 1445 H
Ditulis di Gedung UPT Kearsipan lantai 2. jam 09.07 – 09.27 Wib.

• Tuesday, February 27th, 2024

Praktik penyusutan arsip di unit Kantor Pelayanan Pengadaan (KPP) dan bagian Akuntansi. Semoga tahun ini, bisa menyusutkan arsip dengan lancar. Amin.